KESADARAN DIRI UNTUK PENERIMAAN DIRI


Sudah tidak jarang lagi kita sebagai umat manusia masih enggan menerima seseorang manusia lainnya sebagai kerabat dikarenakan keburukannya atau perbedaan entah apa itu. Bukankah begitu? Ini hanyalah pandangan manusia pada umumnya saja tentang penerimaan diri sebagai manusia seutuhnya dan sebagai mahluk sosial. Tentu, dalam ruang lingkup masyarakat pada umumnya masih menjadi persoalan hati masing-masing, mari kita coba cermati diri sendiri dulu.

Pertanyaan mendasarnya tentang problematika ini adalah, “Apakah ada manusia yang sempurna di dunia yang sering kita sebut fana ini?” Bukankah dunia hanyalah ombang-ambing gelombang perasaan dan sikap yang tidak menentu bagi manusia. Lagi dan lagi ini persoalan pilihan manusia mengenai harapan dan jalan mana yang akan mereka pilih.

Di dunia ini tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari dosa, setiap manusia pernah melakukan perbuatan dosa, baik dosa kecil maupun besar. Akan tetapi setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Menyesali apa saja yang telah diperbuat dan meminta ampunan kepada Allah SWT yang sangatlah luas kemurahan hatinya. Merupakan cara terbaik untuk mengakui diri beserta kelemahan diri secara mendalam, sehingga kesombongan dan keangkuhan diri tidak akan menguasai lelaku manusia.

Dengan begitu cobalah lihat perbedaan antara manusia satu dengan manusia lainnya, masih adakah yang berbeda? Jika masih ada cobalah lihat diri sendiri sekali lagi ketika di hadapan Allah SWT. yang pada dasarnya kita semua diciptakan dalam keadaan telanjang, tanpa busana harta, tahta, suku, bangsa, dan budaya. Semua bersih tanpa ada satu pun yang melekat pada diri manusia. Dari sini, semua mahluk ciptaan Allah SWT pada dasarnya adalah mulia.

Sering kali kita mendengar, berbagai versi atas persepsi seseorang yang hanya terpaut pada sisi penilaian luar (sebut saja: cover). Sesuatu yang terlihat itulah yang kemudian tersimpulkan dari kepribadiannya. Kemampuan indera sangatlah terbatas, dan tidak jarang kita terkecoh dengan sudut pandang negatif, yang membawa kita kepada suatu perkara mawas diri, yaitu kurangnya kesadaran diri.

Dalam hal ini akan melahirkan sebuah kebencian, fitnah dan perpecahan antar manusia. Justru dengan cara menjustifikasi sebuah permasalahan orang lain yang bukan menjadi hak kita juga bukan perkara yang baik. Apalagi sampai merasa diri yang paling benar, diri yang paling hebat sehingga menjadikan diri terjebak dalam kesombongan dan keangkuhan yang kian menggerogoti hati.

Manusia merupakan makhluk dinamis tidak statis. Terlihat sholeh dan alim tidak selamanya demikian, sebaliknya yang terlihat buruk, urakan, dan nampak hina itu pula tidak selamanya demikian. Berdasarkan kehendak masing-masing atas ridho-Nya dalam prosesnya menapaki kehidupan, manusia bisa saja berubah dan menjadi mahluk yang mungkin kita sendiri tidak pernah menduganya. Kejadian seperti ini sudah banyak terjadi di lingkungan sekitar kita.

Allah Swt dengan firman-Nya didalam Al-Qur’an surat Az-Zumar Ayat 53 yang artinya: "Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Mengaca pada salah satu tokoh sufi, "Jalaluddin Rumi" Beliau mengisyaratkan bahwa berprasangkan baik kepada Allah SWT adalah modal utama untuk datang dan mendekat kepada-Nya. Mengapa demikian? Sebab Allah SWT menciptakan manusia dengan cinta dan bagaimana jika manusia berprasangka baik kepada-Nya, juga sekaligus memahami bahwa setiap peristiwa itu dipenuhi sejuta hikmah, maka derita hidup tiada rasa.

Oleh karena itulah, siapa saja yang belum mampu berlari untuk memenuhi upaya menemui ampunan-Nya, maka dengan cara merangkak untuk melakukan sebuah pertaubatan. Allah tidak melihat bagaimana umat-Nya berlari cepat sampai terbirit-birit melainkan Allah melihat bagaimana ia membangun komitmennya untuk memenuhi panggilan-Nya dan kembali kepada-Nya.

Mengambil hikmah dari peristiwa perbuatan dosa dan bermaksiat kepada-Nya adalah perihal yang pasti pernah dilakukan oleh setiap manusia. Dan sebaik-baik manusia adalah mereka yang mau mentas dan bertaubat, terus-menerus berharap ampunan-Nya. 
loading...

Post a Comment

0 Comments