MENYELISIK DISKURSUS DAN METODE DESCARTES


by. Miftakul Ulum Amaliyah

Rene Descartes adalah adalah filsuf Prancis sekaligus matematikawan. Sumbangsihnya terhadap pembaruan dalam filsafat inilah yang menjadikannya sebagai bapak filsafat modern. Selain itu, dalam bukunya yang berjudul Discourse on Method (Diskursus dan Metode, terj.) ini, ia menuangkan berbagai pemikirannya.

Bukunya ini berisi enam bagian, yaitu pembahasan perihal ilmu pengetahuan, kaidah-kaidah pokok perihal metode, beberapa kaidah moral yang didasarkan atas metode kesangsian, bukti-bukti keberadaan Tuhan dan jiwa manusia atau asas-asas metafisika, urutan pembahasan masalah-masalah metafisika, dan hal-hal yang merupakan prasyarat dalam penelitian alam.

Bagian pertama, Descartes menunjukkan pengertian nalar kepada pembaca. Nalar atau rasio menurutnya adalah akal sehat yang menjadi satu-satunya hal pembeda antara manusia dengan hewan. Dengan nalarlah, keanekaragaman pendapat itu muncul. Namun, hal ini tidak membenarkan bahwa penalaran yang berlainan adalah suatu yang lebih dapat dinalar. Sebab, penulis menekankan bahwa nalar yang baik tidaklah cukup, yang lebih penting adalah menggunakannya dengan baik.

"Orang-orang yang memiliki daya nalar tinggi, dialah yang mampu mengatur pikirannya dengan cara sebaik-baiknya untuk menjadi jelas dan mengerti serta mampu meyakinkan orang lain tentang apa yang telah mereka ungkapkan." (Descartes, h. 29)

Nalar ini, dijadikan penulis sebagai dasar dalam metodenya, yaitu kesangsian. Maksudnya, ia meragukan segala sesuatu yang ada. Dengan demikian, setidak-tidaknya manusia telah menemukan kebenaran ataupun kesalahan dengan nalar atau rasionya sendiri.

Bagian kedua berisi tentang bagaimana Descartes mereformasi sesuatu yang common sense atau pada umumnya. Sebagaimana metodenya, kesangsian, ini berguna untuk menghindarkan diri dari suatu kesalahan. Maka dari itu, perlu untuk memperhatikan prinsip-prinsip yang digunakan, yaitu tidak pernah menerima apapun sebagai seauatu yang benar kecuali mengetahuinya dengan jelas, memilah satu persatu kesulitan, berpikir secara runtut, dan membuat perincian selengkap mungkin.

Bagian ketiga, penulis menjelaskan betapa pentingnya moral dalam metodenya. Ia bahkan menjabarkannya kedalam empat prinsip. Hal ini antara lain, yaitu tetap mematuhi undang-undang dan adat istiadat negera dan berpegang teguh pada agama, bersikap tegas dan semantap mungkin dalam memutuskan dan mengikuti pendapat yang diyakini, berusaha melampaui diri dari pada menunggu nasib, dan menelaah berbagai kegiatan yang bisa silakukan untuk mendapatkan yang terbaik.

"Hendaklah kita mengejar atau menghindari sesuatu semata-mata karena nalar kita menganggapnya baik atau jelek, cukuplah menilai baik agar bertindak baik, dan menilai sebaik mungkin guna mencapai kebenaran." (Descartes, h. 59)

Rupanya dalam metode Descartes tetap memiliki batasan. Metodenya dibingkai secara epik oleh prinsip-prinsip moral. Namun, dengan hal itu pula setidak-tidaknya hanya diri kita sendiri yang dapat menentukan suatu kebenaran.

Bagian empat berisi tentang segala seauatu yang metafisika. Lagi-lagi dengan metode kesangsian, Descartes dapat menemukan sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indra. Ia menemukan jiwa dalam tubuh manusia, namun dengan segala keterbatasan dan ketergantungannya. Oleh sebab itu, ia mencapai sesuatu yang sempurnya, yaitu Tuhan. Descastes menyebut-Nya sebagai sesuatu yang tidak lagi dapat disangsikan.

Bagian kelima, setelah mengungkap eksistensi atau keberadaan Tuhan, di bagian ini penulis menjabarkan kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Ia menyebutkan bahwa eksistensi Tuhan dapat dibuktikan oleh keberadaan alam semeata dengan segala isinya. Hingga ia menemukan hukum alam dan posisi manusia didalamnya.

Bagian terakhir memuat tentang prasyarat dalam penelitian. Ia menjelaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan secara umum prinsip atau sebab-sebab pertama sesuatu yang akan ditelitinya. Kemudian mengkaji akibat pertama dari sebab-sebab tersebut.

Semua ini memang akan berbeda dengan prasyarat yang dituliskan oleh orang lain. Namun, inilah yang dilakukan Descartes dalam segala penelitiannya. Berdasarkan penjabaran di atas, memang sulit untuk memahami betapa kompleksnya pemikiran penulis. Selain itu, dari tulisannya terlihat jelas bahwa serasionalis apapun Descartes, ia tetap terjebak juga dalam metafisika. Namun, kita patut bersyukur karena pemikirannya ini telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap masa modern.

Keterangan  :

Judul buku : Diskursus dan Metode

Penulis : Rene Descartes

Penerjemah : Ahmad Faridl Ma'ruf

Penerbit : IRCiSod

Kota terbit : Yogyakarta, 2015

ISBN : 978-602-255-770-8

loading...

Post a Comment

0 Comments