Paulo Freire: Tipologi Kesadaran Mahasiswa



Sudah lama sekali sejak politik balas budi oleh Belanda, pendidikan formal (dalam naungan instansi) di Indonesia terus berkembang. Bahkan sekarang ini tidak ada batasan untuk seseorang untuk mendapatkan pendidikan. Namun, perlu diketahui bahwa pendidikan di kampus misal, tidak akan lepas dari kesadaran mahasiswanya dalam kegiatan pembelajaran.

Menurut Nur Sayyid Santoso Kristeva dalam bukunya, Manivesto Wacana Kiri, ia menyebutkan bahwa seorang pendidik asal Brazil, Paulo Freire telah mengkategorikan kesadaran menjadi tiga macam. Kesadaran ini antara lain, yaitu kesadaran magis (magical conciousness), kesadaran naif (naival conciousness), dan kesadaran kritis (critical conciousness). Ketiga kesadaran ini oleh Freire dikaitkan dengan sistem pendidikan yang telah berkembang hingga sekarang.

Pertama, kesadaran magis (magical conciousness) sama halnya dengan ketidakberdayaan. Kesadaran ini membuat mahasiswa buta akan sesuatu di luar dirinya. Jika boleh mengambil istilah dari Karl Marx, ini sama halnya dengan kesadaran palsu.

Mahasiswa dalam kesadaran magis adalah mahasiswa yang secara dogmatik menerima segala sesuatu yang diberikan dosen kepadanya. Mereka tidak mencoba untuk bertanya atau mengkritisi setiap materi yang diberikan dosen kepadanya. Meskipun terkadang materi ataupun tugas yang diberikan dosen itu memberatkan dan terkesan memaksa.

Mahasiswa yang seperti ini biasanya dikekang dengan sesuatu yang magis bagi mahasiswa, seperti nilai yang mengikatnya misalnya. Mereka takut seandainya melawan, akan berdampak terhadap pengurangan nilainya. Sehingga mereka mengesampingkan ketertekanannya dan memilih untuk tunduk pada apa yang ditugaskan dosen kepadanya.

Kedua, kesadaran naif (naival conciousness) adalah kesadaran yang menjadikan mahasiswa sebagai akar penyebab masalahnya sendiri. Mereka berpikir bahwa segala baik buruknya keadaan kampus adalah salah mahasiswa sendiri. Mereka memungkiri bahwa ada faktor luar yang dapat mempengaruhinya.

Hal tersebut dialami oleh mahasiswa yang terlalu keras akan dirinya sendiri. Perihal mengerti atau tidak mengerti dalam pembelajaran itu tergantung dirinya sendiri. Mereka selalu postitive thinking, atau terkesan naif, bahwa sebenarnya bisa saja materi yang disampaikan dosen itu memang tidak terkonsep.

Terakhir, kesadaran kritis (critical conciousness) adalah kesadaran mahasiswa yang mampu melihat struktur dan sistem sabagai sumber masalah. Tidak hanya itu, mereka mampu mengidentifikasi bahwa selain dirinya sendiri, ada banyak hal yang mengebabkan masalah dalam pembelajaran. Di sini mereka dituntun bukan untuk dpat mengetahui letak masalah, tetapi juga cara mengkritisi masalahnya.

Mahasiswa yang semacam ini tentu saj tidak akan tinggal diam ketika mereka merasa ada yang janggal dari pembelajaran yang berlangsung. Mereka akan bertanya terhadap sesuatu yang tidak mereka mengerti. Bahkan, mahasiswa yang kritis tidak akan tinggal diam jika dosen memberikan tugas yang tidak wajar.

Menjadi mahasiswa yang kritis memang harus berani. Bukan hanya berani bertindak kritis terhadap ketidak adilan, tetapi juga berani terhadap resiko yang akan diambilnya. Berbeda dengan mahasiswa dengan kesadaran magis, yang menjadikan nilai sebagai suatu hal yang ditakuti, mahasiswa kritis menjadikan keadilan sebagai hal yang fundamental. Apa pun yang mengekang ruang gerak keadilan akan ditindaknya.

Selain keberanian, perlu untuk mengenal dan paham sesuatu yang akan dikritisi. Berani mengkritisi memang baik, tetapi akan terlihat nol besar jika tidak tahu apa yang dikritisi. Mereka perlu untuk berpikir dulu sebelum bertindak. Jangan sampai pekerjaan yang cerdas akan menjadi bodoh hanya karena kosong isi.

Mengingat tipologi kesadaran mahasiswa dari Friere, memang telah seharusnya mahasiswa itu bersikap kritis. Namun, siapa yang bisa mengontrol kesdaran setiap mahasiswa jika bukan mereka sendiri. Perlu juga untuk saling mengingatkan akan ketidakadilan dan bertindak untuk itu pula.

Post a Comment

0 Comments