SEBUAH KONTEMPLASI KOPI



Layaknya stereotype yang melekat pada kebanyakan millenialis yang senang menghabiskan waktu dalam diskusi dan berbagai perbincangan di kedai-kedai kopi, mengikuti tren lifestyle dari berbagai “Influencer” media sosial tentang tempat-tempat trendyhits, dan instagrammable, ataupun memanfaatkan berbagai review untuk mencari rekomendasi tempat dengan citarasa kopi yang di nilai terbaik. Aku pun terkadang menikmati segelas kopi pahit dan melibatkan diri dalam perbincangan santai di beberapa kedai kopi bersama segelintir orang-orang lainnya, ataupun sekedar menikmati keramaian dan aroma kopi sambil menyendiri dan tenggelam dalam duniaku sendiri.

Keputusan untuk menyesap segelas kopi biasanya sudah kupertimbangkan baik-baik, atau kadang-kadang kulakukan hanya karena orang-orang meminumnya. Mungkin memang aku dapat menikmati pahitnya bergelas-gelas kopi hitam yang kadang kuminum secara impulsif, tapi hampir selalu ada penyesalan setelahnya. Setidaknya, jika tak membawa penyesalan bagiku keputusan kecil untuk mengambil secangkir kopi tetap saja mampu membawa pada berbagai kontemplasi.

Kalau orang-orang pada umumnya meminum kopi untuk menghilangkan rasa kantuk, meningkatkan performa, mengembalikan stamina, atau alasan-alasan kesehatan lainnya.

Ternyata fisik tubuhku memiliki reaksi otomatis yang seringkali membuat jemari bergetar, jantung berdebar, dan berujung pada kecemasan dan perubahan mood yang kemungkinan juga dipengaruhi oleh reaksi fisiologis tersebut. Dengan reaksi fisik tubuh sendiri yang kurang bersahabat dengan kopi ini, jelas bahwa saya bukan seorang coffee addict, atau mungkin sensasi yang membuat berdebar-debar ini justru menimbulkan efek adiktif tersendiri?

Semakin dipelajari, ternyata semakin banyak pendapat yang muncul dari dunia kesehatan tentang manfaat kopi, juga bahayanya.

Sebagian praktisi kesehatan pernah menganggap kopi membahayakan kesehatan, bahkan dinyatakan sebagai salah satu pemicu kanker. Di satu sisi, tidak sedikit juga penelitian yang mendukung berbagai manfaat kopi sebagai stimulan, bahwa meminum kopi dapat bermanfaat bagi kesehatan jantung. Pada intinya, tentang konsumsi kopi ini sama seperti banyak hal lainnya, selama tidak berlebih-lebihan (in moderation) dalam mengikuti hype-nya tren kopi yang sedang disebut-sebut sebagai third wave of coffee, sah-sah saja sesekali menikmati kopi dan bahkan beberapa manfaatnya dapat dirasakan.

Sebuah kontemplasi yang terbersit dari secangkir kopi, dapat berkaitan dengan pengalaman personal atau bisa jadi berbagai efek fisiologis yang kurang bersahabat.

Kadangkala perhatianku tersita untuk beberapa saat hanya memandangi jari-jemari yang tengah bergetar, tremor, sambil menikmati debaran jantung yang lebih kencang dari biasanya. Ya, semua ini bisa muncul hanya karena sebuah keputusan kecil sesederhana meminum secangkir kopi hitam pekat. Ah, rasanya seolah-olah aku diingatkan akan betapa lemahnya manusia, betapa kita tidak memiliki apa-apa di dunia ini, bahkan jari yang tengah gemetar itu tidak bisa kukendalikan, kuperintahkan untuk tenang.

Begitu mudahnya ternyata kehilangan kendali atas tubuh sendiri. Setiap denyut jantung dan tarikan nafas yang otomatis terjadi ini ternyata memang telah diatur sedemikian rupa oleh-Nya. Lalu terbayang betapa banyaknya kemungkinan kejadian yang dapat membuat tubuh ini tidak mampu berfungsi lagi, sebuah hal yang kadang luput dari syukurku, atas nafas yang masih berhembus dan jantung yang masih berdenyut hingga detik ini.