UNGKAP KRISIS SPIRITUAL PEREKONOMIAN POST INDUSTRI



Pada masa transisi dari tahun ke tahun. Dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang salah satunya adalah terciptanya berbagai macam teknologi serba modern, serba instan, segala sesuatunya dapat berjalan sesuai kemauan dan kehendak manusia. Hal semacam ini mempermudah pengguna dan sebagainya. Dengan ini manusia mampu menciptakan keharmonisan yang terjalin erat salah satunya dalam berkomunikasi.

Pada dasarnya hal ini memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing yang mana kelebihannya dapat mempermudah manusia dalam menjalankan kelangsungan hidup dan kekurangannya adalah menjadikan manusia malas serta pasif dalam bertindak, dalam menciptakan sesuatu yang baru. Lihat saja, dalam satu tempat terdapat segerombolan kalangan muda yang sedang berkumpul dan berfokus pada gadgetnya masing-masing. Karena telah terjangkit dan menjadi kebiasaan pada era ini.

Segalanya di permudah dengan teknologi yang sedemikian rupa tercipta.

Mengetahui, diberbagai sudut kota di tempat-tempat perkumpulan pemuda-pemudi kebanyakan beragam obrolan entah itu membahas masalah perpolitkan, bisnis, kelas karyawan. Jati diri yang disibukkan dengan perihal demikian tidak cukup hanya untuk bermodalan eksistensi yang terbagun atas dasar lahiriyah saja. Nah, dengan ini penulis mengaitkan keadaan diatas dengan tingkat spiritual berbicara tentang kereligiusan. Antara yang hak dan batil, lahiriyah dan batiniyah, yang tampak dan yang abstrak. Spiritual adalah sesuatu yang berkenaan dengan qalbu bersifat abstrak tidak mampu dijangkau dengan pancaindera. 

Akan tetapi ada nilai-nilai religious yang mampu diterapakan dalam kehidupan sehari-hari guna untuk memperoleh ketenangan batin serta kedekatan makhluk dengan Tuhannya. 

Dalam proses pencarian kebutuhan duniawi dan akhirat keduanya harus seimbang. Keberkahan hidup di peroleh karena mampu menyeimbangkan keduanya. Tidak bisa jika salah satunya ditinggalkan, karena kuncinya hidup sukses adalah adanya keterlibatan ikhtiar dan do’a. Maraknya hal demikian membuat siapa saja lalai akan kewajiban sebagai hamba yang menuhankan Tuhannya, memasukkan nilai-nilai keagamaan dalam upaya pencapaian kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat.

Realitanya sekarang banyak bangunan-bangunan masjid megah

Sangat disayangkan, peran pemuda yang seyogyanya menjadi generasi penerus, amat sangat jarang sekali terlihat menghuni masjid, suara adzan pun tidak terdengar di suarakan oleh pemuda sekarang. Sebagian dari mereka memilih untuk berhenti melakukan pekerjaannya ketika mendengar suara adzan berkumandang, dan sebagian dari mereka juga ada yang meneruskan pekerjaanya dan menghiraukan panggilan Tuhan. Hal ini sudah menjadi keterbiasaan yang terlatih pada setiap diri manusia.

Beberapa situasi yang menjadikan manusia itu gagal mencintai Allah, para ulama menyebutkan ada situasi yang biasanya seringkali sangat mudah memalingkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan sering sekali menjadi lubang jebakan.


Situasi tersebut sering di gambarkan oleh sejumlah tokoh ulama, ketika seseorang itu mendatangkan hartanya, mendatangkan profesinya, mendatangkan perdagangannya dimana dia ketika mendapati profesinya, dagangannya dan financial yang dimiliki.

Kemudian dia lebih mencintai itu daripada kecintaan dia kepada Allah sampai dia jatuh cinta dan mabuk dunia, lalu mabuk kasmaran dengan dunia maka pada saat itulah dia itu meninggalkan cintanya Allah. Karena dunia itu merupakan salah satu perkara besar yang sering menggagalkan perjalanan kita untuk mencintai Allah.

Oleh karena itu, penulis ingin sekali mengajak pembaca merenungi dan terus berupaya mengoreksi diri dengan melatih atau beriyadhah, Ketika mengerjakan sesuatu diiringi dengan dzikir dalam hati, senantiasa ingat untuk banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan.

Walaupun, awalnya berat dilakukan. Namun jika sudah terbiasa akan mudah dan ketika tidak melakukan akan terasa dalam diri seperti ada yang kurang. Mari kita coba bersama.