TRANSPARANSI DIALOG ALA FILSUF

ad+1


by. Miftakul Ulum Amaliyah

"Tindakan tertinggi manusia adalah mengenal dirinya sendiri dan melalui hal ini akan muncul tindakan yang mencerminkan kemanusiaannya." (Socrates)

Praktik Transparansi Dialog Menurut Para Filsuf adalah salah satu buku filsafat karya Dany Harianto, seorang penulis lepas dibeberapa majalah filsafat teologi. Buku ini berisi tentang evolusi tranparansi dialog dari masa ke masa, sarana transparansi dialog, dan fungsi transparansi dialog. Dalam menjelaskan hal itu, penulis membagi pembahasan ke dalam empat bab, yaitu pemahaman dialog secara filosofis, transparansi dialog dalam bingkai perjuangan filosofis manusia, peranan kebebasan dalam transparansi dialog, dan transparansi dialog.

Pemahaman dialog secara filosofis dipaparkan dengan sesederhana mungkin dalam Bab pertama ini. Pembahasan dalam bab ini mulanya seputar dialog mengenai mitos. Hal ini diperjelas dengan teori Plato, yaitu mitos gua. Yang mana penulis menggambarkan manusia yang masih terikat oleh sesuatu dan mengalami keragu-raguan sampai ia mendapatkan cahaya yang dapat melepaskan segala keterikatannya. Sehingga manusia bisa keluar dari kegelapan gua.

Selain itu, dalam bab ini juga dijelaskan terkait retorika kaum Sofis dan dialektika Socrates. Di mana kaum Sofis terkenal akan kecerdasan dan keterambilannya dalam berbicara sehingga mereka terlihat mendominasi, sedangkan Socrates dengan dialektikanya yang dikenal mampu membuat lawan bicaranya seperti mengalami kelahiran jiwa. Hingga puncak pada bab ini adalah sarana efektif dalam tranparansi dialog, yaitu Academia Plato.

Pada bab pertama ini hanya menekankan transparansi dialog menurut filsuf di era Klasik. Penulis sama sekali tidak memberikan penjelasan terkait dialog yang dilakukan oleh filsuf modern hingga sekarang. Sehingga pembaca hanya bisa bertumpu pikir pada dialog era Klasik. Namun, pengenalan ini cukup membantu karena adanya penjelasan yang detail mengenai Sofis, Socrates, dan Plato.

Dilanjutkan pada bab kedua adalah transparansi dialog dalam bingkai perjuangan filosofis manusia. Pada bab ini memuat tentang dinamika manusia dengan arah menuju kesempurnaan diri dan masyarakat. Penulis menekankan bahwa di dunia ini yang tampil sebagai sabjek hanyalah manusia. Sehingga hanya manusia yang diharapkan mampu bergerak ke arah yang lebih baik.

bab ini juga membahas tentang tujuan transparansi dialog, yaitu kebahagiaan yang diawali dengan yang baik dan yang benar. Karena hal inilah yang nantinya akan digunakan sebagai usaha perbaikan, pengetahuan, kritik, dan penguasaan diri. Sama seperti yang dikatakan oleh Wittgenstein bahwa orang yang mampu menguasai dirinya adalah orang yang mencapai kebahagiaan.

Namun, untuk mencapai itu semua manusia harus melewati berbagai problem dalam proses dinamika transparansi dialog. Problem-problem tersebut adalah kondisi internal seperti, pribadi tipe bertahan dan penyerang, serta kondisi ekstern seperti, materi dialog dan kondisi ruang-waktu. Penulis memaparkan bahwa manusia selayaknya mampu berada di tipe midle, tidak bertahan ataupun menyerang. Selain itu, manusia harus paham materi dan mengenali ruang-waktu dalam berdialog.

Pada bab ketiga menjelaskan tentang peranan kebebasan dalam transparansi dialog. Di bab ini penulis menjelaskan tentang makna, unsur-unsur, dan peran kebebasan. Dalam makna kebebasan, penulis masih membaginya lagi ke dalam makna umum dan khusus. Yang mana keduanya tetap memiliki makna "ketidakterikatan pada sesuatu". Mengenai unsur-unsur kebebasan terdapat tiga hal, yaitu ketidakpastian, halangan dan batasan, serta kesalahan dan rasa bersalah. Sedangkan peran dari kebebasan adalah sebagai sarana manusia untuk mencapai pengetahuan tentang dirinya secara utuh dan lengkap.

Menuju bab yang terakhir mengenai transparansi dialog. Pada bab ini penulis menjelaskan bahwa manusia memang harus mengenali dirinya sebagai manusia, bukan yang lain. Apalagi di era post-modern ini, yang asli dan yang palsu begitu sulit untuk dikenali. Manusia akan dibuat bingung oleh hal itu. Jika saja salah jalan, manusia akan terseret oleh arus kepalsuan dan kehilangan keautentikkannya. Maka dari itu, dengan bertranparansi dialog, manusia akan diajak untuk mengenali dirinya.

Keterangan:
Judul buku: Praktik Transparansi Dialog Menurut Para Filsuf
Penulis: Dany Harianto
Penerbit: Prestasi Pustaka Publisher
Tahun terbit: 2008
Kota terbit: Jakarta
ISBN: 978-602-8117-65-4