BINCANG TENTANG DISKRIMINASI



"Manusia tidak setara secara biologis, namun jika mereka percaya kesetaraan maka akan tercipta pula kesejahteraan." (Harari, Sapiens)

Sejak dulu, gema-gema kesetaraan telah menggelegar. Perbincangan tentangnnya tidak akan pernah tuntas hanya sebatas materi. Bahkan Harari menyebut bahwa mereka yang percaya kesetaraan maka akan sejahtera. Namun, cukupkah hanya percaya? Cukupkah hanya satu pihak saja yang mempercayai kesetaraan?

Tentu saja semuanya tidak akan cukup dengan percaya. Apalagi hanya satu pihak yang menerapkan kesetaraan, sedangkan pihak yang lain tidak. Hal ini justru akan menimbulkan bias dan berakhir pada diskriminasi.

Pasalnya, pemikiran yang tidak sejalan saja akan menimbulkan konflik. Apalagi ini perihal kesetaraan yang mana baik laki-laki atau pun perempuan perlu untuk bertindak saling menghargai hak masing-masing. Namun di era yang katanya telah memiliki hukum tertulis ini masih saja terdapat diskriminasi.

Menurut Tjut Zakia Anshari, Founder Pena Ananda, mengungkapkan dalam diskusi di warung kopi lalu (12/03/2020), bahwa diskriminasi sama halnya dengan membedakan kelompok lain dan membuat kelompok yang dibedakan itu kehilangan haknya. Hal ini sering terjadi dalam masyarakat dan Tjut menyontohkannya dalam tulisan. Ia menyebut diksi "wanita" adalah suatu bentuk diskriminasi, yang mana memiliki akronim wani ditata.

Sedangkan menurut Zulfa, salah satu dosen di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (Fasih) IAIN Tulungagung bahwa perihal diskriminasi telah diatur secara hukum tertulis. Hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Singkat kata, diskriminasi adalah suatu bentuk pembatasan dan pembeda-bedaan terhadap hak seseorang.

Namun, tidak semua masyarakat tahu dan paham terkait aturan tersebut. Zulfa mengatakan bahwa yang dapat mengakses undang-undang (UU) itu hanya aktivis. Dan seharusnya aturan itu disebarluaskan dan dibumikan bahasanya. Karena memang definisi dalam UU itu tidak sederhana, serta berikan contoh penerapannya kepada masyarakat agar lebih mudah dimengerti.

Selain itu, masih banyak lagi faktor yang melanggengkan diskriminasi. Faktor ini antara lain, yaitu kultur patriarki yang bias gender, ketidaksadaran masyarakat, minimnya pengetahuan, tafsir agama yang konservatif, dan stigma. Tjut juga menyatakan bahwa ketakutan dari dalam diri korban diskriminasi juga menjadi faktornya.

Pertama, kultur patriarki yang bias gender tidak bisa dielakkan. Hal ini terlihat dalam keseharian masyarakat yang masih mengganggap bahwa laki-laki harus di publik, sedangkan perempuan cocok di domestik saja. Bayangkan, betapa terkukungnya laki-laki jika harus sibuk di luar saja. Pun perempuan yang ingin mengembangkan bakatnya di publik. Mereka yang terkukung dalam kultur patriarki sudah kehilangan hak akan kebebasannya dan ini sudah termasuk diskriminasi.

Kedua, ketidaksadaran masyarakat akan bias gender. Hal ini secara tidak langsung akan menciptakan diskriminasi juga. Masyarakat secara tidak sadar mengamini setiap aturan yang berlaku di lingkungannya. Mereka hanya mengikuti tanpa tahu bahwa tidak semua aturan itu baik, bisa saja ada bias gender didalamnya. Padahal, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam lingkungan masyarakat.

Ketiga, minimnya pengetahuan tentang gender. Kalau masalah ini memang cukup sulit. Namun, sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang telah melek gender untuk memberitahu mereka yang minim pengetahuan tentang gender. Beritahu secara perlahan dengan memberikan contoh yang dapat dimengerti oleh masyarakat.

Keempat, tafsir agama yang konservatif. Ini yang bisa dibilang berat. Karena tidak semua masyarakat paham tafsir. Mereka cenderung mengikuti apa yang telah diajarkan tokoh agama. Kecenderungan akan tafsir buta ini yang perlu diluruskan. Siapa tahu mereka malah termakan oleh tafsir yang bias gender. Sekali lagi, sudah menjadi kewajiban semua orang untuk saling memberitahu kebaikan.

Kelima, stigma masyarakat pada sesuatu yang berbeda. Misalnya saja di masyarakat laki-laki terbiasa untuk bekerja. Seandainya tugas ini diambil alih oleh perempuan, masyarakat akan secara spontan melontarkan stigma pada mereka. Stigma inilah yang menimbulkan diskriminasi dan perbuatan itu dianggap menyimpang.

Memang perjuangan melawan stigma sudah dilakukan sedemikian rupa, namun perlawanan untuk mempertahankan status quo, banyaknya tantangan dan kurangnya dukungan membuat banyak orang menyerah. Semua ini hanya karena stigma masyarakat. Hal inilah yang seharusnya lebih-lebih untuk diperhatikan.

Terakhir, ketakutan dari dalam diri korban diskriminasi. Hal ini juga dapat melanggengkan diskriminasi di masyarakat. Yang mana seharusnya korban itu mendapat perlindungan dari keluarga dan masyarakat. Namun, kenyataannya korban selalu mendapatkan cibiran dan perlakuan yang merendahkannya. Hal inilah yang menyebabkan korban menjadi takut untuk speak up dan pelaku diskriminasi tetap aman-aman saja. Semua masyarakat harusnya mampu untuk memberikan support kepada korban diskriminasi dan bantu dia untuk speak up. Untuk korban, perlu juga untuk menanamkan perspektif bahwa kamu itu baik.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang mengakibatkan diskriminasi. Namun, bagian terpentingnya adalah mencegahnya bukan membiarkannya begitu saja. Mulai terapkan itu pada diri sendiri, ajarkan pada orang terdekat atau keluarga misal, dan terus lakukan keadilan gender pada siapa pun.

Post a Comment

0 Comments