Makhluk Bumi, Berhati Langit

ad+1


“Siapkan ruang kekecewaan dalam diri” begitu katanya, “karena, pahamilah, kita hidup di dunia sebagai manusia, pun berhadapan dengan manusia juga. Maka ingatlah satu kepastian ini; masing-masing dari manusia memiliki potensi kesalahan yang sama”

Seringkali kita tidak sadar, entah karena enggan sadar atau terbuai dengan fantasi dari apa yang kita lihat di media sosial atau sekadar bacaan, bahwa segalanya akan baik-baik saja dan pasti berakhir indah.

Memang, kita diminta untuk mengakhiri perjalanan hidup di dunia dengan akhir yang paling indah, ya atau diminta untuk terlihat baik-baik saja. Namun, jangan menggunakan alasan itu untuk menutupi bahwa ada yang sakit tapi tak berdarah, ada yang bengkak tapi tak terlihat, ada yang bernanah tapi tak tercium busuknya, ya hati kita.

Berapa banyak yang berbicara soal hati, tapi hanya didasari soal kepuasan tentang mencintai seseorang. Jika mencintai namun tak memiliki, dibilang tak perlulah harus memiliki untuk mencintai kalau memang begitu takdirnya.

Maka hadirlah manusia yang akal pikirannya dipenuhi halusinasi, dan jika mencintai lalu memiliki akan menjadi perbincangan paling hangat dua puluh empat jam, di kamar-kamar offline dan online kita hari ini.

Lalu bagaimana dengan kekecewaan? adakah ia pernah hangat untuk kita bahas bersama secangkir teh hangat dan udara segar di pagi hari? atau ia memang harus dipendam di tengah gulitanya malam, hingga waktunya tiba, ia membesar dan berujung tuduhan karena sakit yang terlalu ditahan.

Sadarilah, kita makhluk bumi. Diberi nama manusia. Dan kita tidak sendiri. Ada beratus, berjuta, bahkan bermiliar di dunia ini yang juga disebut manusia. Maka, jangan pernah merasa seakan, kitalah manusia paling sakit, lalu melimpahkan rasa sakit itu dengan menunjuk manusia lain sebagai penyebabnya, bisa jadi kitalah juga sumber rasa sakit itu.

Maka, wahai makhluk bumi yang disebut manusia. Hiduplah sebagai makhluk bumi yang berhati langit.

Saat bumi memang hakikatnya sebagai tempat yang dipijak, kadang ditindas, kadang dihinakan, kadang tidak dihargai, kadang dirusak begitu mudahnya, maka jadikan hati kita sebagai langit.

Luas, merdeka, bebas, dengan sabar tak bertepi, dengan maaf tak berujung, dengan harap yang meninggi naik ke atas. Kita serahkan urusan dengan makhluk bumi yang bernama manusia, kepada pemiliknya langsung, cukup buat kita, hidup menunduk patuh, dan mengharap pasrah.

0 Comments: