Kisah Ibrahim, Hajar dan Ismail: Tentang Cinta, Keikhlasan dan Pengorbanan

ad+1

by. Ziada Hilmi Hanifah

Bermula dari kisah Ibrahim alaihissalam meninggalkan Hajar dan Ismail alaihissalam ditengah lautan padang pasir Makkah yang panas. Angin yang begitu kencang menerpa, terik panas matahari dan debu-debu berterbangan seolah menjadi bumbu perjalanan mereka yang menyejarah.

Semua kepedihan tak mampu lagi dirasa. Karena bagi mereka, cukuplah Allah yang akan menemani dan melindungi setiap langkah kaki, mencukupi udara yang mereka hirup, dan menjaga detak jantung mereka. 

Rasa cemas dan sedih dalam hati Hajar kian menyeruak ketika Ibrahim akan meninggalkan mereka di Makkah sendirian, untuk kembali ke Palestina. Kembali kepada Sarah dan Ishak alayhissalam di Palestina. Dipegangnya erat-erat baju Ibrahim, agar tak meninggalkannya. Ibrahim, dengan kelembutan hatinya, kefasihan lidahnya dan kuat azzamnya, mengatakan kepada Hajar yang ia cintai

Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu.”

Seketika hati Hajar meleleh mendengar nasihat dan perkataan lelaki yang ia cintai. Ia melepaskan genggaman tangannya dari baju Ibrahim. Hajar paham, bahwa suatu saat semua manusia bisa saja meninggalkan dirinya seorang diri, tapi tidak dengan Allah.

Saat kesendirian, justru Hajar semakin meyakini bahwa Rahmat Allah sangatlah luas dan Allah selalu membersamai dan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya. Lebih dari apapun.

Ibrahim melangkah pergi, meninggalkan jejak di kota Makkah. Jejak yang akan menyejarah dan menjadi pelajaran bagi umat muslim yang kelak ditinggalkan. Keberatan hatinya untuk meninggalkan Hajar, apalah guna, jika ada Allah yang senantiasa melindungi dan tak akan menelantarkan Hajar beserta anak tercintanya, Ismail alaihissalam. Dalam perjalanan pulang, Ibrahim tak henti berdoa kepada Allah, untuk kebaikan Hajar dan Ismail.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturuanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Ibrahim telah pergi. Tangisan Ismail memecah kesunyian padang pasir, sementara Hajar kebingungan karena persediaan air sudah habis. Hajar rela berlari bolak-balik tujuh kali dari safa ke marwa.

Sungguh, Hajar sudah dalam keadaan kecewa dan pasrah, jika tanpa rahmat dan pertolongan dari-Nya. Kemudian, Hajar bertemu dengan malaikat Jibril. Hajar mengikuti langkah Jibril, hingga tiba disuatu tempat. Pijakan kaki Jibril yang kuat mengeluarkan air yang begitu jernih. “Zamzam…” berkumpullah, begitu ucap Jibril.

Air jernih keluar dan terus mengalir hingga mengundang kedatangan burung-burung, dan juga orang-orang suku juhtum. Hingga, mereka menetap di sekitar sumber air zamzam. Hajar kembali senang, karena Ismail tidak kehausan dan banyak orang-orang membersamainya di padang pasir yang begitu luas itu.

Setelah sekian lama Ibrahim meninggalkan Ismail, begitu hebat rasa rindu yang menyeruak dalam dada Ibrahim. Akhirnya Ibrahim kembali mengunjungi tempat dimana ia meninggalkan istri dan anaknya, yaitu Makkah. Ujian cinta dan keikhlasan yang menghampiri Ibrahim, tidak selesai pada kisah itu saja. Sampai pada puncak heroik, yaitu ketika Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya.

Bagaimana mungkin, anak yang begitu ia cintai, sekian lama ia nantikan kedatangannya, dan sekian lama ia tinggalkan ditempat yang asing, kemudian bertemu kembali, lalu disuruh untuk menyembelihnya? Tentu perasaan sedih dan bingung begitu menyeruak dalam hati seorang Ibrahim.

Dengan mantap Ismail berkata pada Ibrahim:

Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikatku kuat kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkan darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika ibuku melihatnya, ketiga tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaaan dan rasa pendihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.

Begitu hebat ketaatan remaja Ismail kepada Allah subhanahuwata’ala. Seolah berpesan kepada kita bahwa sesulit, sepedih dan seberat apapun ujian yang diberikan Allah, tetap harus dilaksanakan. Karena tak ada lagi perintah yang dinomor satukan, selain perintah langsung dari Allah. Syahdan, Ibrahim segera melaksanakan perintah Allah tersebut.

Perlahan Ibrahim membaringkan tubuh kecil Ismail yang dicintainya. Diikatnya kedua tangan dan kaki Ismail. Diasah parang yang akan digunakan untuk menyembelih. Nanar tatapan Ibrahim kepada Ismail. Air mata menggenangi kelopak matanya.

Rasa cinta Ibrahim kepada Ismail hendak dikorbankan demi rasa cintanya kepada Allah. Ibrahim tak kuasa menahan perasaannya. Semakin ia tatap wajah Ismail, semakin ia tak mau untuk menyembelihnya. 

Kemudian Ismail berkata, “Ayah, telungkupkanlah badanku, agar wajahku tak terlihat, sehingga tak menambah kepedihanmu menyembelihku.” Ibrahim kemudian menelungkupkan tubuh Ismail. Dan kemudian Allah menurunkan firman-Nya, dan menggantikan Ismail dengan hewan sembelihan kurban.

Sungguh dari kisah keluarga Ibrahim alaihissalam lah, kita pertama kali diajarkan tentang cinta, keihlasan dan pengorbanan yang sebenarnya. Cinta Ibrahim yang diuji dengan perjalanan jauh, berpisah dengan istri dan anaknya yang ia cintai.

Keikhlasan Hajar yang ditinggalkan Ibrahim di tempat asing. Serta pengorbanan yang luar biasa Ismail yang taat dan patuh kepada perintah Allah dan sang ayah untuk disembelih. Dari mereka, kita belajar makna ketaatan luar biasa seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Menjadikan rasa cinta kepada Allah melebih rasa cinta kepada apapun dan siapapun. Keikhlasan yang menemani perjalanan Hajar dalam menjemput rahmat dan keridhoan Allah. Dan pengorbanan yang luar biasa telah ditunjukkan oleh Ibrahim dan Ismail. Pengorbanan terhadap orang yang ia cintai, agar cintanya tak melebihi perintah sang Illahi. 

Dari kisah mereka kita belajar, bahwa cinta, keikhlasan dan pengorbanan yang sejati adalah hanya untuk ketaatan kepada Allah subhanahuwata’ala. Dan saat ini kita akan diuji dalam hal cinta, keikhlasan dan pengorbanan dengan melaksanakan ibadah Kurban. Selamat berkurban, selamat Idul Adha 1441 H. Semoga ibadah kurban kita hanya kita persembahkan kepada Allah subhanahuwata’ala.

2 comments: Leave Your Comments