MASA DEPAN KITA YANG TENTUKAN, DAN BUKAN APA YANG ORANG LAIN PIKIRKAN


Hari pertama masuk kuliah sudah terburu waktu, hampir telat namun secepat kilat aku mengambil seat paling depan pinggir kanan.  Jam biru membalut pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 07.03 WIB. Saat itulah pria tambun nan gagah yang berdiri di depan kami  melihatku lalu tersenyum. Serta  35 pasang mata juga berhambur melirikku dengan spontan, karena kegaduhan suara cassual shoes-ku. Jujur aku merasa gagal hari ini.

kok telat sih za, kukira kamu datang awal “ tanya Reka. “Iya, hari ini lagi ada general cleaning di asrama, ga bisa dateng awal” kataku sembari membenarkan posisi duduk.

Seketika suasana kelas mulai kondusif, pria di depan kami pun sepertinya sedang melanjutkan permbicaraannya tadi yang sempat terpotong karenaku. Lalu beberapa menit kemudian tibalah 3 orang mahasiswa baru yang sedang berebut alasan di balik pintu, suaranya terdengar berisik sampai akhirnya kena teguran si pria tambun yang bisa disebut dosen perdanaku, logat bahasa Indonesia-nya kurang enak didengar namun kata – katanya dalam bentuk bahasa Indonesia cukup untuk membuat kami paham.

silahkan masuk dan ambil kursi ternyaman anda” ungkap Bapak Dosen dengan gesturnya mempersilahkan duduk.

wah, terimakasih pakmaaf kami telat karena saya bingung tata ruangan gedung ini” jelas salah satu mahasiswa meyakinkan dosen tersebut.

Abdul Rahman Hamadoun, adalah dosen kewarganegaraan asli Syiria, dosen tetap kelas program internasional, sementara sekarang kebetulan mendapat jam di mata kuliah bahasa arab ibtidaiyah di kelas ku.

Suaranya yang halus nan pelan membuat semua mahasiswa berusaha menelaah maksud dari setiap perkataan yang ia lontarkan, karena sempat tenggelam oleh suara kegaduhan sebelah kelas kami juga proyek pengerjaan bangunan gedung fakultas lain.

Menurut kalian seberapa penting peranan bahasa untuk hidup dan bertahan di tengah masyarakat yang semakin canggih seperti apa yang kita ketahui selama ini?”, tanyanya kepada seluruh mahasiswa sembari menatap mahasiswanya dari ujung ke ujung.


Menurut saya bahasa itu suatu media perekat manusia, karena dengan bahasa kita bisa menyelami suatu negara dan memahami bagaimana keadaan suatu negara dari segi manapun”. Jawabku meyakinkannya.


bagus, kemudian siapa yang mau menambahkan lagi, silahkan, speak up saja anak-anak saya akan menghargai apapun  pendapat kalian semua”. Katanya meyakinkan kami.


Beberapa mahasiswa dikelas kami pun akhirnya antusias mengutarakan pendapatnya. Kelas hari itu pun berakhir pukul 08.40 tepat, dan untuk hari perdanaku semua terasa baik – baik saja, syukur alhamdulillah, setelah beberapa hari yang lalu merasa tak enak badan karena padatnya prosesi pekan perkenalan Universitas. Kesan baik banyak aku dapatkan dari beberapa dosen dan rekan – rekan mahasiswa baru.

Hari – hari selanjutnya berjalan dengan sebagaimana mestinya mahasiswa baru, berkenalan dengan para dosen disetiap mata kuliah pun dengan sesama mahasiswa lainnya. Bertukar ceria, pengalaman semasa SMA, bahkan yang menjadi topik pembicaraan selama satu pekan kuliah perdana di kampus kami, adalah perihal ditolak diberbagai Perguruan Tinggi Negeri atau PTN di Indonesia.

Jadi, kampus yang sekarang menjadi pijakan untuk meneruskan studi S1 ku ini adalah salah satu Perguruan Tinggi yang berstatus swasta atau privat school. Mungkin menjadi suatu hal yang tidak asing lagi apabila setiap tahun masuk mahasiswa baru topik pembicaraan antar mahasiswa yaitu sebab dan akibat mengapa mereka menjadikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menjadi pilihan kedua bahkan tujuan terakhir seorang siswa dalam memilih Perguruan Tinggi.

Alasannya cukup beragam mulai dari kehendak orang tua, kerabat, teman dan lagi – lagi alasan yang memiliki prosentase tinggi adalah tidak diterimanya menjadi bagian dari Universitas unggulan negeri, dan ada juga yang memiliki niat sedari awal ingin mengenyam pendidikan di PTS itu pun hanya sedikit  dan merekalah yang rata- rata menyadari akan keunggulan PTS. Kalau kalian bertanya bagaimana denganku?, maka aku berada di tengah – tengah mereka.

Pada tahun 2018, aku resmi melepas gelar siswa MA (Madrasah Aliyah). Berhubung aku mendapat amanah menjadi seorang pengajar, mau tidak mau aku harus tetap melaksanakannya karena motivasi keluarga. Niat lillah pun muncul seiring berjalannya waktu, niat yang menggebu – gebu untuk ikut serta bersama kawan mendaftar ke PTN kuurungkan, pikirku mungkin tahun depan adalah waktu yang tepat.

Sampai sekarang aku masih tidak tau apa motivasi terbesarku sampai begitu kuatnya memiliki keinginan untuk masuk PTN dan tidak mempertimbangkannya dengan PTS, padahal faktanya PTS tidak seburuk yang aku dan mungkin sebagian besar orang – orang diluar sana bayangkan.

Di penghujung tahun 2018, tepatnya bulan November Allah SWT. menjawab do’a – do’aku. Sebuah peluang beasiswa full study terbatas untuk 27 orang dibuka untuk lulusan Madrasah Aliyah/ MAN ditawarkan oleh salah satu PTS terbaik di Indonesia, entah apa yang aku fikirkan saat itu aku memulai untuk mengetahui segala hal berkaitan dengan tawaran tersebut mulai dari info masuk, pengumpulan berkas, tes tulis, dan tes lisan semua prosedur benar – benar aku update.

Hari demi hari di masa pengabdianku mulai aku isi dengan belajar dan membaca buku, motivasi untuk segera menyelesaikan kegiatan mengajar perlahan mulai tumbuh, tekad untuk mengejar beasiswa itu telah membuatku lupa akan presepsi diri mengenai PTS, aku rasa Allah telah menunjukkan titik terang dari semua perkiraan masa depanku yang setiap malam sebelum tidur aku pikirkan dan aku rencanakan kini sudah tidak abu – abu lagi.

Masa susah payah, pulang pergi luar kota untuk menjalani rentetan proses masuk seleksi berlalu, dan lagi – lagi do’a orang tua yang nun jauh disana begitu membantu langkah kaki ini serasa tak pernah menemui kesulitan disetiap prosesnya.

Tanggal 22 Mei 2019 merupakan hari yang mana aku ingin sedikit lebih menyibukkan diri, entah hanya berjalan keluar masuk kantor guru, berkeliling kelas – kelas hanya untuk sekedar melihat suasana ujian yang sedang berlangsung, atau membantu panitia ujian untuk mensortir lembar jawaban.

Hal ini aku lakukan tak lain untuk mengurangi rasa gugupku menanti pengumuman seleksi beasiswa lewat snapgram. Tepat pukul 12.27 WIB ponselku berdering seorang telah memberiku file yang bertuliskan SK (Surat Keterangan) Rektor, dan ketika aku baca mulutku tak berhenti bergumam merapalkan do’a dan tasbih, dan seketika menuju lembar kedua sebelum akhir aku melihat, mengenali betul nama ku “Uun Zahrotunnisa/ Program Pendidikan Hukum Islam” tertulis di urutan nomor sembilan dari sebelas pendaftar gelombang pertama.

ALHAMDULILLAH YA RABB”. Pekikku dengan suara bergetar sembari menuju Masjid Pondok dan tidak memperdulikan siapapun yang melihatku, dengan bersimpuh selepas sujud syukur linangan air mata berjatuhan melewati dinding pipiku, tak terasa namun rongga dadaku yang sedari pagi sesak kini jauh membaik.

Alhamdulillah sampai akhirnya dari ratusan pendaftar kini hanya tersisa 27 orang dan termasuk aku yang memiliki gelar “Mahasiswa Unggulan Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia”, sebuah gelar yang juga merupakan motivasi bagi seorang mahasiswa yang harus memiliki kompetensi yang lebih dibandingkan mahasiswa- mahasiswa lain.

Beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) aku ikuti dengan antusias, rata – rata berkaitan dengan bidang Essay & Presentasi Bahasa Inggris, Debat, dan Jurnalistik. Beberapa kali aku ditunjuk sebagai LO atau Laisson Officer dalam beberapa program Joint Student & Collaboration dengan Universitas se-ASEAN, Peserta Sekolah Aktivis 2019, dan sekarang ini sedang menulis paper presentation mengikuti seminar kebahasaan (LSP-Pacslrf 2020) di Universiti Tenologi Malaysia pada 1-2 Juli 2020 tepatnya di Kuala Lumpur, Malaysia.

Semua pencapaian ini adalah karena berkat dukungan dan do’a orang tua, kerabat dan teman – teman karena merekalah dalam masa semester satu ini aku berkesempatan untuk memberikan kontribusi untuk Universitas.

Dari sinilah aku menyadari bahwa tidak semua hal yang orang anggap baik, akan baik juga untuk diri kita pribadi, mengikuti presepsi orang lain entah itu baik sekalipun belum tentu baik juga bagi diri sendiri. Langkah untuk menentukan masa depan pun juga bukan tergantung pada penilaian orang lain terhadap apa yang akan kita ambil ataupun kita putuskan, semua adalah tergantung pada diri dan niat.

Bisa jadi kita akan ditempatkan oleh Allah SWT. dimana kita dapat memberikan manfaat dan berkontribusi didalamnya. Jangan pernah bangga karena dapat mengenyam pendidikan di kampus yang kita idam – idamkan, tapi jadilah orang yang dibanggakan karena kampus dapat memiliki kita yang dapat memberikan kontribusi lebih terhadap kampus.