MASIH TIDAK PERCAYA DENGAN DOA IBU?




Ketika di akhir masa menjadi santriwati ku, aku pernah memaksa doa agar aku di tempatkan di PTN, dimanapun nanti yang jelas fikiranku terlalu idealis untuk  mendapatkan PTN, padahal itu salah, tak seharusnya aku memaksakan doa, sudah di jelaskan bahwa  rencana Tuhan akan lebih indah dari rencana manusia. Kenapa aku terus memaksa takdir-Nya?

Dulu banyak orang bilang, masuk di PTN dengan predikat lulusan pesantren kemungkinan sangat sulit, apalagi aku memilih jurusan umum yang sama sekali aku pelajari hanya 50%, bahkan jurusan yang aku pilih ini sama sekali tidak di pelajari di kelas, pelajaran umum di pesantren ku hanya sekedar membaca buku dan mengerjakan soal, untuk diterangkan lebih jelasnya tidak ada sistem pembelajaran di kelas pada umumnya, kecuali jika akan menghadapi Ujian Nasional.

Bayangkan saja 20 macam pelajaran lebih di ujikan dengan menggunakan bahasa arab inggirs, dan ditambah pelajaran umum yang jarang sekali aku baca. Di Pesantrenku dulu lebih mengajarkan pelajaran pondoknya, dan pembelajaran akhlak lebih penting dari segalanya, bagaimana adab kepada ustadz ustadzah, bagaimana perilaku santri yang muda kepada yang lebih tua dan sebaliknya.

Bukan hanya itu saja tetapi tentang kedisiplinan, ketika sholat 5 waktu harus ke masjid, bangun tahajud tepat waktu, berangkat sekolah sebelum jam 07.00 WIB, tidak boleh membeli jajan diluar pesantren dan banyak contoh kedisiplinan lainnya.

Dulu sempat berfikir jika mbak ku yang lulusan pesantren bisa masuk di UNPAD, kenapa aku enggak?  padahal sama sekali belum melangkah lebih jauh tentang ini, belum sempat mencoba tetapi hampir menyerah.

Tugasku di akhir masa santriwati hanya fokus untuk ujian, ujian syafahitahriri, praktek, belum lagi dengan berbagai kegiatan yang ada di 24 jam itu, dengan jadwal yang sangat padat, bayangkan saja bagaimana sistem pembelajaran yang menggunakan bahasa arab dan inggris.

Aku berasal dari anak taksif dimana ketika satu tahun harus mengejar mata pelajaran pondok dua tahun untuk menyetarakan pelajaran kelas 5 MBI yang satu kelas nanti di gabungkan antara anak taksif dan anak yang kelas 1 Tsanawiyah yang sudah 4 tahun di sana.

Aku memang berasal dari Tsanawiyah tetapi di daerahku, pelajaran bahasa arab sudah ku pahami walaupun hanya sekedar maktabun, kursiyun, dan kata kata dasar lainnya, tapi untuk nahwu shorof dan sebagainya aku susah mengerti, sulit rasanya. Bahkan ketika satu bulan di pesantren rasa ingin pulang pun ada.

Keluarga besarku memang kebanyakan lulusan pesantren, dan ibu memang inginkan aku masuk pesantren di Ponorogo tersebut. Setelah 4 tahun disana dimasa kelas akhir rasanya seenak itu menjadi santriwati, senyaman itu di sekelilingi orang orang yang selalu berproses menjadi baik, seenak itu di atur demi kebaikan.

Ketika masuk villa (tempat kelas 6 dan 3 MBI) agar mereka hanya fokus untuk Ujian nya, punya nama marhalah, punya baju marhalah, punya jaket marhalah, rasanya sebangga itu bisa selesai menyelesaikan dengan nama alumni MUMTAAZA, kalian tau ketika mereka banyak bercerita ingin bersekolah di Universitas ternama? 

Apa yang ada di fikiranku saat itu? aku tidak ingin bercerita banyak tentang mimpiku, aku takut mereka tidak mendukung bahkan menyepelekan dengan adanya aku orang yang mempunyai daya ingat pas-pas-an seperti ini. tapi ini salah, bukankah jika aku mempunyai mimpi mereka akan mendoakan? dari setiap doa mereka kita tidak tau siapa yang akan terijabahkan oleh-Nya.

Di akhir masa itu aku, aku akan melanjutkan sekolah di Perguruan tinggi, sempat berbeda pendapat dengan kedua orang tua,  saat itu aku ingin mengambil jurusan Seni Rupa di Universitas cukup ternama di Solo dan Ibu lebih memilih untuk melanjutkan ke program bahasa yang sudah dipelajari di Pesantren. Jujur saja, aku tidak menyukai hal-hal yang bersinambungan dengan bahasa.

Bagiku jika bahasa itu bisa aku ambil khursus bahasa untuk beberapa tahun, jika Ayah selalu mendukung apapun yang aku pilih bahkan mensuport, dulu ayahku kuliah Seni Rupa juga di Solo, beliau tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan dan aku ingin menggantikan posisinya beliau, mimpi yang belum terwujudkan. Dan ketika itu yang ku fikirkan bahagimana aku bisa meluluhkan hatinya Ibu.

Setelah sholat maghrib aku menuju wartel ingin menghubungi orang tua membicarakan jurusan apa yang aku pilih nantinya, apapun yang ibu pinta aku akan menurutinya, bagiku mungkin ini salah satu cara berbakti ku kepada beliau, jika ibu ridho, Allah pun sama, semua manusia mempunyai jalannya sendiri sendiri, dari pada aku memilih jalanku sendiri tetapi tanpa ridho orang tua, lebih baik tidak ku lanjutkan.

Seketika itu ibu bilang ditelfon "iya nanti coba ambil seni rupa, tapi pendidikannya" ternyata benar Allah membolak balikkan hati seorang hambanya. Padahal di telfon aku hanya bilang "mama maunya nana masuk jurusan apa?" sudah sepasrah itu rasanya.

Ketika SBMPTN jurusan Seni Rupa akan di test praktik, berhubungan bersamaan dengan gladi bersih Khutbatul Wada' dan aku lebih memilih taat peraturan pondok ketika daftar SBMPTN semua yang aku pilih berkebalikan dengan semuanya, jurusan yang tidak pernah ku minati sama sekali.

Saat itu aku berfikir yang terpenting aku mendapatkan Universitas ini dulu, soal jurusan aku bisa mengambil tahun depannya lagi. ketika pengumuman gagal semuanya, orang tua secemas itu aku belum mendapatkan universitas yang akan melanjutkan proses pembelajaranku.

Diumur 19 tahun dimana teman teman SMP/MTs ku sudah di semester 3 dan aku belum mempunyai Universitas yang pasti, bahkan pernah berfikir untuk berhenti terlebih dahulu untuk melakukan bimbingan belajar, menuntut ilmu tidak memandang umur memang, tetapi bukankah lebih baik jika aku lanjutkan ditahun ini tanpa menundanya satu tahun lagi? aku sudah berada satu tahun di bawah mereka.

Ketika sudah lulus dari pesantren, aku mencoba mendaftar jurusan Seni Rupa di PTN yang berada di Jawa Tengah, waktu itu yang masih di buka hanya ada 2 Universitas yang ada jurusan Pendidikan Seni Rupa dengan jalur mandiri. Waktu itu aku lebih memilih di Semarang dan Yogjakarta.

Dulu ibu pernah bilang "kuliah di Universitas manapun, yang terpenting di wilayah Semarang mbak, biar deket kalo pulang" maksud ibu agar ketika liburan panjang tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk menuju rumah, tidak seperti di Pesantren harus di tempun 12 sampai 13 jam-an, bukan hanya membuang waktu, tapi membutuhkan uang yang cukup menguras dompet juga.

Tetapi dalam hati aku tidak ingin kuliah di Semarang, kecuali aku diterima di UNNES, karena pada saat itu aku hanya mendaftar di UNNES walaupun ada Universitas yang ternama juga saat itu, dan Universitas kedua yang aku pilih di Yogyakarta, tidak tau mengapa aku ingin mencari ilmu di kota tersebut, yang kata orang kota yang bisa membuat hati ingin kembali lagi.

Dan lagi lagi doa ibu memang benar mustajab, ketika pengumuman aku tidak berani membukanya, Ayah saat itu membuka hasil pengumumannya "na, kamu diterima" sebenarnya tidak percaya dengan tulisan tersebut, karena ketika test menggambar aku melihat samping kanan kiri ku dengan gambaran yang luar biasa, bahkan saat setelah test menggambar aku mengeluh kepada ayah, kata ayah “versi gambar bagus menurut dosen dan menurutmu berbeda, yang penting kamu percaya diri”, aku pasrah saat itu, apapun hasilnya, aku sudah berusaha.

Beberapa hari setelahnya, ketika itu pendaftaran ulang berdekatan dengan pengumuman hasil test di Yogyakarta, hari ini daftar ulang terakhir dan besok pengumuan hasil tersebut, ayah bilang "dari pada kamu tidak mendapatkan dua duanya, lebih baik pilih yang sudah pasti" akhirnya aku lebih memilih UNNES, ketika hasil pengumuman test di Yogyakarta aku tidak berani membukanya, sampai sekarang.

Padahal ketika test di Yogyakarta menurutku hasil test nya lebih baik dari pada test pertama di Semarang, mungkin dikarenakan sudah lumayan berpengalaman ada beberapa yang menurutku sama test nya di Semarang, iya test menggambar tetapi menurut versiku lebih baik ketika test kedua tersebut. Dan ternyata benar doa ibu luar biasa mustajab-nya.

Doa dan ridho ibu memang segalanya ya.