CEGAH CORONA, WARGA BLITAR MENGADAKAN TRADISI BARITAN



Tradisi merupakan bagian dari warisan nenek moyang yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat. Mereka menggunakan tradisi sebagai kegiatan penting dan terus-menerus, sehingga menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Hal ini tidak jauh dari segi historis, Islam datang ke Jawa tidak disebarkan secara puritan, melainkan memadukan antara Islam dan Budaya tanpa menghilangkan kecacatan Islam sendiri. Sehingga Islam secara step by step mulai berbaur dan melebur kepelosok wilayah Jawa. 

Setiap wilayah memiliki cara hidup dan kebudayaan yang berbeda dengan yang lain, tak terkecuali di Jawa. Hal ini tidak menjadikan perpecahan antar kedua belah pihak, justru memperlihatkan keanekaragaman kekayaan tradisi dan budaya. Adat yang diterapkan oleh masyarakat Jawa bukan semata-mata untuk menonjolkan warisan, melainkan untuk menciptakan kehidupan yang sosialis, humanis, dan harmonis. 

Tradisi merupakan perwujudan keselarasan hubungan antar manusia dengan sesamanya, alam semesta dengan alam seisinya, serta manusia dengan Sang Khalik. Tradisi dalam masyarakat Jawa merupakan bentuk keyakinan dan kepasrahan, bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan setingan dari-Nya.

Bentuk perwujudan permohonan manusia kepada-Nya, mereka menggunakan simbol dalam bingkai rantai sesaji, yang terdiri dari sajian bunga, dan bermacam-macam aneka olahan makanan, dengan kandungan makna dan tujuan tertentu. 

Tradisi yang secara turun-temurun masih eksis diterapkan oleh masyarakat Jawa, khususnya Blitar ialah baritan. Adat ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait dengan alam.

Kegiatan ini tidak hanya digunakan untuk sedekah Bumi, tetapi juga digunakan ketika mendapatkan semacam musibah. Di Blitar, kegiatan baritan digunakan untuk mencegah wabah pandemi corona yang semakin hari menyerang banyak korban.

Warga desa Kemlaka, Nglegok, Kabupaten Blitar, melakukan kegiatan baritan di sekitar lingkungannya. Untuk mengadakan ritual ini, warga membawa ambeng dengan aneka masakan.

Dengan pakaian sopan, warga dengan khusuk mengikuti ritual yang dipimpin oleh tokoh agama sekitar. Mereka berharap, dengan wasilah ritual baritan, musim pagebluk yang menyerang warga Indonesia, khususnya Blitar bisa cepat lenyap. 

Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan warga sekitar. Ritual baritan sama seperti slametan. Tradisi ini merupakan bentuk aktivitas sosial berwujud upacara yang dilakukan secara tradisional. Hal terpenting dalam ritual baritan adalah kepercayaan.

Menurut penuturan Pak Khanafi (62), selaku tokoh agama sekitar berpendapat bila maksud dan tujuan diadakannya kegiatan ini tidak lain untuk mencari keselamatan, ketentraman, dan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Seperti pernyataan yang dituturkan, 

“Kenduri atau baritan tolak bala ini sebagai tradisi para pendahulu kita. Tujuannya, agar warga terhindar dari berbagai macam penyakit. Salah satunya harapan kita agar Corona segera diangkat dari muka bumi ini,” (dikutip dari news.detik.com/berita jawatimur)

Meskipun ritual ini dilakukan secara bersama, baik dari golongan muda, dewasa, hingga tua, mereka tetap menaati protokol pemerintah. Dengan tetap konsisten memakai masker dan menjaga jarak antar satu dengan yang lainnya. Walaupun sebagian besar tidak terkena wabah, paling tidak selain do’a juga diimbangi dengan ikhtiar, guna mengantisipasi menularnya wabah pandemi. 

Kegiatan baritan merupakan ritual ambeng yang disantab bersama, pasca prosesi ritual dengan penutup do’a. kegiatan ini, biasanya dilaksanakan pada malam hari yang secara mayoritas dilaksanakan oleh kaum adam, walaupun secara minoritas kaum hawa juga mengikuti ritual ini.

Mereka menikmati sajian di atas lembaran daun pisang yang ditata secara rapi dengan aneka makanan dari ambeng yang sudah dibagi-bagikan oleh panitia secara merata. Makanan yang telah dibagikan biasanya disebut dengan berkat.

"Dalam kamus al-Munawwir, berkat merupakan serapan dari bahasa Arab ke Indonesia, berasal dari kata barakah (nikmat)" (lihat: A.W.Munawwir:1984)

Hal ini mengisyaratkan, bila berkat merupakan nikmat dan karunia Allah yang diberikan oleh-Nya melalui hamba-NyA, kelak dalam kehidupan yang dijalaninya senantiasa diberi keselamatan di dunia dan akhirat. 

Menurut Khanafi, (62), kegiatan ritual ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak turun-temurun. Dulu, kegiatan ini digunakan untuk mengusir mara bahaya yang menimpa masyarakat.

Namun, kegiatan ritual ini dilaksanakan pada momen era wabah pandemi corona. Ritual ini difungsikan untuk meminta pertolongan kepada Sang Pencipta untuk melenyapkan wabah ini. 

"…...Kegiatan baritan ini sudah menjadi tradisi turun temurun di desa ini. Kami sebagai warga yang tinggal di lereng Gunung Kelud mempercayai baritan dan doa bersama dapat mengusir virus Corona," (dikutip dari news.detik.com/beritajawatimur)

Tradisi baritan merupakan hasil sentuhan akulturasi yang dilakukan oleh walisongo. Agama diinterpretasikan dalam bentuk membumikan ajaran Islam melalui perwujudan tradisi dan budaya. Bila dilihat dari segi bahasa, ada yang mengatakan baritan berasal dari bahasa arab bar’ian, dari tasrifan bara’a-yubarri’u-bara’atan/bari’an, yang bermakna bebas. 

Makna bebas disini memiliki beberapa penafsiran. Diantaranya, kata bebas merupakan bentuk ikhtiar dan do’a manusia kepada Allah SWT, bila kegiatan baritan memiliki harapan supaya terbebas dari segala marabahaya, wabah penyakit, malapetaka. Hanya saja, karena lahjah (gaya bahasa) orang Jawa kurang begitu fasih, mayoritas orang Jawa lebih masyhur menggunakan kata baritan. 

Baritan atau bari’an merupakan tradisi Jawa yang dilakukan suatu penduduk desa sebagai bentuk upaya melakukan tolak balak (menghindarkan berbagai marabahaya), agar hidup mereka terhindar dari berbagai bencana yang merugikan seperti datangnya kekeringan, bencana alam (banjir, longsor), kelaparan, wabah penyakit baik yang menyangkut manusia, tanaman ataupun ternak mereka (Ensiklopedia Islam Nusantara: 2018).” 

Kegiatan yang dilakukan oleh Warga Blitar merupakan bentuk kearifan lokal yang patut kita lestarikan. Tradisi baritan merupakan produk budaya lokal, namun dalam perjalanan sejarah dakwah Islam di Nusantara, khususnya Jawa telah menjadikan budaya bagian dari ajaran keagamaan. Dari keterangan di atas, eksistensi baritan, Islam sama sekali tidak menolak budaya yang berkembang di masyarakat.

Selama tradisi ini tidak bertentangan dengan Islam, kegiatan ini perlu dijaga, dilestarikan, dikembangkan, dan dieksiskan. Adanya budaya, Islam semakin kelihatan rahmatal lil alamin, eksis dimanapun dan kapanpun. Sebaliknya, bila bertentangan dengan Islam, alangkah baiknya ditinggalkan dan tidak diamalkan.

Post a Comment

0 Comments