Karena Puisi Itu Indah



"Bukan cinta yang salah, kita hanya harus mengalah"

Akan kau temui kalimat itu ketika halaman pertama buku Karena puisi itu indah Jilid II kau buka. Jujur saja, aku suka membaca puisi dalam laman dunia maya atau buku kumpulan puisi. 

Namun, seringkali aku memiliki rasa khawatir ketika membaca bait-bait puisi yang tertuang. Karena acapkali yang pertama kali hadir di benak adalah puisi yang identik dengan diksi yang tak mudah untuk diterjemahkan begitu saja.

Namun lain halnya dengan buku kumpulan puisi karya Mbak Tia Setiawati yang beberapa hari belakangan menjadi temanku melewati malam. Tulisannya yang begitu apa adanya, tulus dan mengalir begitu saja, membuatku tak berhenti mengangguk setuju. 

Puisi-puisinya mampu menyentuh sudut relung hati hingga tak jarang ada hujan di pelupuk mata. Singkat kata, kau tak perlu bersusah-susah menerka apa makna yang ingin disampaikan. Kau hanya perlu membacanya dan tak lama hatimu akan paham dan mampu untuk merasakannya.

Ada satu puisi yang begitu kusukai dalam buku ini. Dan kebetulan ketika aku membacanya, lagu Pamit dari Tulus sedang berputar. Entah semakin bercampur saja segala rasanya.

Bukan Selamat Tinggal Selamanya
Kita adalah dua orang manusia penuh cinta.
Entah sebagai teman atau apa pun yang ditakdirkan Tuhan
Kita pernah melalui berbagai macam persoalan.

Ketidaknyamanan atas kehadiran orang lain dalam masing-masing hidup kita.
Ataupun kepergian salah satunya.
Mereka pernah memengaruhi bahtera hidup kita..

Dan ketika ada takdir Tuhan berbicara pada pertengahan cerita kita,
bukankah kita memang sudah seharusnya untuk menerima?

Perpisahan ini,
entah untuk yang keberapa kali
Semoga bukan selamat tinggal seperti yang sudah kita jalani.

Karena aku lebih memilih untuk berkata "sampai jumpa lagi"
daripada "selamat tinggal selamanya"

Berjanjilah untuk baik-baik saja.
Karena mungkin untuk sementara,
aku akan tak ada tepat di tempatmu berada..

Banyak, bahkan hampir seluruh puisi dalam buku Karenapuisiituindah Jilid II ini begitu menggugah hatiku. Mungkin karena kisah yang bergulir pada baitnya pernah kurasakan namun tak pernah berhasil kuutarakan dengan sempurna.

"Mencintai diam-diam itu seperti menggenggam sebuah bom waktu" begitu kiranya penggalan bait puisi “Maka Aku Akan Tersenyum Saja” yang akan kau dapati jika kau membuka halaman 153. Dan ada satu lagi puisi yang kusukai, judulnya "Percayalah, Itu Aku" .

Ah, tak akan kuberitahukan kau seluruh puisi dalam buku Karenapuisiituindah Jilid II ini. Ada baiknya kau membacanya sendiri agar mampu meresapi setiap kata yang bergulir di dalamnya. Jangan lupa siapkan tisu ketika membaca buku ini, hanya untuk jaga-jaga jikalau ada airmata yang hadir meski tak kau inginkan. 

Dan memang benar, buku ini ditujukan untuk mereka yang berani melepaskan, karena percaya takdir Tuhan selalu Mahabaik dibanding segala hal. Mbak Tia, I adore you, sangat!

Bila kau belum memilikinya, kau harus segera memesannya, sungguh! Karena, bukan hanya bait yang mengguggah saja yang akan kau dapati. Tapi ada banyak pesan yang hadir menemani. 

Segalanya dirangkum dengan amat sederhana, sesederhana cinta yang hadir pada setiap hela nafasmu. Sesederhana cinta yang melandasi terciptanya buku ini. 

Dan untukmu yang baru saja memesan bukunya atau baru akan membacanya, kuucapkan selamat berlayar dan tenggelam bersama buku ini, tapi ingat untuk kembali :)

Post a Comment

0 Comments