MENAPAKI JEJAK LANGKAH MINKE




Tuntas dengan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Tetralogi Pramoedya yang selanjutnya berjudul Jejak Langkah. Buku yang tentunya tidak kalah inspiratif ini memuat cerita dan pengalaman-pengalaman Minke di Batavia atau Betawi. Kisahnya berlanjut setelah kabar kematian istrinya, Annelies dan Minke memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di sana.

Pramoedya menuliskan bahwa Minke melanjutkan studi ke STOVIA, sekolah kedokteran untuk Pribumi. Di sini, ia diperlakukan berbeda, yang mana ia dituntut untuk benar-benar menjadi Pribumi dengan mengenakan atribut Pribuminya. Selain itu, ia harus mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran.

Bulan selanjutnya, ia mendapat kunjungan dari Bundanya. Seperti halnya seorang ibu dan anak, Minke mendapatkan petuah-petuah dari Bundanya. Hebatnya, penulis mampu menyisipkan pengetahuan-pengetahuan dalam ceritanya perihal Revolusi Prancis. Di mana revolusi ini digadang-gadang berlian dalam sejarah. Namun, menjadi suatu hal yang utopis bagi sosok perempuan Pribumi yang dicantumkan penulis sebagai Bunda Minke. Tidak heran, jika bumbu-bumbu pengetahuan dalam novel tetralogi Pramoedya adalah salah satu keunggulan dari buku-bukunya.

Selain pengetahuan, tidak terlewatkan juga nuansa-nuansa roman dalam buku ini. Di mana penulis menggambarkan Minke yang bertemu dengan seorang perempuan Tionghoa, An Sang Mei. Perempuan yang cantik, cerdas, dan idealis dalam pemikirannya. Mereka dipertemukan melalui sebuah surat dari mendiang sahabat Minke dulu, kemudian mereka menjalin persahabatan hingga pernikahan.

"Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri." (An Sang Mei, Jejak Langkah, h. 147)

Hari-hari Minke dan Mei diwarnai dengan kesibukannya itu. Sampai suatu ketika ada perubahan pada Mei. Maklum, selain perempuan yang cantik dan cerdas, ia adalah seorang yang begitu cinta pada tanah kelahirannya. Ia menjadi aktivis yang kekeh, hingga kesehatannya pun tidak ia pedulikan.

Pada akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal. Minke berduka untuk kedua kalinya setelah yang pertama adalah kepergian istri pertamanya. Selain itu, ia juga dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena ketidakteribannya. Namun, ia akan menjadi bebas setelah keluar dari sekolah itu, katanya. Beruntung, karena setelahnya banyak peluang yang mendekat kearahnya.

Jejak langkahnya berlanjut hingga Minke mendapati banyak surat dari kawan-kawannya, antara lain Ter Haar dan  Miriam Frischboten. Di mana pembahasannya seputar pergejolakan di Bali dan Aceh yang melibatkan Belanda (Eropa) didalamnya. Hingga suatu hari terlintas oleh Minke untuk membentuk organisasi modern dengan nama Sjarikat Prijaji. Organisasi atau syarikat ini beranggotakan orang terpelajar dan masyarakat berbagai golongan.

"Bahagialah dia yang tak tahu sesuatu. Pengetahuan, perbandingan, membuat orang tahu tempatnya sendiri, dan tempat orang lain, gelisah dalam alam perbandingan." (Minke, Jejak Langkah, h. 265)

Syarikat itu semakin berkembang dengan berbagai hal yang dikeluarkannya, termasuk surat kabar 'Medan'. Ini adalah pertama kalinya Pribumi memiliki persurat kabaran sendiri, tanpa campur tangan Eropa, hanya Pribumi.

Beberapa bulan selanjutnya, Minke kedatangan Miriam Frischboten dan suaminya, Hendrik Frischboten. Mereka bertemu untuk melakukan kerjasama. Di sisi lain, Sjarikat Prijaji telah dianggap wafat. Yang mana anggotanya statis dan tidak dapat bergerak maju, hanya mampu mengandalkan Gubermen.

Tidak putus harapan Minke di situ. Ia bergerak untuk menerbitkan harian 'Medan'nya sendiri. Hingga harian itu berkembang pesat dengan majalah yang juga turut menyertainya.

Berkembangnya 'Medan' tidak pelak juga mempengaruhi para petinggi, Raden Tomo. Ia bermaksud untuk mendirikan organisasi sejenis Syarikat, yaitu Budi Oetomo (B.O). Organisasi ini kemudian berkembang pesat dengan 'Medan' sebagai medannya.

Di sisi lain, penulis masih saja menyisipkan cerita roman, yaitu pernikahan Minke lagi dengan seorang putri raja Maluku, Prinses van Kasiruta. Selain cantik dengan kulit sawo matangnya, ia adalah pribadi yang cerdas dan berwibawa, Bunga Akhir Zaman versi Pribumi kata Minke.

Setelah kegagalan Syarikat Priyayi, Minke dan temannya, Thamrin berniat membentuk organisasi modern lagi tetapi dengan hal-hal yang berbeda dari Syarikat dulu. Organisasi ini lebih bebas dan tidak terikat oleh golongan priyayi dan didalamnya ada unsur-unsur kebebasan, Syarikat Dagang Islam. Ini didirikan di Buitenzorg, dipimpin oleh Sjeh Ahmad Badjenet dan dibendaharai oleh Thamrin Mohammad Thabrie.

Baik Medan, B.O, maupun Sjarikat Dagang Islamijah tetap berjalan dan masif meskipun tidak mulus. Ada saja rintangan yang menghadang. Belum lagi, masalah pribadi yang dihadapi Minke dan Prinses. Ternyata Minke dinyatakan mandul. Ia tidak dapat menghasilkan keturunan, anak yang diidamkan selama ini.

Di sisi lain, semakin marak pula berita tentang Tionghoa. Yang mana mereka, Golongan Muda yang dipelopori oleh Sun Yat Sen, telah mampu mengubah Tionghoa menjadi republik. Rupanya, hal ini telah membuat pengaruh pada Hindia. Di mana Sin Po, surat kabar Tionghoa, telah menjadi pesaing tangguh bagi 'Medan'. Namun, Minke dan kawan-kawannya tetap berjuang keras untuk pertumbuhan 'Medan'.

Dan perjuangan tersebut tidak sia-sia. Minke dan anggota lain dalam berbagai pujian dan tanggapan positif. Hingga suatu hari munculah gerombolan polisi beserta surat tuntutan untuk Minke. Ia ditangkap dan hendak di bawa ke luar Jawa atas tuduhan hutang Bangsa. Dan terpaksa ia menceraikan istrinya, Prinses, melalui surat.

Begitulah akhir kisah Minke dalam Jejak Langkah.  Penulis lebih banyak menceritakan pergerakan organisasi modern didalamnya. Setelahnya, penulis akan menuntaskan ceritanya dalam tetralogi yang terakhir, yaitu Rumah Kaca. Memang dalam buku ini terdapat potongan kisah-kisah yang silih berganti dan nama-nama tokoh yang disamarkan. Namun, buku Pram ini lebih banyak memberikan pelajaran sejarah dengan gaya sastra.

Keterangan:
Judul buku: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Kota terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 979-9731-2-5-9