PEREMPUAN DAN AMBISINYA



Aku Lupa bahwa Aku Perempuan adalah novel karya Ihsan Abdul Quddus, seorang penulis asal Mesir, novelis, serta wartawan dan editor surat kabar. Novel dengan judul asli Wanasitu Anni Imra'ah ini berisi tentang ambisi, karir, dan cinta seorang perempuan.

Mulanya, penulis menggambarkan sosok perempuan karir yang sukses. Perempuan yang selalu tampil di berbagai agenda publik, fotonya terpampang di mana-mana, dan tidak jarang kata-katanya selalu bertengger sebagai kutipan dalam berbagai tulisan di berbagai media. Perempuan yang bahkan enggan dihinggapi kegagalan selama hidupnya.

Namun, di sisi lain, ia merasa jenuh dan hampa. Apa yang didapatkannya seolah-olah hanyalah beban. Sempat sesekali ia menduga bahwa orang biasa jauh lebih bahagia darinya. Baginya, kesuksesan membuat dirinya merasa hampa dan jenuh, bukan lagi bahagia.

Semua itu bermula dari prestasi yang ia dapatkan. Sosok "Aku", Suad Ridla, dalam novel ini merupakan perempuan yang selalu mendapatkan peringkat satu dalam sekolahnya. Selain itu, ia juga sosok yang berpengaruh dalam setiap organisasi, baik di sekolah atau pun masyarakat.

Namun, sama seperti perempuan remaja lainnya, ia juga tidak menampik perihal cinta dan pernikahan. Ia bahkan suka membaca buku-buku romansa. Bukan hanya itu, ia juga pernah "ditembak" oleh laki-laki. Sayangnya, ia hanya mengalihkan itu menjadi persahabatan.

"Cinta kuanggap sebagai permainan untuk sekedar mengisi waktu luang. Maka, karena aku tidak pernah meniliki waktu luang, aku tidak pernah memiliki ruang untuk cinta. Bagiku laki-laki hanyalah sepenggal kisah tentang perasaan yang kucoba sebagai hiburan." (Suad, Aku Lupa bahwa Aku Perempuan, h. 13)

Pun perihal pernikahan, ia bukanlah perempuan yang tidak pernah memikirkan pernikahan. Baginya, semakin dewasa ia, semakin kuat pula keinginannya untuk menikah. Bagaimana pun, pernikahan adalah hubungan yang saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.

Namun, lagi-lagi, setiap ada laki-laki yang mendekat, ia selalu mengalihkannya ke hubungan persahabatan. Ia belum menemukan sosok laki-laki yang mampu membuatnya benar-benar cinta, apa lagi membuatnya ingin menikah. Suad ini memang berbeda dengan kakak perempuannya yang ia anggap hanya sebagai bayangan ibunya. Kakaknya menikah bukan karena cinta, apa lagi keinginan logikanya untuk menikah. Semua itu karena kemauan ibunya. Dan, Suad bukanlah perempuan yang seperti itu.

Di sini, penulis menyisipkan diskriminasi yang dialami perempuan dalam perjalanan hidupnya. Salah satunya adalah perempuan yang tidak menikah. Seperti yang dialami oleh tokoh Suad, diungkapkan bahwa sehebat apa pun ia dengan gemilang prestasinya, ia tidak ada apa-apanya sebelum ia menikah. Kehebatan sosok perempuan ini seakan-akan tidak mampu menembus segala kekurangan karena ia belum menikah.

Hingga sampai akhirnya, ia menemukan laki-laki bernama Abdul Hamid. Suad menerima hubungan ini sebagai cinta dan Abdul Hamid mulai melamarnya. Sayang, Suad lebih memilih untuk lulus sarjana dulu sebelum melangsungkan pertunangan. Tetapi hal itu tidak bisa dielaknya. Pertunangan tetap berjalan dan pernikahan akan diselenggarakan setelah Suad sarjana.

Penulis menggambarkan tokoh Suad ini sebagai perempuan yang ambisius dan bertekat menjadi pemimpin perempuan. Dalam ambisinya ini, ia harus menjadi pemimpin perempuan dalam diri dan segala hal yang berhubungan dengannya. Ia tidak mau dikontrol ataupun dipengaruhi orang lain.

Maka dari itu, ketika ia mendapatkan peringkat yang anjlok, dari peringkat satu menjadi empat dalam kelulusannya, ia merasa geram dan berambisi untuk menjadi lebih baik. Pun yang terjadi dalam pernikahannya. Dalam resepsi pernikahannya, ialah yang mendominasi. Ia tampil bak putri raja dalam pernikahannya.

Namun, Suad mengatakan bahwa ia lupa bahwa ia perempuan. Dalam rumah tangganya yang baru ini, ia merasa bahwa ia dalam kekangan. Ia dianggap perempuan yang lemah oleh suaminya. Dan ini sangat bertolak belakang dengan diri Suad.

"Kehidupan keluarga tidak mungkin merampas kemerdekaan seseorang untuk hidup dan berprestasi di luar rumah." (Suad, Aku Lupa bahwa Aku Perempuan, h. 37)

Hal tersebut tidak membuat Suad menjadi takluk. Suad tetaplah Suad yang hidup dengan ambisi, karir, dunia sosial politik, dan relasi. Meskipun terkadang ia juga merasakan ketidaknyamanan dalam rumah tangganya. Yang mana, ia tetap dianggap sebagai wanita yang lemah oleh suaminya karena ia hamil.

Pada masa-masa ini, kehamilan bukan menjadi batasan untuk Suad. Ia terus melakukan aktivitasnya sebagaimana biasanya. Sampai pada saatnya ia melahirkan anak perempuan bernama Faizah. Ia pikir setelah ini hubungan rumah tangganya akan semakin kuat. Namun, semua berjalan dengan timpang. Suad mengalami beban ganda, berkarir dan mengurus anaknya. Suaminya sama sekali tidak bisa diandalkan untuk berbagi tanggung jawab dalam rumah tangga.

Suad merasa bibit-bibit kegagalannya semakin tumbuh. Ia sukses di dalam karir, tetapi gagal dalam rumah tangganya. Hingga akhirnya, ia meminta untuk bercerai dengan Abdul Hamid. Permintaannya diterima oleh suaminya itu dengan salam perpisahan, "Selamat berpisah, 'perempuan lemah'. Selamat tinggal."

"Dalam rumah tangga, yang baik suami atau istri yang sama-sama bekerja, tidak seharusnya semua tanggung jawab, beban pekerjaan rumah, dan mendidik anak dilimpahkan kepada Sang Istri. Suami juga harus mengambil inisiatif peran dalam meringankan beban dan tanggung jawab rumah tangga." (Suad, Aku Lupa bahwa Aku Perempuan, h. 81)

Selama perpisahannya itu pula, ia kembali fokus pada pendidikan dan karirnya. Perihal anak ia serahkan kepada ibunya, meskipun tidak sepenuhnya. Sesekali dalam waktu luangnya ia tetap menghabiskan waktu bersama anaknya.

Ya, pendidikan dan karir begitu penting bagi Suad. Tidak dipungkiri, selama ia berstatus sebagai janda, ia selalu dihinggapi diskriminasi. Namun, ia tidak ambil pusing dengan hal itu dan tetap fokus pada tujuannya, gelar doktoral. Ia mendapatkan gelar doktor di usianya yang ke-32 tahun. Dan setelahnya ia menjadi perempuan yang semakin terlihat sukses saja.

Sampai ia bertemu dengan laki-laki yang memiliki kegemaran yang sama dengannya di dunia perpolitikan, Adil. Bedanya, Adil adalah seorang yang berideologi Marxis, sedangkan Suad adalah perempuan yang netral. Hingga suatu saat, Adil mengajaknya menikah. Namun, Suad lagi-lagi menolaknya. Baginya, perlawanan yang saat ini harus dilakukan adalah melawan perasaannya terhadap laki-laki. Dan, Suad memutuskan untuk mengabaikan rasanya kepada Adil dan menikah dengan dokter Kamal Ramzi.

Kamal ini dulunya adalah teman masa kecil Suad dan perjalanan hidupnya tidak jauh beda dengan Suad, sama-sama pernah gagal dalam rumah tangga. Kini mereka menjalin rumah tangga dengan berbagai rintangan pula. Ambisi Suad, keinginannya dalam mendominasi rumah tangga, ego dari Kamal Ramzi, tuntutan kesetaraan dalam rumah tangga, sampai masalah anaknya, Faizah.

Dan pada akhirnya perceraian pun terjadi lagi, Suad telah bercerai dengan Kamal. Namun, Suad tetaplah Suad yang menjadi perempuan yang ambisius dalam kepemimpinan dan politik. Bahkan ia telah terbiasa untuk lupa bahwa ia adalah perempuan.

Novel ini secara keseluruhan telah menunjukkan gambaran tentang ambisi perempuan dalam karirnya. Selain itu, penulis juga memberikan gambaran tentang rumah tangga dalam berbagai keadaan. Namun yang disayangkan adalah penulis tidak memberikan solusi dalam dari akhir kisah tersebut. Yang mana tokoh Suad ini tetap dianggap sebagai perempuan yang lupa akan dirinya sebagai perempuan. Namun, dalam novel ini tetap banyak pelajaran yang dapat diambil.

Keterangan:
Judul buku : Wanasitu Anni Imra'ah (Aku Lupa bahwa Aku Perempuan, terj.)
Penulis : Ihsan Abdul Quddus
Penerjemah : Syahid Widi Nugroho
Penerbit : Pustaka Alvabet
Kota terbit : Jakarta, 2012
Tebal buku : 228 halaman, 13 x 20 cm
ISBN : 978-602-9193-16-9


Post a Comment

2 Comments

  1. bukan hanya untuk perempuan saja sih. laki2 kalo ambisius juga mengerikan. saling menghargai aja sih kalau dari aku

    ReplyDelete