MENELADANI BUDAYA ULAMA


Mengapa kita banyak menemukan fakta bahwa ulama-ulama kita zaman dahulu begitu luar biasa dalam keilmuan dan kontribusinya bagi alam pemikiran Islam, sehingga dapat menguatkan sendi-sendi bangunan Aqidah, keilmuan masyarakatnya.

Ahlul Hadis, kebanyakan bukan hanya menguasai satu bidang saja, tak jarang ulama yang ahli dalam sanad dan matan hadis juga ahli dalam perbintangan, mereka juga ahli dalam sejarah Islam terdahulu, ahli tafsir serta ahli Matematika sekaligus. Lalu mengapa sangat jauh berbeda dengan generasi selanjutnya yang difasilitasi berbagai media dan tekhnologi?

Imam Syafi’i menceritakan teguran yang beliau dapatkan di masa kecilnya. Beliau adalah seorang anak yang cerdas, banyak menghafal syair-syair bahkan jumlahnya lebih dari ratusan bait syair. Satu hari seorang ulama ingin mendengarkan secara langsung kecerdasan beliau dan kefasihannya dalam bersyair.

Setelah mendengarkan bait syair yang beliau baca, Ulama tersebut mengatakan perkataan yang menggetarkan sanubari imam Syafi’I, bahwa alangkah celaka bila kecerdasan dan kefasihannya itu tidak dipergunakan untuk memperjuangkan ajaran Islam dan mengajarkannya kepada seluruh manusia.

Begitu membekasnya pengalaman tersebut, imam syafi’i sampai bergumam “Jika guruku tidak menegurku saat itu, mungkin aku hanya akan menjadi tukang syair jalanan”.

Syaikh Hamzah Yusuf pendiri Universitas pemikiran Islam pertama di Amerika (Universitas Zaytunah), mengatakan bahwa “Apa yang diproduksi dari indra manusia (penglihatan/pendengaran) berupa symbol yang buruk akan membentuk bahasa seseorang, dan bahasa adalah alat pengasah kecerdasan”.

Mari kita lihat, bagaimana rasulullah shallallahu alaihi wasallam, begitu dikenal oleh sahabat karib beliau, sebagai orang Arab yang paling baik tutur katanya, fasih lisannya. Maka disana letak hikmah mengapa Rasulullah sejak kecil telah diasuhkan di luar kota Makkah, yang saat itu notabene masyarakatnya terbiasa menggunakan bahasa syair dan puisi.

Rasulullah saw dititipkan di perkampungan Bani Sa’ad yang terkenal dengan kebagusan kaidah bahasanya, keelokan sopan santunnya, kemandirian mereka dalam mencukupi kebutuhan hidup.

Syaikh Hamzah Yusuf juga menyatakan, bahwa “orang-orang besar dalam sejarah sangat ahli dalam retorika bahasa, contohnya Malcolm X, Adam Smith, Iqbal, mereka mampu menyuarakan bahasa mereka yang mempresentasikan kecerdasannya dalam melihat kondisi yang tengah dialami”.

Sebagian dari kita belum menyadari betapa beruntungnya kita dijadikan sebagai seorang muslim yang memiliki tauladan Nabi seluruh umat, tauladan dari Ulama pembawa cahaya ilmu bagi kejahailan manusia di Timur dan Barat.

Coba buka mata kita, sejalan dengan berkembangnya tekhnologi, media, adakah yang lebih dicontoh oleh putra-putri barat, selain lakon manusia super khayalan, Spiderman, Batman, Iron Man? jelaskan kebudayaan seperti apa yang mereka miliki.

Perhatikan pula, bahasa seperti apa yang berkembang di tengah-tengah masyarakat mereka? Maka yang kita lihat, mereka memproduksi hal-hal yang memiliki kekuatan untuk merusak, nyanyian dengan bahasa kasar dan liar, tontonan yang membangun mental perusak.

Meskipun ada sedikit diantaranya yang dapat diambil nilai baiknya, seperti Disiplin, Hobi Membaca, dll. Yang kita takutkan adalah tontonan rusak tersebut menjadi auto model bagi pemuda muslim yang kerontang hati dan fikirannya.

Modelnya untuk mementukan arah hidup, ia tergiur dengan kulit barat sebagai kaum professional, maka dia menganggap bahwa spesisialisasi Ilmu adalah jalan terbaik untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan begitu ia pasti akan terperangkap mindset, bahwa bangku kuliah adalah untuk mengejar nilai setingginya dengan kelulusan terbaik, ia mengarahkan keilmuan untuk tujuan kemapanan.

Ia tidak percaya bahwa setiap manusia telah ditetapkan rezekinya asal sungguh-sungguh berusaha. Ia kemudian telah salah mengarahkan spesialisasi ilmunya, menjadi penyempitan akalnya. Bagaimana tidak, ia haya membatasi diri mempelajari dan menghabiskan usianya di bangku kulaih selama 4 tahun hanya untuk mempelajari satu item.

Itu jika di benar-benar belajar, jika tidak ia sama saja hanya memangkas usianya tersebut untuk mengerjakan tugas-tugas bagaikan buruh perah. Kebiasaannya, mahasiswa kedokteran fokus pada kedokteran saja, mahasiswa pertanian fokus pada pertanian saja, mahasiswa pendidikan guru hanya fokus pada keguruannya saja.

Sangat jauh berbeda dengan tradisi keilmuan Islam. Ulama kita dahulu tidak pernah membatasi ilmu yang akan beliau pelajari. Kaidahnya hanyalah, ilmu yang mengundang keridhaan Allah, bermanfaat bagi masyarakat dan menuntaskan problem umat.

Sosok Imam Al-Ghazali, ulama besar umat Islam, ahlul hadis, ahli Fiqih, Ahli Filsafat, penulis, guru, Ahli Strategi perang dll. Dengan konsekuensi seperti ini, maka hasilnya adalah, setiap detik kehidupan para ulama selalu terisi dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang didapat baik melalui pengajaran, buku atau pengalaman.

Mengapa hampir semua ulama kita, diarahakan pendidik mereka untuk menghafalkan Qur’an sejak kecil?. Karena Al-Qur’an adalah kumpulan pembangun kepribadian, untuk makhluk dari sang khaliq. Bukan hanya ajaran yang ada di dalamnya, bukan hanya kisah, bukan hanya hukum.

Yang menakjubkan adalah bahwa Al-Qur’an menyampaikan seluruh isinya dengan bahasa yang sangat indah tiada bandingan, seolah dunia dan seluruh isinya hingga karakter, sikap, sifat, tabiat, hikmah seluruh yang menghuninya dipantau dan dijelaskan oleh Al-Qur’an.

Budaya membaca dan menulis adalah budaya Ulama kita. Sebagaimana disampaikan sebelumnya, bahwa kecerdasan, retorika bahasa dan kebijaksanaan dalam melihat kondisi di sekitar sangat berkaitan dengan apa yang diterima oleh Indra, darinyalah akan membentuk kecerdasan bahasa yang melibatkan akal dan hati.

Hal yang sangat aneh bilamana mahasiswa hanya membaca buku-buku kisah romansa, meskipun ia berpendapat bahwa di dalamnya begitu banyak konflik, namun tanpa sadar bahwa alam fikiran bawah sadarnya mengekspos bacaannya ke dunia nyata.

Sebagain juga beranggapan bahwa buku-buku seperti itu dapat menenangkan hati, jika ulama kita masih hidup, beliau akan tertawa “bagaimana mungkin kisah patah hati dapat menenangkan hati?.

Sebenarnya ini juga merupakan akibat dari ketidakpahamannya akan pendidikan islam yang ia terima sejak kecil. Karena banyak yang diajarkan Islam, namun tak mengerti apa itu Islam.

Budaya Diskusi adalah budaya Ulama kita. Diskusi sering disalah artikan oleh para mahasiswa. Mereka menyamakan diskusi yang dimaksudkan ulama dengan Presentasi makalah di kelas.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin jilid 2 mengingatkan kekeliruan manusia generasi sesudah sahabat-sahabat dalam mempersepsikan musyawarah. Musyawarah dan diskusi yang diinginkan sahabat menurut Imam Al-Ghazali adalah “memperhatikan adab-adab dan syaratnya”.

Pertama, tidak meninggalkan yang Fardhu ain dengan alasan mengerjakan yang Fardhu kifayah. Kedua, meninggalkan ujub dan kemunafikan. Ketiga, menghilangkan ta’ashub (Fanatik, red) kemazhaban (bukan ghirah beragama, terang).

Keempat, masalah yang didiskusikan adalah masalah yang membawa ridho Allah, mendatangkaan manfaat dan menghilangkan mudhorot. Kelima, perdebatan diadakan pada tempat yang sunyi dari manusia.

Keenam, selalu memposisikan diri sebagai seorang yang kehilangan barang saat perdebatan, maka taka da bedanya, jika yang menemukan barang tersebut dia sendiri atau orang lain. Ketujuh, tidak dibenarkan berkata bohong mencari alasan dan mencaci saat ia tidak tahu.

Maka, terbentuknya komunitas yang budayanya adalah membaca, menulis, berdialog dan melakukan aksi, akan mempercepat kematangan para pemuda muslim dalam mencapai keilmuan.