TRADISI NGALAP BERKAH DI MAKAM GUNUNG KEMUKUS

ad+1




Indonesia memiliki banyak obyek wisata yang menarik perhatian wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan berbagai wisata yang beraneka ragam, menjadikan negeri ini kaya dengan tradisi dan kebudayaan.

Salah satu objek wisata yang diminati oleh wisatawan ialah gunung Kemukus. Gunung ini terletak di desa Pendem, kecamatan Sumberlawang, kabupaten Sragen. 

Di komplek gunung ini, terdapat makam pangeran Samudera. Konon, makam ini dikeramatkan oleh penduduk sekitar, hingga menarik para wisatawan untuk berbondong-bondong datang berziarah. Bila ditelisik dari segi historis, ada banyak versi mengenai asal-usul pangeran Samudera.

Mitos pertama, pangeran Samudera merupakan salah satu anak dari Raja Majapahit yang berguru ke Demak, kemudian disuruh menyebarkan Islam di daerah Sumberlawang, sekitar daerah gunung Kemukus. Tidak lama berdakwah, ia meninggal karena sakit. 

Pangeran Samudra memerintahkan salah satu abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Seusai mendengar amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Dan ketika abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat, pangeran Samudera telah meninggal.

Selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudera dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut (baca: http://pariwisata.sragenkab.go.id).

Mitos kedua, Pangeran Samudera merupakan putra Raja Majapahit yang dikisahkan berselingkuh dengan ibu tirinya (Dewi Ontrowulan). Karena ketahuan, Raja mengusirnya dari istana. Di perjalanan, ia jatuh sakit, kemudian abdinya melaporkan kejadian tersebut kepada ayahnya.

Dengan hati yang masih terluka, ayahnya tidak mau menjenguknya, sehingga ia memerintahkan Dewi Ontrowulan untuk menjenguknya.

Sampai dipuncak gunung kemukus, pangeran sudah wafat. Melihat kejadian ini, sang Dewi tak kuasa membendung kesedihannya, kemudian jatuh sakit dan meninggal di tempat itu.

Menurut kabar yang beredar, makam pangeran Samudera satu liang lahat dengan Dewi Ontrowulan (baca: Moh. Soehada: 2013)

Masyarakat Jawa memiliki asumsi bila makam merupakan benda yang disakralkan. Mereka mempercayai, bila arwah orang shalih pada hakikatnya masih berada dalam makam. Ada hubungan kontak bathin antara arwah dan peziyarah. Sehingga, makam orang shalih digunakan sebagai wasilah untuk mendapatkan keberkahan.

Biasanya, peziarah berbondong-bondong ke makam gunung Kemukus pada hari selasa pon atau malam jum’at pon. Mereka meyakini mitos yang beredar, bila siapa saja yang mendatangi makam pangeran Samudera dalam keadaan niatan suci, kemantapan hati, dan konsentrasi, maka, pangeran Samudera akan mengabulkannya. Hal ini sesuai yang disampaikan oleh warga sekitar, 

Ada anggapan dari mitos masyarakat, arwah pangeran Samudera pernah mendatangi ulama’ setempat, yakni Haji Muhtadad dan Haji Mujahid, dan mengatakan bila siapa saja yang datang kepadaku (berziarah) dengan niatan bersih, layaknya seperti keinginannya kepada seorang kekasih, maka ia akan mengabulkan permintaannya." (Moh. Soehadha: 2013)

Berbagai ritual dilakukan oleh warga sekitar di area makam pangeran Samudera (komplek gunung Kemukus). Biasanya, mereka mengadakan upacara di hari-hari besar Islam, diantaranya pada bulan muharam (suronan).

Ritual yang digelar ialah larap slambu dan wayang kulit. Larap slambu merupakan ritual membersihkan kain pembungkus makam. Kain yang kotor akan diganti dengan yang baru. Ritual ini dengan maksud ta’dhiman wa kiraman kepada pangeran Samudera, karena jasa-jasanya telah menyebarkan Islam, khususnya di sekitar gunung Kemukus.

Selanjutnya, penutupan bulan muharam (suronan) diakahiri dengan pertunjukan wayang, bisanya dilaksanakan bertepatan dengan malam jum’at pon atau kliwon, yakni bertepatan dengan meninggalnya pangeran Samudera. 

Prosesi ritual yang dilakukan oleh peziarah di makam pangeran Samudera sebetulnya hampir sama dengan pemakaman para auliya (makam walisongo). Untuk memasuki area makam, peziarah cukup membayar 4.000 rupiah untuk hari biasa, dan 5.000 rupiah untuk hari khusus (kamis malam jum’at pon atau kliwon).

Biasanya, bila mengikuti protokol dari juru kunci sebelum masuk area makam, seyogyanya terlebih dahulu untuk mensucikan diri di sendang Ontrowulan dengan membawa bunga, kemenyan, dan botol (untuk tempat air minum).

Proses penyucian diri di sendang merupakan bentuk ucapan permisi atau penghormatan kepada nyai Ontrowulan. Menurut mitos yang beredar, sebelum menemui pangeran Samudera di puncak gunung Kemukus, nyai Ontrowulan pernah mandi di Sendang. 

“Sebelum menjenguk sang pengeran, nyai Ontrowulan menyempatkan diri untuk mandi di sendang. Kala itu, ia mengibas-ngibaskan rambutnya sampai bagian dari bunga yang menempel dalam rambut tersebut terjatuh. Sehingga, bunga yang terjatuh tumbuh menjadi pepohononan. Hingga saat ini, masyarakat menamai pohon itu dengan ‘nogosari’. Sedangkan, sendang itu dinamakan ‘sendang ontrowulan’." (Moh. Soehada: 2013)

Prosesi selanjutnya, peziarah ke puncak makam gunung Kemukus untuk berdo’a, sesuai dengan maksud dan tujuan. Biasanya, juru kunci menanyakan kepada peziarah untuk mengutarakan keinginannya dalam berziarah.

Sebagai wasilah dalam prosesi ngalap berkah, juru kunci membantu mendo’akan para peziarah sesuai dengan keinginannya. Setelah itu, peziarah bebas melantunkan aneka dzikir sesuai dengan thariqahnya masing-masing. 

Dalam prosesi ngalap berkah di gunung Kemukus, mereka menggunakan media trilogi simbol dalam rangka mengekspresikan wujud dan pengabdiannya terhadap Allah Swt.

Dalam tradisi Jawa, simbol memiliki makna yang mendalam sebagai bentuk pengejawentahan pengejawentahan penghayatan yang mendalam dalam memahami suatu realitas yang tak terjangkau, sehingga bisa dijangkau.

Dengan kata lain, simbol digunakan untuk mengekspresikan hubungan kedekatan antara manusia dan Allah SWT, bila keduanya tidak bisa terpisahkan antara satu sama lain. 

Simbol dalam tradisi Jawa berasal dari fikiran manusia dan proses interaksi sosial yang digunakan untuk menafsirkan dan memediasi masyarakat dimana kita hidup.

Simbol sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, sehingga antara masyarakat dan simbol tidak bisa dipisahkan. Sebab, simbol dapat membentuk konstruksi realitas sosial masyarakat bagi siapa saja yang terlibat didalamnya.

Simbol dalam tradisi Jawa sebagai pembentukan identitas, pelestarian tradisi dan budaya lokal, lambang warisan leluhur, dan penyemangat kegiatan sosial. 

Interpretasi trilogi simbol makna bunga, kemenyan, dan air sendang dalam tradisi ritual ngalap berkah diantaranya, pertama, bunga mengandung unsur budi pekerti, kasih sayang, kewibawaan, karismatik, kejernihan hati, ketulusan, dan keharmonisan.

Bila unsur-unsur demikian ditanamkan, proses menjalankan kehidupan senantiasa akan lurus, senyampang manusia menjalankan protokol kehidupan sesuai ajaran baginda Nabi Saw.

Kedua, kemenyan memiliki simbol aura pelaku. Tujuannya, untuk meningkatkan rasa percaya diri. Dalam kehidupan, kunci dari kesuksesan ialah menanamkan rasa percaya diri.

Ketiga, air sendang memiliki simbol kebersihan atau kesucian. Proses mendekatkan diri kepada Allah membutuhkan jiwa yang bersih. Bila hati kita bersih, dalam menjalankan hidup akan senantiasa dimudahkan oleh-Nya. 

Ritual ngalap berkah di gunung Kemukus memang multitafsir. Sebagian peziarah menafsirkan ritual ini sebagai jalan pintas untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap manusia memiliki perbedaan kapasitas jarak dan kedekatannya dengan Allah.  Maka dari itu salah satu cara yang efektif dalam mendekatkan diri dengan-Nya, yakni dengan wasilah orang yang shalih.

Di Jawa, masyarakat mempercayai bila para auliya' sebagai penyembung hubungannya dengan Allah. Sayangnya, sebagian masyarakat menyalahgunakan ritual ini untuk kebutuhan hedonis dan materialis. 

Dewasa ini, situs ziarah ngalap berkah di makam pangeran Samudera semakin banyak dan beraneka ragam. Mayoritas orang, situs ini dijadikan sebagai usaha komersial dan praktik mencari pendapatan dengan membonceng para peziarah lokal.

Semakin banyak pengunjung, maka omzet yang didapat akan semakin besar. Omzet dari peziarah memberikan nafkah kepada lajnah mudabir makam, masyarakat sekitar, pembangunan makam, dan mengisi kas APBD daerah sekitar. 

Prosesi ngalap berkah di pemakaman merupakan tradisi yang berakar panjang dari pra-Islam sampai pasca-Islam. Dalam konteks ini, fenomena ziarah ngalap berkah di makam pangeran Samudera tidak hanya memiliki satu wajah, bahkan memiliki banyak wajah. 

Ada yang menganggap tradisi ini erat menjadi satu antara kesalehan, penonjolan identitas ke-Islaman, atau ada yang menjadikan sebagai dimensi komersial yang seringkali membonceng dalam tradisi ziarah.

1 comment: Leave Your Comments

  1. Keren kang. Namun, kesalahan dalam pengetikan kata kerap kali membuat pembaca sedikit kurang nyaman.

    ReplyDelete