CINTAI DULU: WALAU DIA BUKAN SEGALANYA


by. Zidna Nabilah

Bel penanda waktu sholat masih terdiam seribu bahasa, angin pun masih hilir mudik mengisi keheningan pagi, bahkan ayam mungkin masih terlelap dalam mimpi.

Kring.. kring.. kring.. (alarm berbunyi) Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, tanpa sadar tanganku bangkit dan menekan alarm yang kuatur semalam. “Cepat sekali, ternyata sudah saatnya bangun. Jika di rumah, tentu saja Aku masih terlelap dalam mimpi indah”, kataku dalam hati sambil bangun dari tempat tidur.

Ketika nyawa benar-benar kembali dalam raga, akhirnya Aku pun membangunkan beberapa teman sekamarku dan segera menuju kamar mandi. Bukan hal aneh jika siswa baru dengan label santriwati sepertiku bangun sebelum bel berbunyi, berharap agar tidak akan terlambat dalam hal apapun.

Bel yang Aku maksudkan adalah bel yang Kami-para santriwati sebut sebagai jaros. Bel itulah yang akan mengingatkan atau memberitahukan kami waktu sholat, makan, belajar, bahkan waktu tidur kami. Sekali bel berbunyi, semua santriwati akan berhamburam keluar kamar.

Jika itu waktu sholat, maka kami akan langsung menuju masjid. Jika itu adalah bel makan, sudah bisa dipastikan bahwa kami akan langsung menuju dapur dengan wajah kelaparan dan memelas.

Hal lainnya yang aku dapatkan di pesantren adalah pelajaran hidup tentang mengantri. Tentu saja itu tak terlupakan, tiada hari tanpa mengantri. Segala hal yang kita lakukan, selalu ada waktu dimana kita harus menanti giliran.

Teng klonteng.. teng klonteng.. (jaros berbunyi, tanda bahwa kami harus segera menuju ke masjid). “Karena sudah bersiap sebelum bel berbunyi, aku bisa langsung menuju ke masjid” kataku dalam hati. “Inara, wait me.” panggil Hana. “Why?” jawabku spontan, kemudian berpaling. “Nothing”, jawabnya dengan tawa kecilnya. “Dasar Hana”, fikirku dalam hati dan tersenyum.

Hana memang sudah menjadi teman dekat bahkan sahabatku sejak awal masuk pesantren, Walaupun kami berasal dari daerah dan asal sekolah yang berbeda, itu bukanlah hambatan bagi kami. Dia lulusan pondok salafiyah, berbeda denganku yang menjadi lulusan Sekolah Menengah Pertama Negeri di daerah tempat tinggalku.

Dengan corak budaya dan latar pendidikan yang berbeda, justru membuat kami menjadi semakin kompak. Dia yang seringkali mengajarkanku bahasa arab, dan aku yang sering kali berbagi banyak hal tentang bahasa inggris padanya.

Tepat pukul 5 pagi sholat subuh berjama’ah telah usai, kini waktunya kami bersiap-siap untuk pergi ke sekolah termasuk sarapan bersama, tentu dengan peringatan dari jaros kami.

Jika membahas mengenai bahasa terutama inggris, sepertinya harus kuterima kenyataan bahwa hingga masuk ke pesantren ini Aku tetap belum bisa mencintainya, atau bahkan menyukai. Padahal, untuk bisa menguasai sesuatu sebaiknya kita harus mencintainya lebih dulu. Dengan begitu, melakukan apapun yang berhubungan dengannya tentu akan menyenangkan dan tidak terasa berat atau bahkan menjadi beban.

Fakta bahwa pesantrenku adalah pesantren modern, membuatku takut namun penasaran dengan apa itu “bahasa” bagi seorang santri. Pertama kali melihat kakak kelasku yang begitu mahir berbicara menggunakan dua bahasa, serasa aku akan masuk ke dunia lain yang entah aku bisa bertahan hidup atau tidak.

Hari demi hari kulewati dengan penuh rasa curiga, khawatir jika pengurus akan mengawasiku ketika tidak sengaja mengucapkan sepatah kata yang keliru alias bahasa Indonesia. Walaupun saat itu masih ditoleransi, tetap saja jantungku serasa tidak bisa berdenyut dengan tenang dan akan siap meledak sewaktu-waktu jika tertangkap basah berbahasa Indonesia.

Hari itu adalah hari jum’at, dimana sekolah libur dan diganti dengan kegiatan olahraga dan juga pembelajaran bahasa berdasarkan kelas ataupun angkatan.

Harry up!”, teriak pengurus bagian bahasa kepada kami. “Ayo Han, kita harus cepat”, bisikku kepada Hani yang sudah berada disampingku. “Iya, Aku tahu”, jawabnya meyakinkan dengan nadanya yang tak kalah lirihnya. Setelah lelah berlari dari asrama ke sekolah, kami pun akhirnya mencari tempat duduk sembari menunggu semua santri berkumpul.

Pembelajaran pun dimulai dengan begitu tertib, semua santri memperhatikan dengan baik apa yang diterangkan oleh pengurus. Setelah satu jam berlalu, aku mengajak Hana untuk menemui salah satu ustadzah kami untuk menanyakan sesuatu karna jiwa penasaranku sudah meronta-ronta.

“Assalamu’alaikum, permisi ustadzah. Adakah ustadzah Aisyah?”, kataku tepat di depan kamar Ustadzah. “Wa’alaikumussalam, ada. Tunggu sebentar ya”, terdengar jawaban dari dalam. “Baik Ustadzah”, jawab kami spontan. Setelah keluar, tanpa basi-basi aku pun bertanya kepada guruku satu ini.

“Ustadzah, sebenarnya kenapa kita harus belajar bahasa inggris dan bahasa arab dengan begitu keras? Kami dituntut untuk terus belajar setiap hari, bahkan setiap jam dan detik.” (bentuk protesku yang mungkin sedikit berlebihan).

Dengan lembut, guru sekaligus waliku di pesantren menjawab, “Kau tahu, tidak ada hidup di dunia ini yang tidak memerlukan bahasa. Tanpa kau mengucapkan sesuatu pun, itu adalah bahasa. Mungkin bahasa bukanlah segalanya, namun dengan bahasa hidupmu akan lebih hidup dan bermakna.

Dimana dengan belajar bahasa, maka dunia akan berada di tanganmu. Kau bisa mengetahui banyak hal ketika menguasai bahasa, karena memang dialah gerbangnya ilmu. Di dunia yang digambarkan sebagai gudangnya ilmu ini, kau bisa membukanya dengan bahasa. Walaupun itu adalah bahasa Indonesia, jika kau tak bisa memahami tentu hal itu tidak bisa disebut sebagai pengetahuan.”

Seketika itu aku terdiam dan merenung, mulai mengerti bahwa sudah seharusnya aku menyesal karena telah membenci bahasa. Padahal dia adalah salah satu perkakas yang harus dimiliki jika aku akan membuat sesuatu.

Mungkin sejak SMP aku sudah mempelajarinya, terutama bahasa inggris. Namun, setelah tahu makna bahasa itu sendiri. Harusnya sudah sejak lama aku menyukai, bahkan mencintainya dengan tulus. Karena dengan itulah, aku bisa menggenggam dunia di tanganku.