IMPAK STRUKTURALISME TERHADAP LGBT



Berbicara tentang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) memang tidak pernah ada habisnya. Mulai dari gerakan, stigma, justifikasi, sampai peraturannya pun ada. Namun, pembicaraan ini tidak akan lengkap jika tidak menguliknya dari bawah, akar kelahiran LGBT.

Sempat disinggung oleh Erwin Ernanda, founder Jaringan Mahasiswa Progresif (JMP) dalam diskusi di warung kopi beberapa hari lalu. Ia mengungkapkan bahwa perlu mengenali LGBT dari akarnya dulu. Mulai dari pemahaman terhadap feminisme radikal, sosiologi, hingga filsafat. Hal ini dimaksudkan agar tidak mudah memberikan tanggapan mengenai LGBT.

Erwin juga menegaskan bahwa membahas LGBT tidak akan lepas kaitannya dengan perspektif masyarakat, yang mana ini tidak lepas hubungannya dengan sosiologi. Bahkan telah terdikte jelas dalam sosiologi, bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan norma atau pemikiran mayoritas akan dianggap menyimpang. Hal ini tidak luput dari tanggapan masyarakat tentang LGBT.

Perihal LGBT ini, masyarakat cenderung esensial. Mereka hanya melihat fenomena yang hanya dapat dilihatnya dan kemudian dengan mudahnya menafsirkan itu. Hanya cover (kenampakannya) saja yang dilihat, bukan menganalisisnya terlebih dahulu. Hal inilah yang masyarakat hakimi kepada LGBT, sehingga yang muncul hanyalah stigma.

Pemikiran seperti itu rupanya telah ada sejak dahulu. Pasalnya, Jaques Derrida, seorang tokoh post strukturalisme, telah menuangkan kritiknya perihal esensialisme yang tumbuh subur dalam pemikiran masyarakat. Ia dengan tegas menyuarakan antiesensialisme yang diamini oleh masyarakat.

Antiesensialisme Derrida mengungkapkan bahwa esensialis terlalu ceroboh dalam menafsirkan masyarakat. Mereka terburu-buru melontarkan pendapat hingga lupa bahwa pendapatnya itu dapat menimbulkan justifikasi. Derrida juga berujar bahwa para esensialis itu perlu untuk menyelidiki atau menganalisis permasalahan dulu baru mengambil keputusan.

Selain itu, Derrida juga mengkritiki strukturalisme, paham yang secara tidak sadar diamini oleh masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa strukturalisme terlalu serampangan mendefinisikan segala sesuatu. Sama halnya dengan LGBT, masyarakat hanya mampu mendefinisikan LGBT sesuai langue (bahasa baku) yang dibuat oleh strukturalis. Hal inilah yang dianggap Derrida sebagai metafisika kehadiran.

Metafisika kehadiran adalah kebutaan masyarakat akan realitas. Mereka terlalu sibuk oleh penilaiaannya terhadap penampakan tanpa mau menganalisisnya. Selain itu, efek strukturalisme, yaitu pendefinisian yang kaku, telah membuat masyarakat puas dan menerimanya begitu saja.

Betapa mengerikannya strukturalis dengan pemikiran-pemikirannya. Hanya karena pemahaman bahasa, semuanya menjadi salam kaprah. Pun perihal gender dalam LGBT. Karena dalam kategori dari gender yang dibuat oleh strukturalis hanya membaginya dalam dua jenis, yaitu maskulin untuk laki-laki dan feminim untuk perempuan. Padahal manusia memiliki kedua sifat itu dalam dirinya.

Kritik Derrida memang terkesan begitu gamblangnya. Namun, kritik itu tidak cukup kuat untuk meruntuhkan benteng strukturalisme. Senandainya berhasilpun, hanya kecil kemungkinan untuk benar-benar bisa mengubur strukturalisme. Dan, LGBT pun tidak akan mendapatkan diakriminasi seperti di Indonesia. Derrida hanya mampu memberikan pengertian bahwa setidak-tidaknya manusia perlu melakukan analisis sebelum melontarkan putusan.

Post a Comment

0 Comments