WASATHIYAH DI BALIK SARUNG SANTRI



Tradisi Pesantren merupakan dunia yang sangat unik. Pesantren memiliki jati diri sebagai sebuah lembaga yang sukses mengolaborasikan unsur-unsur asli lokal dengan unsur ke-Islaman. Pesantren mampu menjustifikasikan diri sebagai sebuah lembaga yang indegous nusantara. Ruh yang ditiupkan dalam kehidupan intelektualnya adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin yang penuh semangat toleransi, tanpa harus kehilangan dasar-dasar kebenaran keilmuan.

Ketika disatu sisi pesantren di-identik-kan dengan lembaga yang terbelakang dan tradisional, justru disisi lain pesantren dengan salah satu keunikannya mampu menampilkan diri sebagai lembaga yang “modern” dalam bersikap. Pesantren selalu membekali santrinya dengan sikap tawassut, tawaazun, ta’aadul dan tasaamuh. Sikap tersebut termanifestasi-kan dalam lini kehidupan sehari-hari di pesantren, dengan seorang figur yang sering disebut Kiai, dan segudang sistem tradisi yang mengakar dialamnya.

Contoh sikap “Moderat” santri adalah dibekalinya santri mengenai perbedaan cara istinbaath al-ahkam dari masing-masing mazhab dalam Islam.

Dalam bidang fiqih misalnya, santri dikenalkan dengan pola pikir dan background yang melalatar-belakangi munculnya al-mazahib al-arba‘ah. Perbedaan hasil ijtihad yang terdapat dalam masing-masing mazhab dapat difahami oleh santri sebagai sebuah keniscayaan dari pluralitas, keragaman model, dan cara pandang yang berbeda. Hal ini dapat mengantarkan santri untuk menempatkan diri secara proporsional dengan salah satu mazhab yang diikuti, tanpa menghina dan menjelek-jelekkan bahkan menyalahkan mazhab yang lain.

Civitas akademika pesantren tidak terjebak dalam jurang budaya saling menjatuhkan, menghina dan mengkafirkan layaknya kelompok gerakan transnasional tertentu yang bermunculan dengan slogan ”Back To al-Qur’an dan al-Sunnah”. Kaum santri mampu memahami pesan universal Islam yang menyerukan hidup tanpa saling menyalahkan, saling membunuh, dan bahkan saling mengkafirkan. Apabila masih terjadi gesekan dan konflik akan diselesaikan dengan cara yang penuh hikmah dan melalui musyawarah. 

Disamping itu pesantren memiliki cara pandang yang unik dan sedikit berbeda dengan cara padang kehidupan lainnya, yaitu bahwa tujuan dari kehidupan hanyalah mencari keridlaan Allah SWT. yang secara konkrit direalisasikan dalam bentuk ibadah dengan arti yang luas. Baik ibadah yang berhubungan dengan hubungan manusia dengan tuhannya (aspek vertikal, arab; Habl Min Allah), maupun yang berhubungan dengan hubungan manusia dengan manusia yang lain (aspek horisontal, arab; Habl Min Al-Naas). Sikap moderat dan bersaudara dalam perbedaan, sejatinya publik percaya bahwa agama Islam membawa peran positif dalam kehidupan sosial.

Meskipun demikian, dimensi dan praktek keagamaan didalam Islam juga menyimpan potensi besar terjadinya konflik.

Secara universal misi yang dibawa oleh Islam adalah dalam rangka meminimalisir konflik dengan menerapkan nilai-nilai illāhiyyah, bukan sebaliknya memperlebar jurang perbedaan dan kenestapaan umat manusia. Perbedaan memang sengaja dibuat Tuhan agar manusia terdidik menjadi manusia yang sebenarnya yakni mau mengakui kebenaran diluar dirinya.

Dalam kasus ini, setidaknya tradisi pesantren dengan paradigma wasathiyah (moderat)-nya bisa dijadikan sebagai solusi untuk menyudahi pertikaian yang terjadi ditengah masyarakat dengan mengatas-namakan agama (Islam) dan aliran-aliran yang ada didalamnya. Paradigma wasathiyah sebagaimana yang sudah menjadi tradisi pesantren mampu membekali dan memberdayakan para pemeluk agama dengan sudut pandang pluralitas dan persepsi nir-kekerasan didalamnya.