TOLERANSI BERAGAMA DAN SEBUTIR ANGGUR

by. Ziada Hilmi Hanifah

Setiap manusia yang masih terdapat sisi kemanusiaannya pasti menyetujui bahwa kedamaian hanya akan dicapai bilamana saling menghargai dan menghilangkan prasangka diaplikasikan dalam kehidupan. Ada yang menarik dari konsep ini, yang mana bila konsep ini dihadapkan pada model manusia yang sangat beragam, wilayah, adat, bahasa, budaya, wataknya maka akan timbul perbedaan pikiran pula.

Seorang Filsuf kenamaan menyatakan bahwa “Batas Bahasaku adalah batas Duniaku”. Dari sudut pandang ini, mari kita lihat satu kejadian yang terjadi di masa seorang tokoh sufi kenamaan Jalaluddin Ar-Rumi. Terdapat Tiga orang yang berbeda kebangsaan, pertama berkebangsaan Arab, seorang yang lain Persian, seorang lagi Roman, mereka berekreasi bersama. Ketiganya melakukan perjalanan dan pada saat yang sama, mereka menemukan koin dirham di tengah jalan.

Kata si Arab, mari kita membeli Inab (Anggur) dengan uang itu, orang Persia menyangkal pula, tidak, yang benar bahwa kita akan membeli Anggoor (anggur), orang Roman berkata lain pula, tidak tapi kita akan membeli Venatas (anggur) dengan uang itu, mereka saling bertengkar karena perdebatan tersebut. Melihat kejadian itu, Rumi mendapatkan pengajaran, bahwa jika perbedaan bahasa saja, bisa membuat mereka bertengkar dan salah paham bagaimana pula bila yang berbeda adalah konsepsi pemikaran tentang satu benda/hal.

Atheis akan berkata, bahwa ia tidak mempercayai Tuhan. Hal Itu disebabkan pemikiran dan konsep tentang Tuhan yang ada di kepalanya, tidaklah sama dengan orang yang mempercayai Tuhan. Atheis manapun sejatinya mengakui ada yang menciptakan dunia, namun ia tidak percaya, karena ia menemukan ketidak sesuaian konsep dalam kepala (doktrin) dengan apa yang ia lihat.

Ia tidak percaya Tuhan, karena yang tergambar di kepalanya tentang Tuhan adalah Tuhan yang tidak dapat dipercaya, Tuhan yang berupa patung yang disembah, tanpa boleh dicela atas kekurangannya, yang tak bergerak untuk mengatasi masalah umat manusia, Tuhan dikepalanya adalah Tuhan yang membuat dunia ini hancur dengan menciptakan manusia perusak, terlebih atas perkataannya dalam bible yang tidak masuk akal, begitu gambaran Tuhan dalam pikirnya.

Ditambah lagi dengan pengalaman negatifnya melihat bahwa manusia beragama adalah sumber kekacauan dan permusuhan. Begitu pula saat seseorang mengatakan bahwa seluruh Agama adalah SAMA, maka perlu ditanyakan kepadanya “kesamaannya itu ada dimana?” Mereka menyembah Tuhannya dengan perantara patung atau salib, dan mereka yakin bahwa ibadah semacam itu dikehendaki Tuhannya. Sementara Tuhan umat Islam tidak rela jika umat Islam menduakannya dalam Ibadah. Adakah Tuhan kita sama?

Yang lebih ekstrem lagi, mereka menyatakan bahwa tujuan semua agama sama, menuju Tuhan yang sama, hanya jalannya yang berbeda. Ini adalah pola pikir yang salah, meskipun dibumbui dengan indahnya toleransi. Banyak hal yang tampak indah namun belum tentu benar, seorang Dermawan selalu membagi-bagikan hartanya untuk sedekah, membangun masjid, namun uang yang ia dapatkan adalah hasil dari korupsi, mencuri, atau hasil kerja kerasnya dalam melegalkan khamr di sebuah negeri ini tentu tidak benar.

Oleh karenanya jalan itu menjadi suatu tolok ukur kebenaran satu hal. Dan satu-satunya jalan keselamatan ialah mengikuti syariat yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Menentukan kebenaran agama tidaklah semudah diraih sebagaimana hanya dengan usaha yang dilakukan oleh ketiga orang yang berbeda bangsa dan bahasa dalam kisah Jalaluddin Rumi diatas.

Tidak sah mencari kebenaran hanya dengan pemahaman “manusia yang salah persepsi, padahal agama itu semua sama saja” sebagaimana yang dimaksud dari kisah diatas yang salah pemahaman adalah si manusia yang berbeda budaya dan bahasa, sehingga berbeda menafsirkan “sebuah benda yang memang aslinya sama” seperti yang dimaksudkan temannya.

Melihat perbedaan agama, juga berindikasi melihat perbedaan “Ajaran-ajarannya, memebedakan mana yang budaya mana yang ajaran asli, mana keasliannya, mana sejarahnya, mana riwayatnya, atas dasar apa ajaran tersebut masih dapat dipercayai keasliannya”.

Namun sayang sekali, tampaknya hanya sedikit oknum yang mau benar-benar mengkritisi ajaran agamanya sendiri apalagi mempersilahkan orang lain untuk mengkritisinya. Di kalangan pemuda muslim sendiri, doktrin semua agama sama, lebih popular, karena ia bangga disebut sebagai orang yag toleran.

Doktrin bahwa semua agama sama, hanya membawa imbas, pada masyarakat muslim untuk tidak kembali memahami dan mempelajari Agamanya, keotientikannya, kemu’jizatannya sebagai wahyu yang terjaga sepanjang masa. Jangankan untuk mengkritisi ajaran agama lain, ia lebih memiilih membenarkan ajaran agama lain dengan sikap dan perbuatannya yang ia sebut sebagai Toleransi.

Umat ini sangat takut untuk disebut tidak toleran, umat ini takut dianggap berbeda dan dijauhi serta dipinggirkan. Padahal pendahulu kita mengajarkan Tidak takut pada perbedaan, karena tabiatnya seorang muslim adalah berlaku adil dalam perbedaan. Perbedaan tidak membuat kita menjadi manusia yang haus darah. Perbedaan tidak membuat kita menjadi manusia yang enggan memberikan pertolongan. Perbedaan tidak menjadikan kita manusia yang suka menindas hak-hak manusia lainnya, selama mereka berbuat menghormati agama kita.

Seperti itulah yang dinamakan ketegasan menghargai perbedaan. Jalan keluar menghadapi perbedaan bukanlah mempersamakan. Akan tetapi, menyelidiki dimana letak perbedaan itu.Tujuan toleransi beragama bukanlah menyatukan agama, namun menciptakan keamanan manusianya dalam perbedaan. Takut berbeda, jangan menjadikan kita hingga menjadi seperti mereka.

loading...

Post a Comment

0 Comments