MENYIMAK PERJALANAN TAARE ZAMEEN PAR



Karena mereka bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Cara berpikir yang unik, dan tidak semua orang mengerti cara mereka. Mereka menentang. Namun mereka muncul sebagai pemenang, dan dunia takjub dibuatnya. 

Ishaan Nandkishore Awasthi, anak laki-laki berumur 9 tahun. Anak yang sering dianggap sebagai anak nakal, bodoh, idiot, tidak bisa diam, dsb. Berasal dari keluarga yang mampu dan utuh, mungkin membuat siapapun melihat bahwa dia tidak kekurangan apapun.

Namun, ternyata ada hal yang tidak bisa ia dapatkan saat itu. Keadaannya berbanding terbalik dengan Yohan, kakaknya yang menjadi pelajar sukses dalam studi maupun bidang olahraga. Ayahnya yang berkepribadian keras, bahkan tak pernah sekalipun melihat sisi baik dari Ishaan. Namun, Ibu Ishaan selalu sabar mengajarkan banyak hal padanya.

Dia bahkan mengorbankan karir demi memiliki banyak waktu untuk membimbing putranya, berharap mereka dapat menjadi sosok yang sukses suatu saat. 

Duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, Ishaan masih saja belum bisa membaca dan menulis dengan baik dan benar. Dialah satu-satunya anak yang tidak bisa membedakan antara huruf-huruf atau bahkan kata yang hampir sama---b dengan d, f dengan t, top dengan pot, soil dengan soiled.

Dialah satu-satunya yang membayangkan akan membawa planet bumi ke planet pluto untuk dihancurkan, itulah cara dia menjawab soal matematika dari hasil perkalian 3x9. Imajinasi yang begitu kuat, namun dari sanalah ia mendapatkan masalah. Dia juga tak pernah benar-benar paham akan perintah yang disampaikan gurunya.

“I said, open page 38 paragraph 3! Read the first sentence and mantion the adjective” perintah gurunya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ya, Ishaan hanya terdiam.

Justru ia menjelaskan bahwa huruf demi huruf yang berbaris di halaman buku tampak menari, dan ia tak bisa membacanya. Hal itu membuat guru di kelas menjadi marah, dan menghukumnya untuk keluar dari kelas sembari menunggu pembelajarannya selesai. 

Beberapa kali, hingga tak ada hari tanpa keluar kelas. Membuat anak itu---Ishaan sedih dan merasa tak ada gunanya ia duduk di kelas. Pun, dia memilih untuk meninggalkan kelas dan mengelilingi kota seorang diri (bolos). Berfikir bahwa dengan begitu ia akan lebih tenang.

Mengamati banyak hal dengan bebas dan tak seorang pun akan mengomelinya hanya karena ia tak bisa membaca dengan benar. Dia mulai berjalan seorang diri, menyusuri setiap jalan yang ia temui, hingga menaiki bus agar sampai ke sekolah tepat saat waktu pulang sekolah. Sampai di rumah, semua terlihat baik-baik saja. Hingga saat malam tiba, ia mulai gelisah.

Takut jika ia nanti akan mendapat omelan dari sang Ayah. Meminta bantuan pada kakaknya menjadi pilihan terakhirnya, agar menuliskan surat ketidakhadirannya hari ini. Karena sangat menyayangi adiknya, ia pun menuliskannya walau sempat menolak permohonan Ishaan. 

Beberapa hari berlalu, hingga ayah Ishaan pulang dari perjalanan kantornya dari Mumbai. Seperti biasa ia akan duduk di ruang keluarga dan memulai membaca koran saat hari libur. Tanpa sadar, ia menemukan sebuah surat saat akan mengambil surat kabar dari tempatnya. Surat yang berisikan ketidakhadiran Ishaan di kelas karena demam, yang pada kenyataannya tentu tidak benar.

Kalian bisa bayangkan, saat itu juga Ishaan dimarahi besar-besaran. Ia menangis tersedu-tersedu, dan ia hanya bisa diam. Namun, kejujuran selalu ada di pelupuk matanya. Berbicara apa adanya---sebagaimana anak seusianya atas apa yang ia lakukan kemarin, kemudian berlari ke kamar dan membisu. 

Tidak disangka, pihak sekolah menelepon kedua orang tua Ishaan beberapa hari setelah kejadian bolos itu. Kepala sekolah memberitahukan segalanya, termasuk kemampuan Ishaan yang dianggap tidak dapat ditoleransi lagi untuk bisa naik kelas. Hal ini tentu memperburuk keadaan, membuat Ishaan akhirnya dipindahkan ke sekolah asrama. Pada awalnya ia memberontak, tak ingin jauh dari Ibu maupun kakaknya.

Tetapi, keputusan yang sudah bulat itu tak dapat dirubah kembali. Di pihak lain, Ishaan menganggap bahwa sekolah di asrama merupakan hukuman orang tua terhadap anak yang nakal dan tidak mau menurut. Anggapan ini tampak lebih jelas dengan gaya dan sikap mengajar guru di sekolah tersebut yang cenderung lebih keras dengan dalih untuk menegakkan kedisiplinan. 

Suasana kelas dan asrama yang tidak menyenangkan membuat Ishaan semakin frustasi, semua guru menyebutnya bodoh dan seringkali menghukumnya dengan keras. Keadaan ini membuatnya semakin tertekan dan menjadi pendiam dan selalu menyendiri.

Selain itu, Ishaan menjadi takut ketika bertemu dengan guru bahkan tidak bersemangat saat pelajaran melukis berlangsung. Keadaan ini terus berlangsung hingga seorang guru pendatang tiba di sekolah asrama tersebut. 

Dialah Ram Shankar Nikumbh, guru kesenian yang diperankan oleh Amir Khan. Dia berperan sebagai sosok guru yang begitu unik, dan memiliki kepribadian kuat. Berbeda dengan guru-guru lain yang sangat disiplin dan kaku, ia justru memperkenalkan dirinya dengan kostum badut dan bernyanyi saat memasuki kelas.

Menghidupkan kelas dengan canda dan tawa, juga lirik lagu disertai tarian yang menyenangkan. Melihat semua muridnya tersenyum, membuat tuan Ram ikut bahagia. Namun disisi lain, ia menemukan salah satu dari sekian murid di kelasnya yang terdiam dan hanya menunduk hingga nyanyiannya usai.

Ya, dialah Ishaan kita. Keanehan inilah yang menggugah hati Tuan Ram untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Ishaan. Hingga suatu ketika, ia mencari semua buku tulis Ishaan dan mencoba mencari kesalahan apa yang dilakukannya hingga para guru menyebutnya bodoh. Dengan penuh rasa penasaran, akhirnya ia mendapatkan kesimpulan. 

Itu adalah penyakit Disleksia, gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat, sebagaimana yang dialami oleh Ishaan.

Walaupun seorang anak mengalami gangguan ini, itu tidak berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan mereka. Seperti halnya Ishaan, yang sebenarnya memiliki kecerdasan yang tinggi dan bakat melukis yang luar biasa. 

Oleh sebab itu, Tuan Ram mulai meyakinkan semua guru bahkan kedua orang tua Ishaan tentang keadaannya. Ia bukanlah anak idiot atau abnormal, tetapi anak spesial dengan bakat alami yang membutuhkan perhatian dan cara pengajaran khusus.

Dengan waktu, kesabaran dan keyakinan yang besar, Nikumbh berhasil mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Ia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah yang selama ini menakuti dirinya. Ishaan mulai percaya pada dirinya, mulai berani bicara dan menjawab, sekaligus mulai melukis kembali. Ia mulai bisa membaca, menulis, berhitung, tanpa harus khawatir dengan imajinasi yang tak terkendali. 

Film ini diakhiri dengan dengan lomba melukis yang diadakan Tuan Ram Nikumbh untuk seluruh murid juga guru yang ada di sekolah tersebut. Semua mengikuti tanpa ada perbedaan, mereka menikmati suasana lomba tanpa merasa terkekang oleh batasan imajinasi.

Ishaan akhirnya membuktikan bahwa dia pantas diakui keberadaannya dengan memenangkan peringkat pertama dalam lomba ini. Dengan statement bahwa muridlah yang mengalahkan guru, lukisan Ishaan pun menjadi sampul buku tahunan sekolah. Dengan lukisan Tuan Ram Nikumbh di baliknya, yang merupakan lukisan wajah Ishaan, yang membuat buku itu menjadi begitu berarti saat orang tua Ishaan menerimanya.

Kata yang bisa terucap hanyalah terimakasih, yang mereka tunjukkan pada guru terbaik putranya yaitu Tuan Ram. Penyesalan karena seringkali mengabaikan sisi baik Ishaan telah tertancap dalam benak mereka. 

Film dengan judul Taare Zameen Par ini mengajarkan kita bahwa setiap anak adalah spesial dengan keunikan dan impian mereka masing-masing. Oleh sebab itu, jangan pernah memaksa harus seperti apa mereka, atau harus menjadi apa mereka suatu saat nanti.

Ijinkan mereka untuk hidup sebagai diri mereka sendiri dengan potensi dan keunikannya, serta hargailah apapun usaha yang mereka lakukan. Maka meraka akan tumbuh dan berkembang dengan menjadi anak yang cerdas dan luar biasa versi mereka. Sebegai orang tua, bukan tugas kita untuk terus menekan kekurangan yang dimiliki seorang anak.

Melainkan meyakinkan anak bahwa ia memiliki kelebihan yang dikaruniakan Tuhan padanya, untuk menyambut masa depan miliknya. Orang tua juga tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan seorang anak dengan anak yang lain sebagaimana yang dilakukan ayah Ishaan.

Mewujudkan cinta orang tua pada anak adalah dengan memantau tumbuh kembangnya, selalu meyakinkan dia akan kemampuan yang dimilikinya, memberikan reward padanya saat ia berhasil, dan selalu ada untuknya di saat apapun. Hal ini adalah beberapa dari apa yang bisa orang dewasa lakukan. 

Post a Comment

0 Comments