REVOLUSI EKSISTENSI GENERASI "Z"



Peradaban dimulai sejak manusia melahirkan budaya baru dan menggeser budaya lama. Peradaban kebudayaan timbul karena manusia telah menggunakan rasionalitas dalam berpikir dan menalar sesuatu. Mitologi Thor yang mempercayai adanya dewa-dewa dan berpikiran bahwa matahari itu mengelilingi bumi dibantah oleh para cendekiawan yang menggunakan rasionalitas dan empirisme dalam berpikir. 

Mereka mengatakan bahwa antara bumi maupun matahari mengalami rotasi dan berevolusi, bukan matahari yang mengelilingi bumi, namun bumilah yang berotasi mengelilingi matahari.

Dalam era revolusi industri 4,0 lalu menelusuri kebelakang revolusi industri 3,0 sampai pada revolusi industri mesin uap, perkembangan peradaban dalam bentuk teknologi sudah banyak menyentuh aspek kehidupan manusia. Manusia semakin dimudahkan dalam menjalankan aktivitas kehidupanya, yang dulunya serba manual, hingga sekarang serba mesin.

Bahkan revolusi industri 4,0 ini dikenal dengan serba robotik namun juga dikenal dengan serba online (terkoneksi dengan internet). Membeli tiket transportasi hanya dengan gadget yang penting ada paket data atau terhubung dengan internet.

Menggunakan jasa transportasi menggunakan gadget dengan aplikasi tertentu, bahkan sampai membeli kebutuhan pokok, hingga kebutuhan tersier pun menggunakan gadget yang serba online.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat ini selain menyentuh manusia (human) juga secara tidak langsung menyentuh aspek kebudayaan, sosial, politik, ekonomi, dan agama. Pemanfaatan teknologi yang dilakukan oleh manusia ini berdampak positif dan negatif.

Dampak positif akan dirasakan manusia yang pandai mengolah teknologi, seperti menciptakan aplikasi yang memberi keuntungan untuk diri sendiri atau memberi jasa peluang usaha untuk manusia banyak. Diantara dampak positif tersebut juga tidak menutup potensi yang akan membuat manusia kecenderungan dalam menggunkan teknologi.

Bukan suatu kondisi yang mengherankan jika dalam suatu kelompok setiap orang terfokus pada gadgetnya masing-masing. 

Bukan karena kebutuhan namun merupakan sebuah kelengkapan seperti kertas dan pulpennya. Persis oleh karakteristik generasi millenial atau generasi Z, generasi muda yang berusia sekitar 18-38 tahun, yang hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh peralatan elektronik dan jaringan online.

Seperti itulah gambaran Generasi Z sekarang, yang banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, rumah makan, cafe, warung, mall, bus, dan lain sebagainya. Bukan hal yang sulit untuk menemukan mereka, karena memang kita hidup di Zaman millenial dan sudah menjadi Generasi Z.

Merasa dirinya ada dan melakukan upaya untuk mengadakan dirinya adalah corak gaya hidup millenial, media sosial digunakan sebagai ajang pamer diri, dimana setiap orang ingin menceritakan kehidupannya, membagikan foto tentang dirinya, menceritakan semua mimpi dan pemikirannya.

Dan itu semua adalah upaya eksistensi diri dan merupakan bagian dari Narcisstic Personality Disorder yakni suatu kepribadian umumnya dianggap sebagai cinta diri yang berlebihan menurut psikologi dari Narcisstic Personality Disorder adalah  gangguan kepribadian.

Bukan berarti Generasi Z akan mengalami gangguan kepribadian Narsistik. Sebab perlu diagnosis untuk mendiagnosis seseorang. Pun juga bukan berarti tidak akan mengalami gangguan kepribadian tersebut. Setiap orang dengan berbagai atribut elektronik dan kecakapan online berpotensi menjadi korban gangguan tersebut.