BINCANG NOVEL DUNIA SOPHIE MENGENAI PEREMPUAN


Dunia Sophie adalah novel filsafat karangan Joestin Gaarder. Buku ini berisi tentang seorang gadis berusia 14 tahun bernama Sophie Amundsen yang tertarik terhadap filsafat. Ia belajar filsafat dari seorang filsof bernama Alberto Knox. Pelajaran ini dimulai dari filsafat zaman Yunani Kuno sampai pada filsafat abad ke-20.

Buku karangan Gaarder ini cukup menarik untuk seorang pemula yang ingin belajar filsafat. Ia menyajikan filsafat dalam bentuk yang berbeda dan kalimat yang mudah dipahami. Selain itu, ada sisi menarik dari buku ini, yaitu pembahasan terkait paradigma filosof mengenai perempuan.

Modern ini, perempuan mendapat berbagai macam apresiasi sekaligus stigma dari masyarakat. Perempuan berpendidikan tinggi misalnya. Mereka akan diapresiasi karena memiliki wawasan yang luas. Namun, mereka juga akan mendapatkan stigma karena semua itu nantinya akan sia-sia, perempuan akan berkecimpung di dunia domestik juga.

Mengenai hal tersebut, ternyata filosof terdahulu juga pernah mengkaji masalah perempuan. Hal ini termuat dalam buku karangan Gaarder yang mana ada beberapa filosof yang mengkajinya. Filosof ini antara lain, yaitu Plato, Aristoteles, Locke, Hegel, dan Sartre.

Pertama, Plato adalah salah satu filosof di zaman Yunani Kuno. Pemikirannya yang paling terkenal adalah mitos gua. Selain itu, yang menarik dari Plato adalah pemikirannya mengenai perempuan.

Murid dari Socrates ini awalnya mengkaji tentang negara filosofis. Di mana negara yang baik itu merupakan negara yang dipimpin oleh seorang filosof. Selain itu, negara menurut Plato seperti anggota badan. Ia memiliki kepala (pemimpin yang bijaksana), dada (pelengkap yang berani), dan perut (pekerja yang sopan). Dalam hal ini Plato tidak memandang seks dalam kepemimpinan. Baik laki-laki maupun perempuan asalkan filosof, mereka sama-sama bisa memimpin.

Plato begitu menghargai perempuan dengan memberinya kesempatan dalam memimpin. Dalam buku karangan Garder ini, Plato menyebutkan nama perempuan yang dihormatinya, Diotema. Ia adalah seorang pendeta perempuan sekaligus guru filsafat dari Socrates.

Kedua, Aristoletes adalah filosof di zaman Yunani Kuno juga. Ia merupakan salah satu murid academia Plato. Ia adalah sosok yang begitu kritis dan memiliki pemikiran yang dijadikan acuan oleh filosof selanjutnya.

Namun, sangat disayangkan bahwa filosof yang kritis ini memiliki pemikiran yang berbeda dengan gurunya perihal perempuan. Di mana Plato begitu menghormati perempuan, lain halnya dengan Aristoteles yang memiliki pandangan kurang baik terhadap perempuan. Ia menganggap perempuan adalah laki-laki yang belum lengkap.

Ketiga, John Locke adalah salah satu filosof empirisme di zaman Modern. Di mana ia menyakini bahwa semua pengetahuan didapat melalui indra dan pengalaman.

Pemikiran Locke yang paling terkenal adalah Tabula Rasa, kertas kosong. Selain itu, yang menarik dari pemikiran Locke adalah mengenai kesetaraan. Meskipun pemikirannya tidak spesifik tentang perempuan, tetapi dari pemikirannya inilah yang dijadikan panutan oleh feminis liberal, John Struat Mill.

Sezaman dengan hal tersebut, Revolusi Prancis juga sedang berlangsung. Revolusi ini terkenal akan jargonnya, yaitu kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Hal inilah yang memicu pengunggulan terhadap hak asasi manusia (HAM). HAM di masa ini menekankan pada hak alamiah (hak yang berlaku sejak manusia dilahirkan) dan hak terhadap perempuan.

Namun, hak perempuan tidak begitu diindahkan oleh beberapa golongan. Hal ini membuat salah seorang tokoh perempuan yang menggugatnya, Olympe de Gouger. Sayangnya, pada tahun 1793 kepalanya dipenggal karena aksinya yang dianggap memberontak. Akibatnya, pada masa itu seluruh aktivitas politik perempuan dilarang. Namun setelahnya muncul gerakan feminisme pada abad ke 19.

Keempat, Hegel dalam buku Dunia Sophie disebut sebagai filosof sekaligus anak sah Romantisme. Selain itu, ia adalah tokoh yang terkenal dengan dialektika historisnya.  Hegel merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh bagi Kierkegaard dan Marx.

Menariknya, Hegel juga turut memberikan sumbangan pemikiran mengenai perempuan. Ia mengungkapkan bahwa kaum perempuan itu lebih rendah dari pada kaum laki-laki. Hal ini tentunya menyulut amarah para feminis.

Namun, Hegel berpendapat bahwa justru itulah yang mempercepat berkembangnya feminisme. Feminis tidak mungkin bisa tinggal diam karenanya. Mereka akan bergerak dengan menyangkal dan memberontak terhadap ujaran semacam itu.

Kelima, Jean-Paul Sartre adalah tokoh eksistensialis abad 20. Sama seperti Locke, pemikiran Sartre dapat mempengaruhi salah seorang feminis, Simone de Beauvoir.

Sartre mengungkapkan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang sadar akan eksistensialismenya sendiri dan hanya mereka yang dapat memberikan makna pada dirinya sendiri. Hal inilah yang kemudian oleh Beauvoir dijadikan pijakan dari pemikirannya. Ia mengungkapkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki harus membebaskan diri dari prasangka atau ide.

Dari buku Gaarder ini, terlihat jelas sekali berbagai pemikiran filosof mengenai perempuan. Mereka tidak melulu menempatkan perempuan di kelas kedua. Namun, ada beberapa dari mereka yang mampu menghormati perempuan.