AKAR RUMPUT PENDIDIKAN, ILMU DAN AMAL



Perpustakaan adalah Jantung Peradaban”, ungkapan ini bukanlah imajinasi yang keluar dari hamba-hamba pengagum sejarah. Kenyataannya, banyak yang masih menganggap ungkapan ini sebagai ilusi, dimana kemajuan Negara hanya dilihat dari kehebatan politiknya saja.

Ketika Dunia mengagungkan demokrasi, ia pun menjadi pak turut mengikuti, tanpa mengetahui maksut dari demokrasi itu. Lebih anehnya, ia kehilangan pijakan sebagai seorang muslim, dimana ia mudah percaya dan terombang-ambing oleh ideologi yang baru dikenal tanpa tahu dasarnya. Ada pula yang langsung percaya begitu saja dan berubah drastis menjadi militanisme ideologi baru yang dikenalnya tersebut, bahkan tanpa ragu mencerca dan tak ingin mengambil hikmah dari sistem yang berlaku, dan menganggapnya harus diruntuhkan, kembali lagi ke kehidupan perdaban Islam awal.

Ketika dunia mengagungkan Liberal, Sekular, Feminisme ia mengangkat-angkat Islam, mengorek, membredeli, memotong-motong, memberi label agar sesuai dengan kepentingan golongannya sendiri. Ketika dunia menyatakan bahwa golongan yang berbeda dari sistem mereka adalah Teroris, maka ia pun ikut-ikutan sikut kiri dan sikut kanan meskipun itu saudaranya sendiri.

Fenomena ini, tidak baru dirasakan umat Islam. Bijaknya seorang manusia, jika dapat melihat bagaimana muncul, berkembang, jatuh dan bangunnya peradaban manusia.

Kita harus banyak belajar dari Daulah Umayyah, bahwa perebutan kekuasaan, ketimpangan sosial ekonomi, lemahnya umat Islam adalah satu dari sekian banyak akibat dari ditinggalkannya kecintaan akan ilmu dan amal.

Kita belajar dari Abbasiyah, bahwa kedatangan pasukan Mongolia Tartar yang menghancurkan kota-kota dan perpustakaan terbesar Bait Al-Hikmah, adalah hasil dari di tinggalkan-nya kecintaan akan ilmu pengetahuan, dan lebih menjadikan kepentingan  kekuasaan untuk tujuan,  serta menciptakan kedengkian dari sekte Ismailiyah Bathiniyah.

Ibn Al  Aqami salah satu penganut Bathiniyah, dan juga menteri dari Khalifah Abbasiyah sendiri, yang  diam-diam menggerogoti kekuatan umat Islam dari dalam, dan turut mengundang kedatangan pasukan Tartar untuk menggulingkan Khalifah dan mengendalikan seluruh kekuasaan Abbasiyah di tangannya.

Kita belajar dari Daulah Umayyah di Andalusia, bahwa dalam perbedaan bangsa, kebudayaan, agama yang hidup didalamnya, ia berhasil menciptakan kemajuan dan keadilan dengan pemimpin-pemimpin yang cinta akan ilmu dan amal. Terlihat dari perpustakaan terbesar di dunia kala itu, Al-Umawiyah di Cordoba dan Az-zahra, hingga setiap pemimpinnya memiliki koleksi buku-buku pribadi sebanyak 100.000 koleksi.

Sebagaimana yang di contohkan oleh Abdurrahman An-Nashir, Hakam dan Muhammad. Para pemimpin umat ini mendatangkan dan bekerjasama dengan para tokoh Ulama, Ilmuan, Cendikiawan, Ahli Fikih serta mendengarkan dan menjadikan nasihat mereka sebagai basis kekuatan kemajuan peradaban Islam waktu itu.

Jika ada yang menganggap cita-cita Peradaban dan kemajuan Negara sejatinya lahir melalui kecintaan Ilmu dan Amal hanyalah khayalan, mari kita ajak mereka melihat kembali, bagaimana sosok-sosok hebat membangun satu karya dalam ilmu dan amal.

Fathimah Al-Fihri peletak landasan universitas yang memiliki lisensi pertama di dunia. Di masa kecilnya ia dididik dengan ilmu, Islam dan amal. Hingga mewakafkan hartanya untuk pendirian Universitas Qarawiyyin di Fes. Karenanya juga, barat membangun system pertama untuk Oxford university. Namun, pada masa itu terjadi ketegangan politik yang menyebabkannya terusir dari negaranya.

Ibn Haytham menemukan teori lensa, ketika ia di penjara dalam situasi politik yang kejam pada masanya. Ibn Taimiyah tetap konsisten melahirkan karya dan memberi fatwa dari dalam penjara saat situasi fitnah yang besar. Dari karya dan peninggalan kumpulan tokoh inilah, dunia barat belajar hingga dapat berdiri gagah. Sementara umat Islam terperangah, mencontoh kebudayaan barat dengan membabi buta tanpa mengetahui darimana ilmu pengetahuan barat berangkat.

Lalu darimana umat Islam mendapatkan informasi tentang peradaban umat-umat terdahulu, jika tidak merujuk pada buku? Umat ini tidak membaca dunia, bahkan tidak membaca apa sebab ia diciptakan dan hidup.

Seiring surutnya tradisi pengkajian ilmu pengetahuan dan lemahnya politik umat. Maka tak heran, jika banyak naskah-naskah Islam yang diangkut ke barat dan dikaji oleh para akademisi Eropa.

Manuskrip Islam lebih gencar dipelajari di perpustakaan Eropa seperti Universitas Strasbourg pemilik satu-satunya manuskrip Al-Ard Al-Khawarizmi, Biblioteca Nacional De Espana di Madrid, Bodleian Library Oxford, dan manuskrip Islam di British Library yang menyimpan 15 ribu karya manuskrip umat Islam dari abad ke abad.

Dan pada kenyataannya manuskrip-manuskrip itu lebih terjaga di tangan mereka daripada di tengah umat muslim sendiri. Usia koleksi tersebut merentang dari abad ke-8 hingga abad ke-19.

Sedangkan umat Islam saat ini masih sibuk mengedepankan asas-asas yang akan diterapkan dari atas, daripada mulai menerapkan pendidikan umat yang masih terbelakang dari dasarnya sendiri. Akibatnya, adanya lahan  kosong dibagian akar rumput masyarakat muslim yang terbentuk dari keterbelakangan pendidikan Islam, dan kelemahan ekonomi.

Sikap acuh dari para cendikiawan muslim akan memancing datangnya penggarap lahan lain dari ideology kapitalis, komunis, ekstrem kanan dan kiri. Yang mana lambat laun ideologi tersebut dapat menghimpun kekuatan dari kebodohan umat Islam.

Disana masih ada kekuatan yang belum terbangun, dikumpulan penggembala kecil tanpa buku, dibarisan pemuda yang hanya duduk lalai mendengar demi ijazah, dikumpulan pendidik yang sekedar mengajar sambil menunggu gaji bulanan.

Di lautan pemuda organisasi yang tak mengerti dimana bagian organisasinya seharusnya bergerak, untuk agama dan kemajuan negaranya. Semuanya membutuhkan panggilan bersatu dari manusia yang sadar dan bersabar dalam mencontohkan kecintaan akan Ilmu dan Amal.