Lembayung

Oleh: Dewar Al-Hafiz

Simbol di ufuk magrib tak terperikan

Mercusuar pembias antara benderang dan kegelapan

Meliput jari-jemari bayang dalam kesirnaan

Sementara sang senja pengiring kebermulaan

 

Misrah menatap tajam di seberang jalan, sembari memantra mengais-ngais serpih gerutu dalam angan

Seolah-olah bingkisan sedang ia persembahkan

Entah itu sopan pun mungkin keterlaluan, 

Yang terbersit dalam benaknya hanya sedikit permintaan

 

Baginya, semua itu hanya secuil keinginan dibanding kehendak para tuan

Berbeda halnya dengan amerta kegilaan para cukong nan kian tak tertahan

Sekurang-kurangnya idaman, daripada permintaan mereka-mereka yang kerap merampok Tuhan dalam kesunyian.

 

Misrah sadar betul tentang apa yang harus ia  lakukan

Meski diam-diam harus memproklamirkan diri sebagai petualang harapan 

Pandir sejati, pendekap pengabdian

Dan semua bergelayut dalam kepasrahan

Semoga Kun fayakun adalah firman Tuhan

 

Dimana pun,

Kapan pun,

Pun sedang ada,

Seraya memikul beban kehidupan, ia berlapang dada bermurah senyuman

Walau perutnya acapkali lebih banyak menabuh syair-syair kehampaan

 

Namun, 

Cawan jiwanya terus menganga, meronta-ronta akan marunnya anggur kebebasan

Dahaga itu terlalu besar untuk diruntuhkan

Terlebih lagi, barang sesaat tak ada daya tuk mengabaikan

 

Sore itu, persis di bahu jalan.

Gemuruh cibiran, pun kegirangan tetangga membuatnya berkali-kali celingukan 

Mencari-cari kebenaran perihal santunan

Obor kesanksian pun ia sumatkan

Benaknya terperangkap dalam seutas pertanyaan, 'kemanakah daku harus mengejar kepastian?'

 

Nuraninya mendikte menyusuri relung pintu kemungkinan

Mengetuk-ngetuk daun pintu kediaman Pastor di jalan Pahlawan

Sayangnya, tak ada sahutan sebagai tanda kehidupan

 

Dikayuhnya sepeda jadul menuju Selatan

Hingga sampailah ia di jalan Veteran

Kebetulan, Pendeta sedang menyiangi rerumput halaman 

Na'as, patahan katanya tak begitu cukup memuaskan

 

Bergegaslah ia ngayuhkan kaki dengan sedikit ngos-ngosan

Wihara pertapaan Biksu itulah sebagai tujuan

Tak dapat dipercaya, cetusnya tidak sama sekali membulatkan keyakinan

 

Akhirnya, sekonyong-konyong ia menuju mesjid menahan diri hampir pingsan

Takmir dengan sigap membopongnya ke pelataran

Pak Kiyai memberondongnya dengan petuah-petuah kedamaian

 

Tukasnya; celakalah dikau menaruh harapan lebih dalam ketergantungan

Melarat memang tidak lepas dari nafas panjang kehidupan

Tatap dalam, dikau hanya terpenjara dalam bangsa kebarbaran

 

Misrah mematung, untai nasihat itu menyembelih jiwa miskinnya yang membabi buta

Dalam benaknya hanya bergeming; 'kenapa harus lupa, kalau daku hanya si papa yang bukan saudara pun atau kerabat pemegang kuasa'.

Lantas, mana mungkin santunan pandemi Covid-19 itu menjadi takdir Tuhan untuknya

 

Khalayak mungkin lupa, jikalau rakyat jelata hidup dengan ambisi yang membara

Sementara para tuan sibuk hidup dengan membesarkan perutnya.