Belajar Kiri dari Manifesto Wacana Kiri

ad+1



Gaung Kiri telah mengudara lebih dulu di Barat. Mulanya mereka yang berhaluan Kiri tidak pernah menyebut diri mereka sebagai pihak kiri. Sebutan itu dilontarkan oleh mereka yang menjadi lawannya, Kanan.

Disebut Kiri bukan berarti mereka yang selalu membelot terhadap segala bentuk aturan. Tetapi mereka adalah pihak yang kritis dan cenderung tidak mengikuti alur begitu saja. Selain itu, mereka juga berusaha untuk selalu transformatif.

Premis tersebut sama seperti yang ditulis Santoso Kristeva dalam bukunya yang berjudul Manifesto Wacana Kiri. Buku ini mulanya adalah sebuah skipsinya yang disusun menjadi sebuah buku. Sama seperti judulnya, buku ini berisi berbagai wacana kiri yang mana merupakan kumpulan tulisan-tulisan kiri.

Manifesto Wacana Kiri oleh penulisnya dibagi menjadi duabelas bagian, yaitu diskursus sejarah ketertindasan masyarakat Indonesia, sejarah pemikiran negara, demokrasi Indonesia, materi dasar ke-PMII-an, ideologi gender, feminisme, dan sejarah gerakan perempuan, pendidikan kaum tertindas, Islam dan teologi pembebasan progresif, pemikiran Hegel, Marx, Gramsci, dan Habermas.

Teori pembangunan dunia ketiga, ideologi kapitalisme dan developmentalisme, globalisasi dan sejarah ekonomi internasional, serta analisi sosial dan strategi gerakan sosial.

Pertama, diskursus sejarah ketertindasan masyarakat Indonesia yang sebagian besar memuat sejarah Indonesia dari pembentukan negara hingga revolusi. Sama halnya dengan sejarah yang dipelajari di buku-buku sejarah lainnya, penulis menyusunnya sesuai dengan periodisasi. 

Namun, yang menjadi ciri dari bagian ini adalah penulisan sejarah yang cenderung pro-komunisme. Bahkan penulis secara gamblang menyebut bahwa sejarah Indonesia mengenai komunisme telah dikaburkan.

Inilah yang sekarang telah diamini oleh orang awam bahwa komunisme adalah suatu kejahatan dan harus diberangus.

Kedua, sejarah pemikiran negara yang memuat tentang terbentuknya negara beserta dengan perundang-undangannya. Penulis tidak terlalu menjelaskan secara detail terkait negara.

Ia hanya mencantumkan bagaimana pembentukan negara menurut para filsuf. Selebihnya hanya membahas tentang perundang-undangan dari pembentukannya sampai amandemen UUD 1945 yang sekarang ini.

Ketiga, demokrasi Indonesia yang membahas tentang pengertian, sejarah, dan perkembangannya. Tidak ada pembahasan lebih selain itu. Detail pembahasan hanya seputar demokrasi yang pernah diterapkan di Indonesia. 

Simpulan penulis di bagian ini adalah bahwa Indonesia sampai sekarang masih mencari demokrasi yang sesuai dengannya.

Keempat, materi dasar ke-PMII-an yang tentunya berisi seputar gerakan mahasiswa dan penjabaran tentang PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Tidak heran mengapa penulis mencantumkan PMII, melihat latar belakang penulis adalah seorang aktivis PMII. Namun, bagian menariknya adalah penulis mampu bersikap netral terhadap gerakan mahasiswa lain di luar PMII dalam tulisannya ini.

Sesuai dengan judul bagian, pembahasan tentang PMII ditulis secara rinci oleh penulis. Tentu saja dimulai dari sejarah terbentuknya PMII, nilai dasar pergerakan, dan aswaja.

Tidak ketinggalan pula paradigma yang menjadi ciri khas dari gerakan ini, yaitu paradigma kritis transformatif.

Kelima, ideologi gender, feminisme, dan sejarah gerakan perempuan. Sama seperti judul bagiannya, secara keseluruhan dari bagian ini memuat tentang gerakan perempuan.

Jika dibandingkan dengan buku Feminist Thought-nya Rosemerie Putnam Tong memang ada pembahasan yang kurang detail.

Namun, dalam buku ini dijabarkan bagaimana paham feminisme ini sampai ke Indonesia bahkan sampai terbentuknya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Dan yang menarik adalah bahwa Gerwani ini dipelopori oleh PKI.

Keenam, pendidikan kaum tertindas. Berbicara tentang pendidikan kiri tentunya tidak terlepas dari pencetusnya, Paulo Freire. Penulis mulanya membahas tentang Freire dahulu, sebelum pada akhirnya membahas tentang buah pemikirannya.

Dari catatan penulis, ia menyebutkan bahwa pendidikan transformatif ala Freire ini adalah salah satu upaya untuk melenyapkan dehumanisasi yang terjadi di era modern ini.

Ketujuh, Islam dan teologi pembebasan progresif yang memuat berbagai macam Islam dan pemikirnya. Penulis menyebutkan bahwa terdapat berbagai macam Islam di Indonesia, yaitu Islam tradisional, modernis, neomodernis, fundamentalis, liberal, kiri, dan alternatif.

Selain itu, ia juga menjabarkan tentang Ali Syariati dengan humanism Islamnya, Asghar Ali Engineer dengan elemen pembebasan dalam Quran-nya, dan Hasan Hanafi dengan Islam Kiri-nya.

Kedelapan, pemikiran Hegel, Marx, Gramsci, dan Habermas. Keempat tokoh inilah yang oleh penulis dijadikan sebagai ikon Kiri. Mulanya ia menjabarkan Hegel dengan segala pemikirannya yang akan dikritisi oleh muridnya, Marx. 

Kemudian Marx mengembangkan pemikiran itu dan nantinya akan dikritisi juga oleh pengikutnya, Habermas dan Gramsci. Penjelasannya memang tidak sedetail apa yang dituliskan George Ritzer dalam bukunya, Teori Sosiologi, namun pemaparan penulis cukup gamblang.

Kesembilan, teori pembangunan dunia ketiga. Setelah perang dunia dua berakhir, bibit-bibit negara dunia ketiga atau negara jajahan telah bermunculan. Kemunculannya bukan tanpa alasan, namun negara dunia pertama atau negara adikuasa telah kehilangan modal yang cukup besar. 

Sehingga, mereka mulai menjalankan ekspansi ke negara-negara yang kaya akan sumber daya dan bahan baku untuk kepentingannya sendiri.

Kesepuluh, ideologi kapitalisme dan developmentalisme yang memuat sejarah kapitalisme hingga munculnya developmentalisme. Pembahasan ini tentunya tidak terlepas dari pemikiran ekonomi klasik dari Adam Smith, kritik dari Karl Marx, dan hegemoni-nya Anthonio Gramsci.

Kemudian penulis mengakhiri pembahasan di bagian ini dengan kemunculan developmentalisme atau teori pembangunan beserta dampaknya terhadap perekonomian dunia dan negara.

Kesebelas, globalisasi dan sejarah ekonomi internasional. Seperti judul bukunya, pembahasan globalisasi di bagian ini menampilkan kritik mendasar tentang globalisasi. Apalagi perihal ekonomi internasional yang telah berevolusi menjadi neoliberal.

Jelas saja pembahasannya lebih ditonjolkan ke dampak negatifnya dari pada ke positifnya. Pembahasan ini juga masih ada sangkut-pautnya dengan bagian sebelumnya, yaitu negara dunia ketiga dan ideologi kapitalisme.

Terakhir, analisi sosial dan strategi gerakan sosial. Oleh penulis bagian ini dibuat kolom kategori yang memudahkan pembaca dalam penggolongan analisis sosial dan strategi gerakan sosial.

Meskipun pembahasannya tidak mendetail seperti bagian-bagaian sebelumnya, namun sudah cukup membantu untuk mengenali apa itu analisis sosial dan bagaimana strategi yang digunakan dalam gerakan sosial.

Dari duabelas pembagian pembahasan tersebut, kiranya telah membantu pembaca dalam memahami wacana-wacana kiri. Meskipun ada berbagai pembahasan yang diulang-ulang, namun ini tidak akan membuat pembaca bingung untuk memahami maksud dari pembahasan.

Buku ini cocok buat penggemar wacana kiri, meskipun isinya tidak melulu perihal kiri atau bisa dibilang kiri yang tidak ekstrem.

Keterangan:
Judul buku : Manifesto Wacana Kiri
Penulis : Nur Sayyid Santoso Kristeva
Penerbit : Pustaka Pelajar
Kota terbit : Yogyakarta, 2015
Tebal buku : xxxii + 722 hlm.
ISBN : 978-602-229-484-9

0 Comments: