BUMIKU MERINDUKAN TANAH


Kantong-kantong mereka terisi penuh, jabatan dan nama baik selalu disandingkan di belakang nama, setiap program-program “bak” pahlawan dibanggakan. Masyarakat terbelalak berdecak kagum akan ada nasib baik apa untuknya.

Menunggu sambil harap-harap cemas, terbayang di kepalanya akan keluarga kecilnya. Rumah berisi tumpukan jerami menemani tidur mereka, lantai tanah, dinding anyaman bamboo. Lampu semprong dan lilin tak pernah jenuh menemani putra putrinya membalikkan lembar-lembar buku.

Ia tersadar, segera beranjak mengayuh sepeda. Di desa ia beritakan pada tetangga, hasil pertemuannya dengan pria berdasi merah. Si dasi merah berkata bahwa anak-anak mereka akan sekolah, tak perlu takut akan seragam sekolah, buku dan fasilitasnya.

Semua mata terpana senyum merekah, mereka berfikir, inilah pendidikan sebenarnya, keadilan sesungguhnya, kesejahteraan akan segera menyapa. Tahun demi tahun dilihatnya satu-satu pemuda-pemudi putih abu-abu. Mengapa bibit anak mereka belum tumbuh juga?

Pagi hari, ayah ibunya bersusah payah bekerja, mereka menenteng tas mewah, hp mewah dijemput teman laki-lakinya. Sang ibu yang tak pernah sekolah hanya bergumam, owh, mungkin seperti itu ia dididik untuk mendapatkan ilmu. Sang ibu siang hari harus kembali mengurus rumah dan adik-adiknya, si putih abu-abu mengadakan pesta "konvoi" kelulusannya, ia bangga karena dapat pula ia merayu perangkat sekolah.

Betapa tidak dikabulkan, keinginan dari peraih juara kelas, orator dan OSIS, yang tanpa prestasi, nama baik sekolah tak terangkat, belum lagi jika ditolak, ia siap mengerahkan massa mendemo hingga tersebar koran berita.

Si putih abu-abu sangat hafal teori cinta, sinetron dan drama perpisahan sekolah pun mengisahkan pangeran dan putri raja. Para guru pun senyum-senyum mengingat masa mudanya, tak lupa mereka bertepuk tangan, berfoto ria.

Sementara di balik lumbung padi, sang Ibu terdiam lesu, bagaimana akan menghadapi musim paceklik tanpa adanya diesel pemompa airnya, seluruh uangnya digunakan belanja anaknya.

Masyarakatnya juga tak jauh berbeda, mereka hanya mengandalkan singkong tanpa bisa mengolah, penyakit menjangkiti tubuh peternak sapi hingga tampak dekil tanpa perhatian dokter mudanya. Di desa tak pernah ada keributan lantaran berbeda Qunut atau tidak Qunut, karena pintu masjid tidak pernah lagi terbuka. 

Si putih abu-abu pun lulus kuliah bergelar sarjana dan mendapat kerja, di depan laptop di kursi mewah dalam kantor pemerintah. Bukan pula setumpuk surat yang diperlukan masyarakat yang ia kerjakan di depan laptop-nya, hanya puluhan game saja.  Belum lagi teman sebayanya, yang telah sukses melangkah buana. Pulang pergi mengadakan seminar ke penjuru dunia, namun kehidupan di desanya tak pernah terjamah.

Ada yang menikmati kursi sutradara, larisnya hiburan jadi tujuan utama, tontonan tidak mendidik menjadi tuntunan. Guru-guru kita dipelosok negeri hanya menjadi tontonan, dipublikasikan dan tepuk tangan, tak pernah ia berniat mengikuti pengabdian.

Bumiku merindukan tanah, Ilmu merindukan ruhnya. Sekolahku merindukan Ilmu, karena Banyak yang bersekolah tapi tidak berilmu. Ilmu itu cahaya Tuhan, menanamkan keikhlasan, memperbesar amal, meninggikan cita-cita, memanusiakan manusia.

Duniaku semakin punya banyak sekolah, gelar sarjana dan bermacam model pendidikannya, namun mengapa keikhlasan untuk memperbaiki kondisi masyarakat Tanah kelahirannya tak pernah ada? Mengapa cita-cita manusianya hanya gaji bulanan saja?

Mengapa kemanusiaannya menjadikan ia tidak mengenal tuhannya? Mengapa ia samakan antara gelar dan ilmu? Mengapa lebih memilih baju daripada buku? Mengapa lebih memilih kisah cinta, dibanding perjuangan ulama dan guru bangsa?

Bumiku merindukan tanah, karena ia telah dijajah manusia serakah. Manusiaku merindukan ilmu, karena ilmu tidak mereka dapatkan di sekolah.