CORONA, AJANG DISKRIMASI DAN RASISME DI DUNIA




Dipenghujung 2019 telah eksis berita tentang Corona. Aktor yang digadang-gadang berasal dari Wuhan, China ini telah merebut perhatian warga dunia. Pasalnya, benar wujudnya tidak kasap mata, namun kehebatannya dalam menghilangkan nyawa tidak bisa diragukan lagi.

Kabarnya, Indonesia turut heboh perihal Corona. Sempat dilansir oleh kompas.com pada Senin, 24 Februari 2020, bahwa hasil penelitian mengungkapkan tentang penyebaran Corona yang terjadi di Pasar Huanan Seafood di Wuhan. Setelah itu, portal online ini pada Senin lalu (09/03/2020) juga menyatakan bahwa Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, mengumumkan adanya pasien yang positif virus corona.

Hal tersebut sontak menggegerkan masyarakatnya dan kepanikan pun mulai hinggap. Tidak hanya itu, kepanikan semakin bertambah lagi setelah adanya perintah presiden untuk tetap di rumah saja. Tentu saja ini telah membuktikan bahwa Indonesia semakin kritis saja keadaannya. Bukan hanya panik dan takut, bahkan masyarakat menjadi lebih sensitif.

Kesensitifan tersebut bahkan sudah dianggap tidak wajar atau berlebihan. Bagaimana tidak, perihal bersin ditempat umum saja masyarakat sudah menjauhinya, menjaga jarak yang berlebihan, enggan bertegursapa dengan orang China atau keturunannya, dan lain sebagainya. Hal ini seakan-akan memperjelas keberadaan diskriminasi dan rasisme yang semakin menjadi-jadi. Hal ini bukan lagi dialami oleh Indonesia saja, tetapi oleh warga dunia.

Sempat dilansir oleh CNN Indonesia pada Rabu, 4 Maret 2020, bahwa seorang mahasiswa asal Singapura, Jonathan Mok, menjadi korban perundungan (bully) yang dikaitkan dengan penyebaran virus corona di London, Inggris. Ia menjadi korban perundungan karena ia orang Asia.

Sebelumnya juga pernah terjadi pada akhir Januari lalu, yaitu warga keturunan Tionghoa di Prancis dan Kanada mengatakan mereka mengalami perlakuan rasis di tengah merebaknya wabah corona. Sedangkan di Kanada, muncul serangan daring terhadap restoran China di sana. Sentimen rasis terhadap warga keturunan Tionghoa ini sudah dilaporkan terjadi di beberapa negara, termasuk Prancis dan Kanada.

Hal serupa juga sempat dilansir oleh TEMPO.CO pada Sabtu (15/02/2020) yang menyatakan bahwa wabah corona telah memicu perilaku rasis warga Amerika Serikat. Menurut laporan terbaru, seorang pelajar etnis Cina-Amerika menjadi korban kekerasan. Pelajar SMA usia 16 tahun ini dipukuli di San Fernando Valley, California. Para penyerang menuding dia penyebab wabah virus Corona.

Selain itu, Dylan Muriano, pelajar SMP etnis Vietnam-Amerika di Los Angeles dikirim ke perawat di sekolahnya hanya karena ia batuk akibat tertelan air. Sementara pelajar lainnya yang batuk tidak dibawa ke perawat sekolah. "Karena mereka bukan orang Asia," kata Leyna Nguyen, ibu pelajar SMP itu kepada Fox 11. Lebih parah lagi, ketika perawat memastikan Muriano tidak sakit dan kembali ke kelasnya, teman-teman satu kelasnya malah menudingnya membawa virus corona.

Di Austin, Texas, juga seorang staf Pusat Budaya Asia-Amerika yang batuk sesaat di pusat kebugaran di kota itu. Hal ini sontak membuat orang-orang meninggalkan tempat tersebut. Peristiwa itu sempat diungkapkan Ketua Pusat Kebudayaan Asia Amerika, Amy Wong Mok kepada CBS.

Bahkan detik.com pada Jumat lalu (3/4/2020) juga turut mengabarkan bahwa Rani Pramesti, seorang seniman asal Indonesia yang kini bermukim di kota Melbourne, baru-baru ini mengalami serangan rasisme. Ia mengatakan sebenarnya bukan virus yang diskriminatif, tapi orang-orangnya. Sementara itu, anggota parlemen Liberal di Australia, Gladys Liu, yang juga keturunan Asia, mengatakan bahwa ia sangat kecewa dengan contoh-contoh tindakan rasis dalam komunitas.

Berita-berita tentang rasis tersebut ternyata telah menyedot perhatian netizen, bukan lagi di Indonesia saja tetapi di dunia. Namun, tetap saja hal ini bukan semakin reda tetapi meningkatkan rasa parno yang semakin menjadi saja. Padahal, corona bukan lagi musuh individu melain seluruh manusia di belahan bumi mana pun.

Sebagai golongan orang-orang yang katanya telah semakin cerdas, perbuatan diskriminasi dan rasis ini telah membuktikan bahwa semuanya paradoks. Orang yang hidup di era milenial ini bukannya lebih baik dari orabg terdahulu? Namun, kenapa yang dilakukan justru sebaliknya.

Tunjukan pada dirimu sendiri dan dunia, bahwa orang era milenial memang telah berhasil memanusiakan manusia. Mereka telah menggandeng sesamanya untuk melawan corona yang sekarang ini menjadi musuh kita semua. Stay save and respect to each other.
loading...

Post a Comment

0 Comments