LEMBAYUNG


Simbol di ufuk magrib tak terperikan
Mercusuar pembias antara benderang dan kegelapan
Meliput jari-jemari bayang dalam kesirnaan
Sementara sang senja pengiring kebermulaan

Misrah menatap tajam di seberang jalan, sembari memantra mengais-ngais serpih gerutu dalam angan
Seolah-olah bingkisan sedang ia persembahkan
Entah itu sopan pun mungkin keterlaluan, 
Yang terbersit dalam benaknya hanya sedikit permintaan

Baginya, semua itu hanya secuil keinginan dibanding kehendak para tuan
Berbeda halnya dengan amerta kegilaan para cukong nan kian tak tertahan
Sekurang-kurangnya idaman, daripada permintaan mereka-mereka yang kerap merampok Tuhan dalam kesunyian.

Misrah sadar betul tentang apa yang harus ia  lakukan
Meski diam-diam harus memproklamirkan diri sebagai petualang harapan 
Pandir sejati, pendekap pengabdian
Dan semua bergelayut dalam kepasrahan
Semoga Kun fayakun adalah firman Tuhan

Dimana pun,
Kapan pun,
Pun sedang ada,
Seraya memikul beban kehidupan, ia berlapang dada bermurah senyuman
Walau perutnya acapkali lebih banyak menabuh syair-syair kehampaan

Namun, 
Cawan jiwanya terus menganga, meronta-ronta akan marunnya anggur kebebasan
Dahaga itu terlalu besar untuk diruntuhkan
Terlebih lagi, barang sesaat tak ada daya tuk mengabaikan

Sore itu, persis di bahu jalan.
Gemuruh cibiran, pun kegirangan tetangga membuatnya berkali-kali celingukan 
Mencari-cari kebenaran perihal santunan
Obor kesanksian pun ia sumatkan
Benaknya terperangkap dalam seutas pertanyaan, 'kemanakah daku harus mengejar kepastian?'

Nuraninya mendikte menyusuri relung pintu kemungkinan
Mengetuk-ngetuk daun pintu kediaman Pastor di jalan Pahlawan
Sayangnya, tak ada sahutan sebagai tanda kehidupan

Dikayuhnya sepeda jadul menuju Selatan
Hingga sampailah ia di jalan Veteran
Kebetulan, Pendeta sedang menyiangi rerumput halaman 
Na'as, patahan katanya tak begitu cukup memuaskan

Bergegaslah ia ngayuhkan kaki dengan sedikit ngos-ngosan
Wihara pertapaan Biksu itulah sebagai tujuan
Tak dapat dipercaya, cetusnya tidak sama sekali membulatkan keyakinan

Akhirnya, sekonyong-konyong ia menuju mesjid menahan diri hampir pingsan
Takmir dengan sigap membopongnya ke pelataran
Pak Kiyai memberondongnya dengan petuah-petuah kedamaian

Tukasnya; celakalah dikau menaruh harapan lebih dalam ketergantungan
Melarat memang tidak lepas dari nafas panjang kehidupan
Tatap dalam, dikau hanya terpenjara dalam bangsa kebarbaran

Misrah mematung, untai nasihat itu menyembelih jiwa miskinnya yang membabi buta
Dalam benaknya hanya bergeming; 'kenapa harus lupa, kalau daku hanya si papa yang bukan saudara pun atau kerabat pemegang kuasa'.
Lantas, mana mungkin santunan pandemi Covid-19 itu menjadi takdir Tuhan untuknya

Khalayak mungkin lupa, jikalau rakyat jelata hidup dengan ambisi yang membara
Sementara para tuan sibuk hidup dengan membesarkan perutnya.

Tertanda si pandir yang papa.
__Ciamis, 21 Mei 2020

Penulis
Pegiat Literasi

Post a Comment

0 Comments