Cinta Filosofis : Membaca Cinta Dan Agama Dalam Ruang Filsafat

ad+1




Benarkah cinta itu buta? Membuat seseorang hilang rasionalitasnya? Atau Menjerumuskan seseorang jatuh ke dalam nafsunya? Aku rasa tidak bagi seorang “Karima”.

Novel tentang cinta yang diselimuti dengan pemikiran filosofis ini, akan membawa siapapun mengerti bagaimana kita bisa berfikir secara sederhana dan enteng dalam menyikapi berbagai hal tentang filsafat, agama juga cinta. Sering kali orang-orang membuat berbagai perbedaan menjadi sesuatu yang harus ditonjolkan lebih dulu. 

Namun dengan membaca buku ini, membuka mata kita untuk menerima persamaan lebih dulu agar bisa bijaksana menyikapi perbedaan yang ada. Memanfaatkan akal yang telah dianugerahkan oleh Tuhan, dan juga memahami batasan maupun keterbatasan manusia.

Novel ini menceritakan sosok wanita sederhana yang mampu memegang erat prinsip yang telah ia dapatkan dari pemikirannya mengenai filsafat. Dialah Karima, keponakan dari Kiai Hadziqa Faqih yang merupakan pendiri pondok pesantren Nurul Azhar dan Kampus Akademos.

Dari sang Kiai lah, Karima belajar banyak hal mengenai filsafat dan agama. Bahkan, Karima memiliki waktu khusus untuk berbincang bersama Kiai yang dipanggilnya Pak De itu. Kiai Hadziqa termasuk sosok yang unik. Ia menyukai filsafat sejak muda. 

Ketika ia belajar di beberapa pesantren puluhan tahun lalu, disamping mempelajari ilmu-ilmu pesantren seperti nahwu (bidang tata bahasa Arab), Tafsir, Hadis, dan lain-lain, ia sangat menyukai pelajaran logika. Pun, kampus akademos sebenarnya adalah gagasan idealis dari Kiai Hadziqa Faqih. 

Tidak mengherankan jika program studi yang banyak diminati oleh para mahasiswa adalah filsafat. Banyak pula yang mengidolakan sosok Kiai sebagai figur Idolanya, termasuk juga Karima.

Selain itu ada juga Qanita, sahabat baik Karima sejak kecil. Dia berasal dari desa yang sama dengan Kiai Hadziqa, mungkin itu juga yang membuatnya terpilih menjadi ibu lurah pesantren (ketua organisasi pesantren). Karima dan Qanita berada di kelas yang sama, dengan prodi Filsafat Islam. 

Tokoh ketiganya adalah Ikhwan, yang juga pemeran utama dalam novel ini. Ia adalah sosok yang sederhana, dan pantang menyerah dalam keilmuan. Sejak pertama kali bertemu dengan Karima, Ikhwan sudah jatuh hati kepadanya. 

Namun apa daya, ternyata saat itu Karima telah menjalin hubungan dengan seorang hafidz dari prodi yang berbeda dengannya. Namanya Fauzi, ketua DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) kampus Akademos. Dengan postur tubuh yang tinggi bahkan berkulit putih, tak heran jika Fauzi menjadi idola bagi para mahasiswi.

Meskipun begitu, cinta Karima bukanlah cinta buta sebagaimana gadis-gadis seusianya. Cinta Karima lebih bernuansa filosofis sekaligus agamis, bukan cinta erotis. Maka ketika sosok Fauzi ini melakukan perbuatan yang menurutnya salah, Karima tetap menyalahkannya dan mengikuti apa yang menurutnya benar.

Cinta filosofis dibuktikan dengan adanya kontrol-kontrol rasional dalam berkomunikasi. Cinta filososfis selalu melandaskan pada kejujuran dan kebenaran. (Cinta Filosofis, hlm. 187)

Walau Karima mencintai Fauzi, tetapi ketika Fauzi akan melakukan demonstrasi untuk menurunkan Pak Hakim---dosen filsafat kampus akademos. Karima langsung menentangnya. 

Menurutnya, alasan Fauzi dan kelompoknya itu tentu tidak filosofis. Hanya karena Pak Hakim memberikan nilai C---yang menandakan ketidaklulusan bagi para aktivis yang tidak hadir dalam kelasnya, bukan berarti killer. Karima menjelaskan, bahwa menghadiri kelas adalah syarat formal dari perkuliahan. 

Jika mencari ilmu lain ketika jam itu, maka harus berani mengambil resiko untuk tidak mendapatkan ilmu di kelas. Sudah seharusnya juga mahasiswa menghargai dosen yang telah meluangkan waktunya untuk mengajar. Inilah salah satu bukti cinta filosofis Karima.

Karakter cinta filsosofis yang pertama adalah diawali dengan alasan-alasan yang tidak bersifat fisik seperti postur tinggi, putih, gagah, rambut lurus dan lain-lain. Cinta filosofis mengutamakan alasan-alasan non fisik seperti pintar, bijaksana, tidak emosional, berorientasi masa depan, dan mengedepankan etika dalam berkomunikasi. 

Kedua, cinta filososfis menggunakan standar kebenaran dan kejujuran dalam berkomunikasi. Kebenaran yang digunakan adalah kebenaran agama dan kebenaran filosofis yaitu kebenaran koherensi, korespondensi, dan kebenaran pragmatis. Kebenaran koherensi adalah kebenaran yang dibuktikan dengan konsistensi dan kesamaan satu pernyataan dengan pernyataan yang lain.

Selanjutnya, kebenaran korespondensi ditandai dengan kesesuaian kata, kalimat atau pernyataan dengan kenyataan atau faktanya. Terakhir, adalah kebenaran pragmatis. Dimana Karima selalu menjaga jarak dan tidak sering bertemu maupun mengobrol jika tidak ada kepentingan. Maka ketika Fauzi sudah tidak lagi sesuai dengan kebenaran dan kejujuran yang ia jadikan sebagai komitmen itu, Karima langsung memutuskannya.

Disisi lain, keserasian antara Karima dan Fauzi, membuat Ikhwan cemburu sejak awal, dan membuatnya berfikir bahwa ia tidak sebanding dengan Karima. Maka sejak ia tau hubungan antara Karima dan Fauzi, Ikhwan kemudian merenungkan segala hal yang membuatnya mulai berubah. 

Ia mulai melupakan sesuatu yang tidak seharusnya ia pikirkan. Fokus dengan kuliah, fokus dengan kajian-kajian kitab yang diadakan di pesantren, juga fokus memperbaiki diri.

Hari demi hari berlalu, waktu terus berputar tanpa henti. Ternyata sudah hampir empat tahun sejak demontrasi itu terjadi. Karima, Qanita, dan juga Ihkwan lulus dengan mendapat gelar camlaudge di ijasah mereka. Kiai Hadziqa memanggil ketiganya seusai wisuda untuk menemuainya di kantor. 

Siapa sangka, ternyata Pak De menjodohkan Karima dengan Ihkwan yang sejak semester pertama menjadi sosok santri yang dipercayai olehnya. Ihkwan pada awalnya mengira, mungkin Tuhan mempunyai rencana lain tentang siapa jodohnya. Tetapi ternyata benar. 

Doanya tak pernah sia-sia. Karena dengan mencintai Sang Maha Segalanya lebih dulu, Ia akan mendatangkan cinta terbaik bagi siapapun yang beriman.

Kiai Hadziqa juga memberikan amanah kepada Karima dan Ihkwan untuk mendirikan sebuah pesantren di daerah asal Karima. Daerah yang memang masih sulit mencari sekolah, tempat mengaji, bahkan untuk pergi dari satu desa ke desa yang lain. 

Cita-cita mulia yang diberikan oleh Pak De kepada keponakannya yang terpercaya menjadi akhir dari cerita. Pesantren itu akhirnya berkembang pesat. Dengan didukung oleh para alumni pesantren Nurul Azhar sebagai pengajar, menambah kepercayaan masyarakat kepada pesantren tersebut.

Novel ini dikemas dengan begitu sederhana, bahasa yang mudah dipahami, juga alur cerita yang unik. Melibatkan materi-materi filsafat juga bagaimana cara memandang agama sekaligus cinta. Lalu, apa yang spesial dari filsafat? Karima berkata bahwa dengan filsafat….

Aku lebih bijaksana. Tidak cepat-cepat menyalahkan orang lain. Lebih penting lagi Aku mulai sadar bahwa kehidupan itu tidak bisa dipaksakan untuk menjadi tunggal. Tuhan telah mengaturnya demikian….(Cinta Filosofis, hlm. 168)

Keterangan:
Judul : Cinta Filosofis
Penulis : Iswahyudi
Penerbit : Tera kata
Kota Terbit : Yogyakarta, 2017
Tebal Buku : 356 halaman
ISBN : 978-602-74426-7-2

0 Comments: