VERSI BENAR YANG BERBEDA SUDUT PANDANG



”Ternyata sudut pandang seseorang di lihat bukan hanya dari satu sisi, tetapi dari berbagai sisi yang tak sama dan mempunyai versi benar yang berbeda beda”

Langit sudah gelap, pengunjung pameran sudah mulai berdatangan, suara musik yang sudah terdengar di gendang telinga, tamu tamu sudah di persilahkan duduk untuk mengawali pembukaan pameran.

Malam ini aku sedang menjadi panitia di acara pameran yang di selenggarakan satu tahun sekali di jurusanku, aku masih duduk di semester tiga, acara ini di bawahi oleh mahasiswa semester lima. Mahasiswa semester tiga bisa mendaftar dan bisa memilih di bagian mana yang di inginkan, tujuannya agar nanti pameran tahun depan kita sudah sedikit berpengalaman tentang konsep pamerannya.

Sebut saja ini pameran nasional, yang mana karya-karya yang di pamerankan bukan hanya dari seniman dan mahasiswa di kampus ku, tetapi semua mahasiswa dan seniman yang berada di Indonesia boleh mengirimkan karyanya, yang akan di seleksi oleh seniman-seniman Semarang lalu di pamerkan bersama dengan karya yang lainnya.

Yah, akhirnya pameran ini terlaksana, dengan berbagai krikil yang harus di lewati, dengan ombak yang harus di terjang, banyak sekali proses yang harus di hadapi bersama, tepat hari ini pembukaan pameran yang berbulan bulan kami diskusikan terlaksana dengan baik, rapat sampai tengah malam, masih banyak lagi hal hal yang tak perlu aku keluh kesahkan di sini.

Setelah acara pembukaan selesai, gedung pameran ini sudah mulai sepi, aku dan teman teman sedang duduk di teras gedung pameran itu, tuk..tuk..tuk suara sepatu itu terdengar begitu jelas di telingaku, ada seseorang yang sedang berjalan lewat di depan ku dengan sepatu boots nya berwarna coklat.

Aku hanya tersenyum tipis melihat ke arah beliau, beliau membalas dengan senyuman juga, beliau berhenti, tepat kakinya berada di depan mata ku, beliau duduk menghadap ke arah kita, agak sedikit takut awalnya, jarang sekali aku melihat sosok beliau di acara acara seperti ini, atau mungkin aku baru pertama kali mengikuti acara seperti ini?

Tetapi seingatku nama beliau sering sekali di bicara oleh kakak tingkat semester lima, dan yang ku tau beliau selalu memberi energi positif dari belakang tanpa ingin di kenali banyak orang, tulus sekali.

Beliau duduk dengan melipatkan kakinya ke depan, menyenderkan sedikit punggungnya ke tembok sambil memegang sebatang rokok, aku melihat wajahnya seperti ada yang beliau ingin bicarakan, waktu itu benar benar lelah, benar saja saat itu beliau tiba tiba bertanya tentang teman ku yang menurut beliau dia mempunyai potensi lebih di seni rupa.

Ingin pergi tapi jika aku pergi berarti tidak menghargai adanya beliau di depan ku, ingin bermain hp rasanya aku tidak mempunyai etika sama sekali, aku bosan saat itu, rasanya ingin segera pulang ke kost-an karena sudah sangat larut malam, (ngomongnya gak selesai selesai sih, udah tau udah malem banget) aku menggerutu dalam hati.

Di tempat itu bukan hanya aku dan beliau, tetapi banyak teman teman panitia di acara pameran tersebut, banyak juga anak anak dari Universitas lainnya yang sedang mengunjungi pameran, memang begitu jika ada pameran yang diadakan di Universitas manapun, kita sudah seperti saudara, untuk mengunjungi, mengapresiasi karya karya yang ada di pameran itu, bahkan sampai menginap beberapa hari, bagiku tidak masalah, mereka sudah seperti saudara yang di pertemukan di Seni Rupa.

“namanya siapa?” beliau bertanya sambil menatap mata ku.
(Udah ngomong banyak baru nanya nama) lagi lagi aku bicara dalam hati.

Kiya mas jawab ku dengan nada pelan dan menatap mata beliau, ada rasa takut sebenarnya, takut jika beliau bisa memandang cara fikirku dengan hanya melihat sorot mata ku hehe, aku tak mengerti apa yang di fikiran beliau saat bertanya satu persatu teman teman yang di samping ku semester berapa kamu ya?” beliau bertanya lagi dengan nada yang sangat halus, “semester tiga ini mas” jawab ku, aku masih takut untuk melihat sorot matanya.

Saat itu beliau banyak bercerita tentang pameran, tentang seni rupa kontemporer, tentang seniman seniman muda indonesia yang berhasil dengan karya karyanya, pengetahuan beliau begitu luas tentang seni rupa, beliau menerangkan dengan telaten kepada kami semua yang berada di dekat nya, apalagi dengan pengetahuan ku yang nisa dibandingkan satu debu tidak bisa terlihat dan beliau seperti sudah menjadi gundukan pasir.

Di tengah percakapan tersebut beliau bertanya lagi di semester ini, apa yang sudah kalian dapatkan” beliau menatap ku karena aku yang berada di tengah di antara mereka, mataku menunduk, deg (di semester ini aku belum mendapatkan apa apa) ungkapku dalam hati, beliau kembali bercerita tentang masa masa beliau ketika kuliah, tentang cara metode pembelajaran yang dosen sampaikan kepada mahasiswanya.

mumpung masih muda, ayolah tunjukan karyanya, tunjukan potensi yang kalian punya, jangan hanya berkarya ketika tugas kuliah” beliau berbicara dengan nada pelan sambil menatap kita satu per satu.

aku menyadari di satu tahun menjadi anak seni rupa memang aku belum menghasilkan karya yang luar biasa, pernah ada saat itu pameran perdana di awal semester, itu pun menurutku karya yang masih belum layak di tampilkan, hanya saja saat itu pameran angkatan , jadi semua karya harus di pamerkan, tidak ada yang terkecuali, tidak melalui tahap seleksi, aku yakin jika di seleksi karya ku di tolak karena belum layak di pamerkan. Walaupun aku mengerti, devisini karya bagus menurut orang berbeda beda.

Jam sudah menunjukan pukul setengah satu, pengunjung pameran sudah semakin sepi, hanya saja masih ada orang orang yang sedang minum merayakan pesta pameran, ada yang sedang tidur di samping gedung karena terlalu banyak minum, ada yang sedang mengobati teman temannya karena muntah kebanyakan minum, ada juga yang sedang bermain dengan ponselnya.

Sudah terbiasa aku dengan keadaan seperti ini, tetapi bukan berarti aku melakukan minum seperti mereka, banyak juga mereka yang tidak melakukan hal itu,  yang melakukan itu bukan berarti mereka orang tidak baik, dan orang yang tidak melakukannya pun belum tentu di anggap baik, tidak semua yang sini melakukan hal hal yang mereka lakukan, jangan pernah melihat satu sisi dalam nilai negatifnya.

Hening, suara orang muntah dan omongan mereka yang sedang mabuk semakin keras rasanya, aku hanya diam, beliau pun sama sama terdiam sambil melihat orang orang di sekitarnya, mungkin dalam hati beliau berbicara, aku tak mengerti apa yang sedang beliau fikirkan saat kondisi seperti ini, aku yakin beliau sudah terbiasa dengan acara pameran seperti ini, jelas beliau lebih berpengalaman dari pada aku.

Setelah bercengkrama ngalor ngidul tiba tiba beliau bertanya menurut mu display pameran ini ada yang kurang pas nggak penempatannya?” bukan hanya aku yang terdiam, semua orang di sekeliling ku pun terdiam, aku membayangkan sekitar ruangan galeri yang tadi aku masuki, (perasaan penempatannya udah pas semua deh) aku menggerutu di dalam hati, beliau masih menunggu jawaban kita, sesekali aku lihat layar di ponsel ku, mengalihkan rasa canggung ku.

“kaya gak ada deh mas” akhirnya aku beranikan diri ngeluarkan pendapat
“coba di inget lagi, masa nggak ada sih?” kata beliau dengan arah menatap ku
“ada mas, karya di ruangan pertama, paling depan warnanya item, yang ada sepatu menonjol” jawab ku dengan takut takut tapi ku berani kan diri saja untuk berpendapat
“apa yang salah menurut mu ya? Kamu sudah tau itu karya siapa? Apa judulnya? Kenapa di letakan di depan?” beliau sambil tertawa.

Sudah berpendapat tiba-tiba serasa diremehkan, itu perasaan ku ketika melihat beliau tertawa. Aku menjawab semua pertanyaan beliau, karya itu milik mahasiswa semester akhir yang sedang menempuh kuliahnya di Bali, aku kenal dengan seseorang yang membuat karya tersebut.

“semua letak karya di sini sudah di display dengan ahlinya, jika ada beberapa letak karya yang kurang pas, itu sengaja agar ada yang bisa membekas di ingatan pengunjung setelah melihat pameran ini” kata beliau dengan nada bicara pelan sekali, aku terdiam saat itu, ada rasa canggung di tambah dengan rasa malu sudah berpendapat tanpa berfikir lama.

(lha, tadi suruh ngejawab, tapi malah kaya pertanyaan ngjebak) ucapku dalam hati
“iya itu namanya belajar, kita jadi tau bagaimana letak kesalahan yang harus di benahi” kata beliau, seakan akan beliau mendengar apa yang aku katakan dalam hati.

Ada rasa kesal saat itu, jika beliau sudah mengerti kenapa harus bertanya dengan pertanyaan yang menjebak? Tapi benar jika beliau tidak bertanya seperti itu mungkin tak ada pelajaran yang ku dapat selama berbincang bincang dengan beliau sampai larut malam.

Versi benar setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda beda, sama seperti hal nya seni, dari berbagai banyak nya seni, mereka mempunyai nilai bagus di mata orang yang berbeda beda.