ASMA BINTI UMAYS DAN KESETIAANNYA PADA SUAMI



Bagai bunga yang begitu berharga, yang semerbaknya mengharumkan dunia. Bagai bunga langka yang harus dilindungi, yang keberadaannya sulit ditemukan atau bahkan tiada duanya lagi di dunia. Dialah Asma' bintu Umays, sahabiyat Baginda Rasul yang begitu istimewa.

Rasulullah SAW. pernah bersabda tentang empat sosok wanita shalihah yang dijamin sebagai penghuni surga. Sebagaimana sabda beliau:

“Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah Saw., Khadijah Khuwailid dan Asiyah.” (HR. Hakim dan Muslim).

Walaupun begitu, ternyata ada sosok wanita lagi yang mungkin akan membuat kita menjadi kagum padanya. Dialah Asma' bintu Umays yang merupakan wanita satu-satunya yang menikah dengan tiga laki-laki penghuni syurga (mubassyariina bil jannah), dan satu-satunya perempuan yang pernah menjabat sebagai Ibu Negara sebanyak dua kali.

Jika dilihat dari catatan riwayat, Asma' bintu umays adalah sahabiyat yang memang dekat dengan Rasulullah dan merupakan saudara perempuan dari orang-orang yang mulia. Asma' adalah saudara dari Maimunah binti Al-harits (istri Baginda Rasulullah), Samah binti Umays (istri dari Hamzah bin Abdul Mutholib), dan juga Ummu Fadl (Istri Abbas bin Abdul Muthalib).

Dia memiliki keistimewaan yang bahkan membuat Rasulullah saw. menasehati putrinya Fatimah r.a untuk belajar kepada Asma'. Istri Ja’far ini juga termasuk ke dalam kelompok Assabiquunal Awwaluun, karena termasuk hamba yang masuk ke agama Islam pada awal berkat dakwah Abu Bakar as-Siddiq.

Suatu ketika, Rasulullah berpapasan dengan menantunya Ali bin Abi Thalib. Namun tidak disangka, beliau melihat Ali dengan baju dan kepalanya yang kotor karena tanah. Bertanyalah Rasulullah kepadanya dan kemudian pergi menemui putrinya Fatimah r.a. Sesampainya disana, Fatimah pun membukakan pintu dan mempersilahkan ayahandanya untuk masuk.

“Wahai anakku, bolehkah aku menyampaikan sesuatu?”, kata Rasulullah kepada putrinya. “Tentu Rasulullah, apa yang ingin engkau sampaikan kepadaku?, jawab Fatimah. “Pergilah engkau kepada Asma bintu Umays dan belajarlah kepadanya. Sesungguhnya, ia pun adalah ahli surga”.

Setelah apa yang disampaikan Rasulullah, Fatimah r.a akhirnya pergi menemuinya.

“Wahai Asma, kedatanganku kesini tidak lain adalah perintah dari Rasulullah. Beliau memintaku untuk belajar kepadamu”, jelas Fatimah sesampainya disana. “Wahai Fatimah, lantas apa yang bisa Aku berikan kepadamu. Sedangkan sudah jelas bahwa engkau adalah wanita yang telah dijanjikan syurga oleh Allah, bahkan sudah tertera namamu dalam Al-qur’an.

Justru sejatinya Akulah yang harusnya belajar darimu” terang Asma'. “Engkau pun ahli syurga wahai Asma, itulah pesan Rasulullah padaku”. “Wahai Fatimah, apa yang dapat kuajarkan padamu? Jika membicarakan tentang kecerdasan dan ilmu, sejatinya Aku yang lebih banyak belajar darimu. Jika membicarakan tentang keturunan, tentu garis keturunanmu yang  lebih mulia.”

Setelah berfikir sesaat Asma' kemudian melanjutkan perkataannya, 

“yaa Fatimah, mungkin sekiranya ada satu hal yang bisa kuajarkan padamu. Aku adalah wanita yang selalu berusaha untuk taat dan melayani suamiku Ja’far dengan sebaik mungkin. Jika ia sedang pergi, maka aku pun selalu berusaha untuk menjaga bentuk tubuhku dengan cara mengerjakan pekerjaan rumah.

Aku pun akan menjaga dan mengajari anak-anakku dengan baik sekaligus menjaga hartanya. Jika ia akan kembali maka aku akan membersihkan badanku, memakai pakaian yang disukai oleh suamiku, dan merias wajahku secantik mungkin. Selain itu, aku akan menyiapkan makanan kesukaannya sebelum ia sampai dirumah.”

Asma juga merupakan sosok wanita yang lemah lembut, memiliki kepintaran seperti Aisyah ra, memiliki kesabaran dan ketabahan seperti Fatimah r.a, sekaligus ketaatan yang luar biasa sebagai seorang istri. Ia adalah wanita yang dengan setia mendampingi suaminya yaitu Ja’far bin Abi Thalib untuk mengarungi hidup dan berdakwah di Habasyah atas perintah Rasulullah.

Suami Asma' juga dikenal sebagai orang yang sangat lemah lembut, penuh kasih sayang, sopan santun, rendah hati dan sangat pemurah. Di samping itu, ia juga dikenal sangat pemberani, tidak mengenal rasa takut. Bahkan beliau diberi gelar sebagai orang yang memiliki dua sayap di surga dan bapak bagi si miskin.

Setelah suaminya wafat dalam perang, Asma' menikah dengan Abu Bakar as-Siddiq yang menjadi Khalifah pada saat itu. Bersama Abu Bakar, Asma' juga merupakan istri yang begitu taat kepada suaminya dan tidak pernah membantah atau berkata “tidak” pada apa yang disampaikan suami padanya. Dibuktikan ketika dalam sebuah kisah, diceritakan bahwa Asma' ingin memasak daging sesekali.

Hal itu dikarenakan semenjak Abu Bakar menjadi Khalifah, ia pun banyak mengorbankan harta bendanya untuk syiar Islam dan hanya mendapatkan penghasilan dari baitul maal. Saat itu, Asma meminta izin pada Abu Bakar untuk mencoba menyisihkan penghasilan dari baitul maal untuk kemudian ditabung dan dibelikan daging. Lalu, Abu Bakar pun mengizinkannya hingga tabungannya cukup untuk membeli sedikit daging.

Hari setelah tabungan cukup, Asma kembali bertanya kepada Abu Bakar,

“yaa Abu Bakr, apakah aku boleh membeli sedikit daging dengan tabungan yang sudah cukup ini?”. “Wahai Asma, ternyata gaji dari baitul maal lebih dari cukup untuk kebutuhan kita. Maukah kau mengembalikan uang yang kau tabung ke baitul maal? Dan mulai bulan depan gajiku akan dikurangi sebesar kau menyisihkannya setiap hari.”

Kemudian Asma' menjawab dengan yakin dan tanpa ragu, “Sami’tu wa ‘ata’tu, ya Aba Bakr”. Begitu mulianya hati Asma', walaupun dia harus hidup dengan sangat sederhana dan harus terus menghemat untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tanpa ragu ia pun taat pada suaminya, dan dengan kesabarannya ia mendampingi Khalifah dan menjadi Ibu Negara yang baik. 

Setelah beberapa tahun berlalu, dengan tabah Asma menjalani kehidupannya sepeninggal Khalifah Abu Bakar bersama putra-putranya. Tak lama kemudian, Asma' pun dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib yang tak lain adalah saudara Ja’far bin Abi Thalib. Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa setiap kali kedua puteranya, Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abi Bakar saling membanggakan ayahnya.

Masing-masing mengatakan, “Aku lebih baik dibandingkan dirimu, ayahku lebih baik dibandingkan ayahmu.” Saat mendengar hal itu, Ali berkata, “Putuskan perkara di antara keduanya, wahai Asma’.”

Kemudian ia mengatakan, “Aku tidak melihat pemuda Arab yang lebih baik dibandingkan Ja’far dan aku tidak melihat pria tua (dewasa) yang lebih baik dibandingkan Abu Bakar.”

Setelah mendengar hal itu, Ali berkata,

“Engkau tidak menyisakan untuk kami sedikit pun. Seandainya engkau mengatakan selain yang engkau katakan, niscaya aku murka kepadamu.” 

Dengan mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya, Asma’ pun berkata, 

“Dan dari ketiganya, engkaulah yang paling sedikit dari mereka untuk dipilih.”

Cerita-cerita singkat itu tentu akan membuka hati pembacanya, mengerti bahwa menjadi seorang wanita yang shalihah mungkin memang sulit. Namun, dengan kita berusaha berubah sedikit demi sedikit dan terus istiqamah melakukannya. Pastilah Allah SWT. menjadikannya sebagai akhlak yang mulia, karena walaupun manusia tidak ada yang sempurna tapi manusia masih diberikan kelebihan-Nya.