TADABUR SENIN



Di wajah bumi ini, banyak inspirator telah memberikan secercah karyanya untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Semuanya memiliki cara dengan menyampaikan gagasannya di atas lembaran kertas putih. Mengajak manusia dengan orasi-orasi perkasa. Namun, tidak banyak dari mereka yang menguasai keduanya “menulis dan berbicara” di hadapan masyarakat dunia.

Ini hanya tadabur ringan. Pernahkah kita berfikir; hanya ada dua cara bagi manusia untuk menyampaikan apa yang ada di kepalanya. Jika bukan "kata", maka "aksara."

Bergunung-gunung-pun ilmu yang bersemayam di otak kita, ia tetap akan disana dan tidak bermanfaat jika tidak disebarkan. Itulah mengapa "berkata baik" dan "menulis" adalah alat efektif bagi kita untuk berbagi, sebagaimana Allah memuliakan kata-kata yang baik dan menjadikan pena sebagai bahasan indah dalam Kalam Suci-Nya.

Mau menjadi seperti siapa?  Akankah seperti Gandhi? Beliau tokoh besar India yang di zamannya yang berhasil menyatukan 59 suku bangsa, 200 juta kepala (saat itu penduduk Indonesia hanya 98 juta).

Meredam perbedaan antar agama, kemudian menginspirasi rakyat melawan kolonialisme Inggris. Gandhi merupakan tipe orang yang tidak banyak bicara. Bahkan, bisa berkeringat dingin jika diminta bicara di depan khalayak, namun beliau menebar idenya dengan menulis. Itu contoh pertama.

Ataukah seperti Imam Laits? Mungkin diantara kita khususnya yang berada di Indonesia, banyak yang tidak mengenal sosok beliau. Mengenai sosok Imam Laits, ada beberapa para Ulama yang berpendapat; “andaikan Imam Laits ini menuliskan segala fatwa dan ilmunya dalam lembaran buku, niscaya akan ada satu mazhab lagi selain 4 mazhab yang kita kenal”.

Imam Laits, sebagaimana seperti yang diungkapkan oleh beberapa Ulama di Indonesia, adalah ilmuwan Muslim yang sama cerdasnya dengan Imam Syafii. Perbedaannya adalah, Imam Laits amat tangguh dalam berorasi dan memberi pencerahan pengetahuan, namun tidak mengabadikannya dalam tulisan.

Itulah mengapa banyak dia antara murid-muridnya yang kesulitan mengumpulkan khazanah keilmuan beliau. Meskipun begitu, tetaplah namanya harum mewangi bagi dunia Islam hingga saat ini.  Ini contoh kedua.

Ataukah seperti bapak bangsa kita? Soekarno? Yang banyak saksi sejarah bertutur tinular kepada masyarakat luas, bahwa orang Soekarno hanya lahir di setiap satu abad sekali. Terlepas dari semua kasak-kusuk dan kontroversi tentangnya, Soekarno berhasil membangun dasar yang kuat bagi sebuah negara baru dengan menarasikannya melalui rangkaian tulisan dan orasinya.

Soekarno memang pandai menulis, serta dahsyat dalam berorasi. Akhirnya banyak kata-katanya kini masih berputar-putar dalam khazanah kebangsaan kita.Tulisannya pun mengilhami bangsa Asia dan Afrika untuk merdeka di zaman kolonialisme Eropa. Ini contoh ketiga.

Ketiga orang itu hanya contoh dari sekian banyak inspirator yang pernah hidup di bumi ini. Jika ingin contoh utama Rasulullah adalah tokoh paripurna kita, yang berhasil memberdayakan kata dan aksara hingga Islam bisa sampai di semua lapisan dunia.

Coba perhatikan dengan seksama setiap hadits yang kita baca dan dengarkan, kata-kata Rasulullah itu singkat, padat dan memikat. Semua orang -yang berilmu maupun awam- akan mudah memahaminya. Itu keistimewaan beliau yang tidak dimiliki tokoh manapun; kata-katanya paling banyak dihafal sampai detik ini.

Pula, beliau -shallallahu alaihi wa sallam- memiliki lebih dari 54 sekretaris untuk menuliskan Kalamullah. Salah satu diantaranya yakni Abu Hurairah, dan dibantu oleh sahabat lain untuk mengumpulkan hadits-haditsnya. Hingga lengkaplah sudah, baik "kata" dan "aksara" yang datang dari beliau, yang jelas, naskah terpelihara dengan amat sangat baik sampai 14 abad lamanya.

Nah, sekarang tinggal kita; silahkan memilih, jika memang memilih "kata", berilah ide-ide yang bernada kontributif, yang mampu membawa perubahan positif bagi setiap pembaca dari generasi ke generasi. Agar bangsa tidak mengalami kekosongan gagasan, bahkan sampai gersang wawasan, “jangan sampai itu terjadi”.

Jika memang memilih jalan "aksara", penuhi media dengan bacaan inovatif dan kontributif, tentunya memiliki daya tawar yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas. masyarakat dengan ilmu dan renungan-renungan cerdas nan menawan. Selamat berlayar!