SAMPAI MENUTUP MATA DI RUMAH KACA

ad+1



Rumah Kaca adalah roman keempat dari tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Buku pertama adalah Bumi Manusia yang berisi tentang kisah Minke dan Buminya kala kolonial. Buku kedua, Anak Semua Bangsa yang menceritakan pengenalan Minke kepada bangsanya sendiri. Buku ketiga, Jejak Langkah yang berisi kebangkitan dan pergerakan organisasi Pribumi. Dan yang terakhir ini adalah Rumah Kaca yang berisi reaksi kolonial terhadap kebangkitan Pribumi.

Jika tiga buku awal pada tetralogi, Bumi manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, ditulis dari sudut pandang Minke dan merupakan catatan-catatannya sebelum diasingkan. Maka di buku yang terakhir ini adalah sudut pandang Pangemanann, orang yang dulunya adalah komsaris polisi Betawi, mengawal pengasingan Minke dan sekarang menjabat sebagai mata Gubernur Jendral. Selain itu, Rumah Kaca adalah catatan Pangemanann selama ia mendapat mandat khusus dari Gubernur Jendral.

Dalam Rumah Kaca, Jacques Pangemanann mendapatkan mandat khusus untuk menangkap Minke. Ialah yang membawa Minke hingga di tempat pembuangan atau pengasingannya, Ambon. Dalam catatannya ini, Pangemanann bertugas mengawasi segala sesuatu yang berhubungan dengan Minke dan Pribumi yang dianggap akan mengusik kenyamanan Gubernur Jendral.

Dalam buku ini, Pangemanann disebut bukan hanya seagai pengagum Minke, tetapi ia menyebutnya sebagai guru. Ialah Minke, orang yang begitu berjasa untuk bangsanya, namun harus ia tangkap atas ketidak bersalahannya. Ya, semua hanya karena mandat Gubernur Jendral dan karir. Ia menguburkan segala kekaguman pada gurunya itu, karena bagi Pangemanann, karirnya akan menyangkut masa depan istri dan anak-anaknya.


"Untuk keselamatan diri hanya ada satu jalan yang bisa ditempuh: bermuka dua dan berhati banyak dengan sadar." (Rumah Kaca, h. 98)

Berbicara tentang karir, Pangemanann telah membongkar berkas-berkas sisa Medan dan Sjarekat Islam. Ia juga menemukan catatan Minke yang berisi tentang kekagumannya terhadap Jepang dan Tionghoa. Namun, setelah Minke diasingkan semuanya telah berubah. SDI dan Tionghoa adalah masalah Gubernur Jendral. Yang mana keduanya harus dilenyapkan dengan menghasut Sjarekat untuk memusuhi Tionghoa.

Sjarekat semakin turun pamor, sampai Hadji Samadi, pimpinannya, turun jabatan dan digantikan oleh Mas Tjokro. Ditangan Mas Tjokro ini, pusat Sjarekat dari Sala pindah ke Surabaya. Selain itu, ia menggantikan Medan yang telah dibekukan menjadi Peroetoesan berbahasa Melayu seperti Medan dulu.

Di sisi lain, di Jawa muncul Douwager, duplicate Multatuli dengan koran De Expresnya yang berbahasa Belanda. Ia melahirkan Indische Partij (IP) bersama Wardi, teman Minke di Medan dulu, dan Tjiptomangun, dokter lukusan STOVIA. IP adalah organisasi Hindia pertama yang berjiwa anti-Totok. 

Dengan ini, kekuatan Eropa telah dikepung oleh organisasi besar Pribumi. Organisasi ini adalah Boedi Moelja, Sjarekat Islam, dan Indische Partij. Namun, satu persatu dari organisasi tersebut tetap akan masuk dalam Rumah Kaca Pangemanann. Yang artinya semua telah masuk dalam pengawasan. Hingga akhirnya siapa pun yang mengganggu Gubernur Jendral akan diasingkan juga.


"Sepandai-pandainya orang biarpun segudang ilmunya, dia harus mengabdi kepada yang kuat, yang jaya." (Rumah Kaca, h. 259)

Hingga akhirnya, Boedi Moelja tetap bergerak sesuai arahan Gubermen Jendral. IP, ketiga pemrakarsanya, Douwager, Wardi, dan Tjipto (D-W-T) diasingkan. Sedangkan, Sjarekat, pimpinannya telah dipengaruhi hingga tidak dapat bergerak bebas.

Namun, dalam Rumah Kaca tidak berhenti di situ. Pangemanann terus disibukkan dengan kemunculan orang-orang Pribumi yang meresahkan Gubernur Jendral. Tokoh-tokoh ini antara lain adalah Marko dan Siti Soendari. Marko adalah mantan Sjarekat yang dulunya pernah bekerja bersama Minke. Tidak seperti Minke, ia muncul dengan gaya yang berbeda. Jika Minke meninggalkan semua gelarnya, maka Marko sebaliknya. Lebih bersikap seperti Eropa dengan mengubah namanya menjadi Mas Marco.

Sedangkan, Siti Soendari adalah lulusan H.B.S. Semarang, gadis kelahiran Pamelang, aktivis Jong Java, dan aktivis Pamelang Bond, dan guru di sekolah Boedi Moeljo, Pacitan. Ia mengingatkan Pangeanann terhadap sosok Sanikem dan Gadis Jepara di catatan Minke. Bahkan Soen telah melebihi keduanya.

Namun, pada akhirnya Marco dan Soen masuk dalam Rumah Kaca Pangemanann juga. Yang berarti keduanya akan selalu diawasi dan jatuh dalam pengasingan. Hal ini dikarenakan keberadaan keduanya telah mengusik ketenangan Gubernur Jendral.

Memang seperti itulah tugas Pangemanann. Ia menjadi mata dan penyelidik segala sesuatu tentang Pribumi. Dan dari situ juga, Pangemanann mengenal siapa sebernarnya Minke (Raden Mas T. A. S.), latar belakang keluarga, orang-orang di sekitar Minke, dan segala peristiwa di masa sebelum Minke dalam pengasingan.

Di sisi lain, Pribumi semakin terserang demam organisasi. Yang mana banyak bermunculan organisasi-ornanisasi, seperti Putra Bagelan, Rencong Aceh, Rukun Minahasa, Mufakat Minang, dan Pertalian Banjar. Namun, semua organisasi ini akan tetap aman selama tidak mengusik ketenangan Gubernur Jendral.

Semakin ke sini, hidup Pangemanann semakin berat. Ia terpuruk karena terpisah dari istri dan anak-anaknya. Ia juga semakin terpuruk lagi dengan kemiskinan akibat menyuap polisi untuk menutup keburukannya dari banyak orang.

Hingga tiba waktunya, kepulangan Minke dari pengasingannya di Ambon mendarat di Tanjung Perak, Surabaya. Pangemanann dibebani tugas lagi untuk menjemput Minke. Ya, Minke telah bebas dari pengasingannya selama lima tahun. Namun, kebebasan Minke bukanlah kebebasan yang sesungguhnya. Segala gerak-geriknya selalu dalam pengawasan Pangemanann. Dari ia yang berjalan mencari tempat-tempat bekas Medan, bertemu teman lamanya dalam Sjarikat, Goenawan, sampai kematiannya. Semuanya tidak luput dari Pangemanann.

Di akhir kisah Rumah Kaca, ditutup dengan pertemuan Sanikem dan Pangemanann. Sanikem yang mencari anak laki-lakinya itu, Minke, yang ternyata telah meninggal. Tentu saja Sanikem merasa terpukul dan merasa ganjil dalam satu waktu. Hingga Pangemanann memutuskan untuk menjabarkan kepada Sanikem melalui catatannya, Rumah Kaca. Tulisan ini nantinya hendak dikirimkan kepada Sanikem beserta tiga catatan Minke, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah.

"Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles (Dia rendahkan mereka yang berkuasa dan naikkan mereka yang terhina)." (Rumah Kaca, h. 646)

Keterangan:
Judul buku : Rumah Kaca
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Kota terbit : Jakarta Timur, 2011
Tebal buku : x, 646 hlm.
ISBN : 979-97312-6-7
loading...

0 Comments: