MARX DALAM DEMOKRASI BERORGANISASI


by. Miftakul Ulum Amaliyah


Mahasiswa semester awal kerap kali disandingkan dengan kegemarannya berorganisasi. Yang mana mereka masih memiliki semangat yang membara dalam berkecimpung di dunianya. Namun, tidak pelak mereka juga akan bingung menghadapi masalah dalam sistem organisasi.

Kiranya masalah yang sering hinggap dalam organisasi adalah merosotnya semangat dalam berbagai kegiatan yang diusung dalam organisasi. Ini terbilang masalah semua umat berorganisasi. Yang mana kerapkali ditanggapi dengan, "semua akan kembali pada kesadaran masing-masing individu".

Agak risih mendengar jawaban tersebut, tapi jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Bagi mahasiswa pegiat organisasi perlu belajar bagaimana menyelesaikan masalah dari Karl Marx dan pengikutnya dalam sistem organisasi (sistem masyarakat untuk Marx dan pengikutnya).

Sehingga, kalian akan mendapatkan opsi untuk jawaban atau tindakan dalam menangani masalah itu. Tentunya kali ini tdak melulu tentang "…kembali pada kesadaran individu". Itu sangat memuakan.

Semua bermula dari pemikiran Marx. Yang mana pada masanya masyarakat dihantui oleh setan-setan kapitalisme. Hingga timbullah kelas yang berkuasa atau borjuis dan kelas tertindas atau proletar. Hal inilah yang mendorong timbulnya kepincangan pada sistem masyarakat.

Sebenarnya, konteksnya sudah berbeda dari apa yang akan dibahas. Jika Marx membahas tentang sistem masyarakat dan kelas didalamnya, yaitu borjuis dan proletar. Sedangkan yang akan dibahas kali ini adalah organisasi. Tetapi, dalam menyelesaikan masalah, kita bisa menjadikan pemikiran Marx sebagai opsi dalam penyelesaian masalah itu.

Berdasarkan buku Ringkasan Sejarah Marxisme & Komunisme karya Franz Magnis-Suseno, Marx mengungkapkan bahwa untuk mematahkan sistem yang pincang atau bahkan bobrok itu, kaum proletar perlu melancarkan jalan kekerasan, revolusi.

Ia yakin karena mengubah sistem dalam masyarakat tidak akan pernah bisa dilakukan dengan jalam damai, kompromi. Apapun harus dilakukan untuk kebebasan semua manusia.

Awalnya kaum proletar memang memiliki semangat juang dengan berpikir sosialis dan kesadaran akan kekuatan mereka sendiri. Namun, itu saja tidak cukup, kata Marx. Kaum proletar harus lebih berani dan kritis dari sekedar kesadaran.

Selanjutnya, setelah Marx meninggal, pemikirannya itu disebarluaskan oleh sahabatnya, Friedrich Engels. Ia berhasil mengembangkan pengaruh hingga pada kalangan buruh di Jerman. Hingga sayap Marxis dipimpin oleh dua tokoh, yaitu Eduard Bernstein dan Karl Kautsky.

Berbeda dengan Marx, Bernstein lebih suka merubah sistem dengan jalan reformasi. Reformasi yang dimaksudkan adalah melakukan perubahan kecil, bertahap, dan masif. Selain itu, ia juga menerapkan moral didalamnya.

Sangat berbeda dengan Marx yang menolak tuntutan-tuntutan moral dalam masyarakat. Itulah sebabnya pemikirannya ini dinamai dengan revisionisme. Bahkan Kautsky menganggap Berstein telah murtad dari ajaran Marx.

Menanggapi pendapat Bernstein, Kautsky masih kekeh pada revolusi ala Marx. Ia dengan tegas menolak pemikiran Berstein tentang revisionisme. Namun ia sepakat seperti Berstein mengenai demokratisme meskipun awalnya menolak.

Demokratisme adalah baik organisasi atau masyarakat sekalipun, tetap memerlukan golongan yang mumpuni dalam melindungi dan menegakkan hak semua anggota.

Perihal masalah tersebut, anggap saja masyarakat adalah organisasi. Yang mana didalamnya terdapat berbagai sistem yang kemungkinan tidak akan selalu benar, bisa jadi pincang dan bobrok. Dan untuk mengubahnya perlu digunakannya taktik yang sesuai.

Dalam kasus ini kita tahu bahwa bukan hanya kesadaran yang diperlukan dalam mengubah sistem yang pincang dalam organisasi, tapi juga ada beberapa opsi untuk mengubahnya. Hal ini seperti yang dilakukan Marx dengan revolusinya, Bernstein dengan revisionisme-nya, dan Kautsky dengan revolusi demokratismenya. Jadi, bergeraklah dan jangan hanya diam apalagi tunduk dalam sistem yang bobrok.