KASTA BAGI PEREMPUAN BALI: ANTARA KEBANGGAAN DIRI DAN DISKRIMINASI


Siapa yang tidak mengenal Bali? Salah satu pulau di Indonesia yang kaya akan destinasi wisatanya. Selain itu, salah satu ciri khas dari Bali adalah nama-nama dengan gelar stratofikasi sosial yang kental. Era modern ini, tidak menampik kemungkinan di sana masih memegang tegus budaya tersebut.
Seperti yang dituliskan oleh Oka Rusmini, seorang penulis puisi, novel, dan cerita pendek asal Jakarta yang saat ini tinggal di Bali, dalam novelnya yang berjudul Tarian Bumi. Ia mengisahkan sosok perempuan Bali yang hidup dalam kukungan budayanya, kasta. Yang mana terdapat kebanggaan sekaligus diskriminasi di dalamnya.
Mulanya, Rusmini ini mengisahkan sosok perempuan sudra yang memiliki tekat kuat untuk menikah dengan laki-laki brahmana. Perempuan ini bernama Ni Luh Sekar. Ia seorang penari Bali yang menikah dengan Ida Bagus Ngurah Pidada. Dengan ini nama Sekar berubah menjadi Jero Kenanga.
Tentu saja pernikahan mereka tidak berjalan lancar. Ada ketidaksukaan dari pihak orang tua Ida Bagus Ngurah Pidada, yaitu Ida Ayu Sagra Pidada dan Ida Bagus Tugur. Namun, lambat laun semuanya berjalan sebagaimana mestinya setelah kelahiran anak mereka, Ida Ayu Telaga Pidada.
Mengingat betapa susahnya masa kecilnya dulu, Sekar seorang perempuan sudra yang berambisi ingin menjadi bangsawan dengan menjadi penari joget yang hebat. Ia adalah gadis yang memiliki ambisi untuk menjadi penari gojet dan menikahi laki-laki bangsawan hanya untuk menaikkan derajatnya dan keluarganya. Hingga keinginannya itu tercapai. Ia berhasil menikah dengan putra seorang brahmana dan mengganti namanya menjadi Jero Kenanga.
"Hidup bagiku adalah pertarungan yang tidak pernah selesai. Tak akan habis selama aku masih hidup. Aku harus jadi pemenang. Sebelum aku mengalahkan hidup, aku tak ingin mati!" (Ni Luh Sekar atau Jero Kenanga, h. 43)

Pikir Sekar dulu, menjadi bagian dari Brahmana adalah hal yang sangat baik dan akan mengangkat derajatnya beserta keluarga. Namun, ia tidak tahu bahwa ada harga yang harus dibayar untuk semua itu. Ia akan kehilangan namanya, suasanya dikeluarganya, dan di griya pun ia akan tetap dipandang sebagai perempuan sudra. Selain itu, di griya hanya ada aturan dan kewibawaan. Sebagai seorang yang telah menjadi bagian dari keluarga bangsawan, ia harus selalu ini itu sesuai dengan aturan yang berlaku dan tentu saja harus mempertahankan kewibawaan hanya agar dihormati orang lain.
Dan sebagai Jero, sebutan untuk perempuan sudra yang menikahi laki-laki bangsawan, ia mengalami diskriminasi. Ia selalu mendapat teguran dari sang Ida Ayu, ibu mertuanya, karena ia harus tetap menjaga wibawa di mana pun, ia harus memanggil anak perempuan satu-satunya, Telaga, itu dengan Tugeg atau panggilan seorang ibu (sudra) kepada anaknya (brahmana), tidak boleh sering mengunjungi rumah lama, tidak boleh memandikan mayat ibunya, tidak boleh ini dan itu. Segalanya mengikat dan harus dipatuhi Sekar.
Oleh sebab itu, Sekar tidak ingin putri semata wayangnya itu, Telaga, mengalami nasib yang sama sepertinya. Ia terus memberikan nasihat-nasihat dan aturan kebangsawanan untuk Telaga. Bahkan, ia menuntut Telaga untuk menjadi Ida Ayu yang terhormat. Telaga yang harus pandai menari sepertinya dulu, harus menikahi Ida Bagus dari griya, dan ia menjadi semakin otoriter terhadap hidup Telaga setelah nenek meninggal.
Sampai akhirnya Telaga menemukan dampatan hatinya, Wayan Sasmitha. Ia seorang mahasiswa seni semester akhir yang karya-karyanya sangat banyak dan sempat pula diundang ke luar negeri. Sasmitha juga menjadi hamba kesayangan tukakiang atau kakek Ketu.
"Kelak, kalau kau sudah mengenal laki-laki, kau harus tanya dirimu sendiri. Apa dia pantas kau cintai. Apa perasaanmu sungguh-sungguh padanya. Harus bisa kau bedakan rasa kagum dan mencitai dengan baik. Kalau itu tidak bisa kau bedakan, jangan coba-coba memilih laki-laki untuk tempat bergantung." (Ida Ayu Sagra Pidada, h. 11)

Namun, hidup Telaga tidak semudah itu. Ia harus menikahi laki-laki yang menurut ibunya baik, seorang Ida Bagus. Ibu Telaga menginginkan anaknya bahagia menurutnya, bukan bahagia menurut Telaga sendiri.
Pada akhirnya Telaga memberontak. Ia menginginkan kebahagiaan di hidupnya sendiri. Ia memutuskan untuk menikah dengan Wayan Sasmitha. Dan tentunya pernikahan ini tidak mendapat restu dari keduabelah keluarga. Namun, mereka tetap menjalaninya dan bahkan mereka dikaruniai seorang putri, Luh Sari.
"Jangan pernah menikah hanya karena dipaksa oleh kebutuhan atau sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberikan ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko." (Ida Ayu Sagra Pidada, h. 17-18)

Lambat laun, seperti yang diyakini masyarakat bali, apabila seorang Ida Ayu menikahi seorang sudra, maka akan ada hal-hal yang menyakitkan nantinya. Dan itulah yang juga dipercaya oleh Luh Gumbreg, ibu Wayan, mertua Telaga. Wayan meninggal di studio lukisnya karena penyakit jantungnya, namun oleh ibu Wayan hal ini dianggap sebagai kesialan akibat menikahi seorang Ida Ayu.
Di akhir cerita, dijelaskan bahwa untuk menikam segala kesialan itu, Telaga harus melakukan patiwangi, upacara penanggalan gelar Ida Ayu-nya untuk benar-benar menjadi sudra seutuhnya. Semua ini dilakukannya demi kesejahteraan keluarganya dan memenuhi permintaan sang mertua. Selain itu, semua demi putri semata wayangnya, Luh Sari.
Dalam novel ini, penulis memang tidak terus terang terhadap ketabuan. Namun, tulisannya ini cukup mewakilkan betapa kasta adalah bentuk diskriminasi, terutama bagi perempuan. Menariknya, penulis menyisipkan pesan untuk mengikuti kata hati, demi kebahagiaan yang semata-mata bukan dari kasta kebangsawanan.  Meskipun kasta tidak benar-benar bisa dilepaskan dari budaya Bali.
"Kau harus sadar, kebahagiaan itu tidak memiliki pakem. Tidak ada kriteria idealnya. Setiap orang memiliki warna yang berbeda beda, yang dia dapat dari pengalaman hidup." (Ida Bagus Tugur, h. 26)

Keterangan:
Judul buku : Tarian Bumi
Penulis : Oka Rusmini
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Kota terbit : Jakarta, 2007
Tebal buku : 176 hlm.
ISBN : 978-602-03-3915-3


loading...

Post a Comment

0 Comments