BENTENGI DIRI DARI TOXIC PEOPLE



Hidup bermasyarakat tidaklah mudah. Seseorang tidak hanya perlu memikirkan kepentingan dirinya sendiri tetapi juga kepentingan orang-orang disekelilingnya. Selain itu, ia juga dituntut untuk mentaati aturan dan norma yang telah ada di dalam masyarakat. Jika tidak, ia akan mendapatkan sanksi berupa dikucilkan.

Oleh sebab itu, penting untuk menjadi orang yang baik untuk diri sendiri dan orang lain dengan saling menghormati. Dalam hal ini, seseorang perlu mengenali dulu sesuatu yang mungkin akan memperburuk atau menyusahkan dirinya. Inilah yang sering kita sebut dengan toxic.

Toxic dapat diartikan sebagai sesuatu yang menyusahkan, mengacaukan, dan merugikan. Toxic ini juga beragam, tergantung situasi dan kondisinya. Di masyarakat, kita akan lebih sering menemui orang-orang yang menyusahkan, mengacaukan, dan merugikan baik secara fisik maupun emosional. Orang-orang menyebut ini dengan nama toxic people.

Seperti yang dilansir oleh akun riliv pada 23 Januari 2020 lalu, menyebutkan bahwa ada beberapa toxic people. Hal ini terbagi menjadi enam jenis, yaitu Si Penjatuh Semangat, Si Pemuji Palsu, Si Pesimis, Si Kritikus, Si Manipulator, dan Si Korban. Orang-orang semacam ini perlu diwaspadai dan kita perlu membentengi diri dari pengaruh mereka.

Si Penjatuh Semangat adalah mereka yang membuatmu merasa tegang, menjatuhkanmu tanpa alasan, dan tidak bisa bahagia untuk nasib baik orang lain. Tidak asing dengan orang semacam ini di masyarakat. Mereka biasanya akan menempel seperti parasit yang siap mengagalkan tujuanmu.

Si Pemuji Palsu adalah mereka yang memberimu pujian palsu, tidak memiliki empati, dan menempatkanmu dalam posisi tidak nyaman. Hal ini bisa kita jumpai ketika kalian mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh Si Toxic ini. Mereka akan berperan seolah-olah bangga terhadapmu dengan memberikan ujaran manisnya.

Si Pesimis adalah mereka yang berusaha membujukmu untuk membuat mereka merasa lebih baik, hanya peduli dengan diri mereka sendiri, dan mencoba untuk mengeluarkanmu dari impianmu. Si Toxic yang satu ini bisa hinggap di mana pun. Mereka ini hampir sama dengan Si Penjatuh Semangat, hanya saja mereka ini lebih ketara ambisius demi kepentingan dirinya.

Si Kritikus adalah mereka yang tidak mendukung keputusanmu, mengkritisi setiap perubahan yang kamu buat, dan membuatmu merasa seperti tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Hal ini sering dijumpai pada orang-orang dekat yang seolah-olah know you so well  padahal tidak sama sekali. Mereka ini biasanya berlagak perfeksionis dalam segala hal supaya semua itu menjadi beban untukmu dan menyulitkanmu.

Si Manipulator adalah mereka yang mencoba untuk mengontrol semuanya, berpura-pura menyukaimu, dan selalu ingin membuat berbagai keputusan untuk diri mereka sendiri. Mereka ini bertindak dengan cara yang halus, tidak terang-terangan. Mereka juga hampir sama dengan Si Pemuji Palsu, hanya saja mereka lebih controller.

Si Korban adalah mereka yang menyalahkan orang lain atas ketidakberuntungan mereka, terus mencari perhatian orang lain, dan suka membicarakan alasan kegagalan mereka. Kalau ini selalu tidak pernah absen dari musim ke musim. Mereka ini Si Aktor ulung yang suka sekali mendalami peran sebagai korban.

Mengenai pernyataan di atas, semua itu tidak dapat dipukul rata. Seseorang tidak bisa serta-merta mengklaim orang dengan sebutan Si Toxic atau apalah. Perlu dikenali juga motif dari tindakannya itu, apakah akan berdampak pada diri kita atau tidak. Kalau salah sebut, bisa-bisa malah diri kita sendiri sebenarnya yang toxic dengan seolah-olah menjadi korban. Inilah perlunya menjadi manusia yang kritis positif dalam segala hal.

Selain itu, seperti yang tertulis pada idntimes.com pada 20 April 2019 lalu, bahwa banyak cara yang perlu dilakukan untuk membentengi diri dari toxic people. Hal ini antara lain, yaitu tidak mudah berbagi rahasia, tahu pasti apa yang diinginkan atau tidak, mengabaikan hinaan dari mereka, tidak tertipu dengan kebaikan palsu, tidak mengikuti masalah yang mereka (toxic people) buat-buat, tidak mengikuti kebencian mereka pada orang lain, dan sanggup mengontrol emosi. Overall, semua itu perlu dilakukan dan dimulai dengan mengenali diri sendiri dan peduli pada diri sendiri dulu.