Empat Tahap Dasar Dalam Perbuatan Menurut Mead

ad+1


George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebutkan bahwa sosiologi terbagi atas dua periodisasi. Pertama, sosiologi klasik yang membahas tentang latar belakang munculnya sosiologi beserta lima tokoh pemrakarsanya, yaitu Comte, Durkheim, Weber, Marx, dan Simmel. Kedua, sosiologi modern dan postmodern yang terbagi atas beberapa teori fundamentalnya, seperti fungsionalosme strukturalisme, interaksionisme simbolik, teori kritis, dan lain sebagainya.

Jika di era sosiologi klasik, kelima tokoh memiliki beberapa teori yang berbeda beda. Maka di era sosiologi modern, masing-masing tokohnya akan diklasifilasi berdasarkan teori yang dianutnya. Hal ini tidak terkecuali dengan tokoh-tokoh yang menganut interaksionisme simbolik. Di dalam aliran ini ada Mead, Blummer, Cooley, dan Goofman yang sama-sama mengulik perihal interaksionisme simbolik, namun dengan penjabaran yang berbeda.

Pada dasarnya, interaksionisme simbolik memuat interaksi atau hubungan antara individu satu dengan yang lainnya. Selain itu, dalam interaksi juga memuat simbol guna menarik suatu respon dari lawan aktor. Simbol dalam interaksi bukan hanya verbal, melainkan nonverbal.

Namun, ada hal unik dari salah satu tokoh interaksionisme simbolik yang terkenal akan psikologi sosialnya. Ia adalah George Hebert Mead. Sosiolog kelahiran Massachusetts ini berusaha mengkaji interaksi masyarakat dari sudut pandang psikologi.

Jika dalam psikologi, terutama psikologi Freud, maka diri individu adalah dasar dalam kajiannya. Namun, Mead menyatakan bahwa masyarakatlah yang mendahului interaksi maupun segala bentuk tindakan individu. Dalam hal ini masyarakat adalah kunci interaksi, bukan individu.

Lebih jelasnya, kita perlu mengupas unit paling inti dari teori Mead, yaitu perbuatan. Menurut Mead, perbuatan sangat erat kaitannya dengan respon yang ada dalam interaksi. Maka dari itu, dalam memahami perbuatan, perlu lebih dulu mengenal empat tahapannya, yaitu implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi.

Implus adalah tahap pertama dalam perbuatan. Ia diibaratkan seperti keinginan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, rasa lapar adalah implus. Aktor akan merespon implus itu tanpa perlu berpikir rasa apakah yang ia alami. Menurut Mead, hal ini terjadi karena individu telah berkaca pada masyarakat umumnya bahwa ini adalah rasa lapar.

Jika kita telaah lebih lanjut, implus yang dimalsudkan Mead hampir sama dengan apa yang dimalsud Freud tentang id. Mereka, baik implus atau id, sama-sama memiliki maksud "keinginan atau nafsu". Bedanya, jika id berasal dari individu, maka implus diketahui dari diri individu yang berkaca dari masyarakat.

Tahap kedua adalah persepsi. Di tahap ini aktor berusaha mencari cara untuk memuaskan keinginan (implus). Jika pada psikologi Freud, tahapan ini dinamakan dengan ego. Namun, yang membedakan keduanya adalah sumbernya, yaitu individu dan masyarakat.

Tahap ketiga adalah manipulasi. Tahapan yang mana aktor akan menimbang-nimbang persepsi yang cocok atas beberapa pilihan. Sehingga, tahapan ini juga disebut dengan fase jeda. Artinya, aktor akan mempertimbangkan respon atau tindakan apa yang sesuai dengan keinginannya.

Tahap terakhir adalah konsumasi. Tahapan ini aktor telah mengambil putusan yang menurutnya tepat untuk memenuhi keinginannya. Kalau menurut Freud, tahap manipulasi dan konsumasi bisa dijadikan satu dengan istilah superego. Namun, Mead lebih memilih untuk memisah tahapan itu ke dalam dua tahapan.

Secara general, antara -id, ego, superego- Freud dengan -implus, persepsi, manipulasi, dan konsumasi- Mead memiliki makna yang sama. Hanya saja, Freud lebih condong pada konsep diri yang akrab dikenal dengan sebutan psikologi. Sedangkan, Mead lebih condong pada tindakan individu yang didapatkan dari masyarakat, psikologi sosial.

0 Comments: