MENGARIFI TUJUH TEORI AGAMA


Era modern telah menjadi era yang kaya akan kategorisasi. Hal ini tidak terkecuali pada agama. Masyarakat telah menganut agama sejak mereka dilahirkan dari orang tuanya. Namun, tahukah mereka dari mana agamanya berasal?

Seven Theories of Religion adalah buku karya Daniel L. Pals. Yang mana buku ini akan memberikan gambaran singkat tentang agama dari ketujuh tokoh yang berpengaruh. Tokoh-tokoh tersebut antara lain, yaitu E. B. Tylor dan J. G. Frazer, Sigmund Freud, Emile Durkheim, Mircea Eliade, E. E. Evans-Pritchard, dan Clifford Geertz.

Pertama, Edward Burnett Tylor dan James George Frazer adalah guru (Tylor) dan murid (Frazer) yang tertarik terhadap agama masyarakat primitif. Mulanya Tylor menyatakan bahwa untuk mengetahui agama masyarakat bukanlah dari bahasa saja (etnografi), tetapi juga belajar dari kebudayaannya (etnologi). Oleh sebab itulah Tylor menemukan "animisme" sebagai kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan memiliki kekuatan di balik sesuatu.

Sedangkan muridnya, Frazer memiliki pendapat berbeda meskipun dari pintu masuk yang sama. Bagi Frazer, dalam memahami agama masyarakat primitif, seseorang perlu tahu sesuatu yang magis. Hal inilah yang digunakan masyarakat primitif untuk memahami dan berupaya merubah alam dengan rasa simpati yang imitatif dan kontak. Sehingga seseorang akan sampai pada agama atau kepercayaan terhadap sesuatu yang supranatural, Tuhan.

Kedua, Sigmund Freud adalah psikolog asal Vienna, Austria. Ia terkenal akan teorinya, yaitu psikoanalisis. Sehingga penjelasannya terkait agama pun tidak akan lepas dari "kepribadian". Bagi Freud, agama adalah ilusi yang menarik manusia. Oleh karena itu, Freud menyebut orang yang beragama sebagai neurotis atau orang sakit jiwa. Karena seseorang yang beragama akan merasa bersalah seandainya tidak melakukan ritual-ritual keagamaan.

Selain itu, Freud juga memperkenalkan Totem dan Tabu. Totem adalah objek yang sakaral, sedangkan Tabu adalah hal yang terlarang atau tidak dibolehkan. Kedual hal ini adalah sesuatu yang melekat pada masyarakat beragaman dan bersifat mengikat.

Ketiga, Emile Durkheim adalah sosiolog asal Perancis. Berbeda dengan Freud yang menjelaskan agama dari kepribadian individu, Durkheim lebih tertarik untuk memahami agama dari masyarakat. Oleh karena itu ia mencetuskan Yang Sakral dan Yang Profan dalam memahami agama. Yang Sakral adalah seauatu superior, berkuasa, dalam kondisi normal ia tidak tersentuh, dan selalu dihormati. Sakral bukanlah sesuatu yang supranatural melainkan ia yang bersifat mengikat masyarakat. Sebaliknya, Yang Profan adalah bagian keseharian dari hidup yang bersifat biasa-biasa saja.

Keempat, Karl Marx adalah filsuf sosial Jerman dan pencetus teori komunisme. Dalam buku ini Pals lebih menjabarkan ekonomi Marx dari pada agama. Inilah yang membuat penjelasannya terlalu bertele-tele. Padahal, Marx hanya menyinggung sedikit sekali perihal agama. Sama seperti Freud, Marx adalah atheis. Jika Freud menganggap agama adalah ilusi, maka Marx akan menyebut agama sebagai bentuk alienasi. Agama menurut Marx adalah opium. Yang mana ia selalu dijadikan obat atau rujukan untuk menekan rasa sakit.

"Seseorang yang mencari manusia agung dalam realitas surga yang fantastis, tidak akan menemukan siapa pun, kecuali refleksi-refleksi dirinya sendiri. ...manusialah yang menciptakan agama, bukan agama (Tuhan) yang menciptakan manusia." (Marx, h. 243)

Kelima, Mircea Eliade, seorang ilmuan lintas budaya dari Rumania. Sama halnya dengan Durkheim, ia menerapkan Yang Sakral dan Yang Profan dalam memahami agama. Namun, penjelasannya mengenai kedua hal tersebut berbeda. Yang Sakral adalah wilayah yang supranatural, sesuatu yang ekstraordinasi, tidak mudah dilupakan dan amat penting.

Sedangkan, Yang Profan adalah bidang kehidupan sehari-hari, yaitu hal-hal yang dilakukan secara teratur, acak, dan tidak terlalu penting. Selain itu, penulis menyebutkan bahwa pebedaan Yang Sakral dan Yang Profan dari Durkheim dan Eliade adalah value-nya. Jika Durkheim menyebut ada suatu kelebihan dan kekurangan dalam sakral maupun profan. Maka, eliade menyebutkan bahwa yang positif adalah Yang Sakral dan yang negatif adalah Yang Profan.

Keenam, Sir Edward Evan Evans-Pritchard, salah seorang figur utama dalam antropologi modern. Ia adalah tokoh yang memperkenalakn observasi mendalam terhadap agama masyarakat primitif. Selain itu, Ia juga bisa disebut sebagai pengkritik tokoh-tokoh sebelumnya. Kritikan mendasarnya adalah bahwa tokoh-tokoh terdahulu hanya mampu menafsirkan agama dari kelihatannya saja.

Padahal, masyarakat primitif memandang agama lebih dari itu. Agama adalah konstruk hati masyarakat. Hal inilah yang menjadikan temuannya berbeda dan lebih dijadikan sebagai rujukan tokoh-tokoh setelahnya.

Namun, Pals menyebut bahwa Evans-Pritchard tidak memiliki teorinya sendiri karena terlalu banyak yang ia luruskan dari telaah tokoh-tokoh sebelumnya. Terakhir, Clifford Geertz adalah antropolog budaya kenamaan Amerika. Sama halnya dengan Evans-Pritchard, ia melakukan observasi mendalam tentang agama. Bedanya adalah agama menurut Geertz dianggap sebagai sistem kebudayaan yang setiap masyarakat memilikinya secara berbeda-beda dan ia unik.

"Agama adalah suatu sistem simbol yang bertujuan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar, dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang dengan cara membentuk konsepsi tentang sebuah tatanan umum eksistensi dan melekatkan konsepsi itu kepada pancaran-pancaran faktual, dan pada akhirnya perasaan dan motivasi ini akan terlihat sebagai suatu realistis yang unik." (Geertz, h. 414-415)

Dari ketujuh tokoh tersebut, penulis menyebutkan bahwa tokoh terakhirlah yang memiliki kritikan paling sedikit. Namun, semua tokoh ini telah menyumbangkan pemikiran-pemikiran kritisnya pada dunia. Sehingga sudah selayaknya manusia sekarang mampu mengembangkan pemikiran itu dan menciptakan pemikiran-pemikiran baru yang dapat dinikmati oleh dunia juga.

Keterangan :
Judul buku : Seven Theories of Religion
Penulis : Daniel L. Pals
Penerjemah : Inyiak Ridwan Muzir dan M. Syukri
Penerbit : IRCiSoD
Kota terbit : Yogyakarta, 2018
Tebal buku : 492 halaman

ISBN : 978-602-7696-56-3
loading...

Post a Comment

2 Comments

  1. Bagian 'mengafiri'-nya yang mana kak? Padahal nunggu yang kafir-kafir. 🥺

    ReplyDelete