STRATEGI KIAI SHOLEH DARAT MELAWAN REZIM KOLONIAL


Peranan Kiai dalam merebut NKRI dari penjajah tidak bisa dilupakan begitu saja. Merekalah yang memberikan spirit, semangat, dan motivasi kepada penduduk Indonesia yang harga dirinya sedang diinjak-injak oleh penjajah demi menjaga NKRI. Suka atau tidak, kemerdekaan yang sudah kita rengguk selama ini merupakan hasil dari perjuangan tokoh dari Pesantren.

Pada masa penjajahan Belanda, banyak Kiai-Kiai dari Pesantren terpanggil untuk menjadi tonggak penting dalam mengikis perlawanan terhadap penjajah. Sebagai contoh misalnya Syekh Sholeh bin Umar al-Samarani atau dikenal dengan nama KH. Sholeh Darat. Ia merupakan pujangga, pejuang, dan sekaligus maha guru ulama’ nusantara yang paling diawasi oleh kolonial belanda, karena pengaruhnya begitu besar terhadap santri dan masyarakat sekitar.

“Menurut Taufiqul Hakim, kala KH. Sholeh Darat tiba di Semarang, menghadapi kolonial dengan senjata merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Sebab, Pada abad ke-19 merupakan pasca kekalahan pangeran Diponegoro. Sehingga, proses perlawanan fisik tidak ada-dan baru muncul pada abad ke-20 yakni pada tahun 1945 (Taufiqul Hakim: 2016).”

Di era KH. Sholeh Darat, kekuasaan kolonial di Nusantara sudah menyebar dari berbagai pelosok. Sementara itu, penduduk pribumi masih terkungkung dengan kebodohan, pinggiran, dan tergolong stagnan. Sehingga, kala menghadapi perlawanannya sama saja menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma. KH. Sholeh Darat memliliki inisiatif baru tentang strateginya menghadapi kolonial tanpa perlawanan fisik. Diantaranya, menggembleng penduduk pribumi melalui pendekatan tasawuf. Selain itu, ia juga menanamkan benih-benih semangat nasionalis dalam basis keagamaan.

“…..Posisi Kiai Sholeh Darat dalam konteks perjuangan kemerdekaan berada diantara gerakan revolusi fisik (era revolusi pangeran Diponegoro tahun 1825-1830) dan revolusi 1945, sehingga sangat tidak mungkin menyerang dengan menggunakan fisik (Taufiqul Hakim: 2016).”

Dalam konteks revolusi fisik era kolonial, KH. Sholeh Darat lebih fokus mempersiapkan generasi-generasi muda NKRI dalam jangka panjang demi menciptakan orator-orator baru untuk mendobrak revolusi yang didirikan oleh rezim kolonial. Kelak, pejuang-pejuang nasionalis yang dipersiapkan menjadi kontributor nomer wahid terhadap kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, diantaranya KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Kondisi yang masih terkungkung dengan cengkeraman rezim kolonial menjadikan pola fikir masyarakat membeku, dan cenderung nrimo ing pandum. KH. Sholeh Darat tidak tinggal diam, langkah awal yang dilakukannya ialah membangun semangat mereka dengan pendekatan tasawuf. Kerangka berfikirnya mendobrak kejumudan mereka begitu cantik. Ia paham betul, semangat kendor disebabkan oleh miskinnya jiwa kerohanian. Mereka sudah mengalah tanpa usaha, jiwanya telah di obrak-abrik oleh perilaku bejat rezim kolonial. Walaupun secara fisik masih hidup, jiwanya mati kelaparan. Kematian yang dimaksud mengarah kepada mati rasa, jiwa, atau hati. Sedangkan kelaparan rohani, mengarah kepada lapar jiwa akibat kurangnya mendalami dan melaksanakan ajaran perintah Tuhan.

Pendekatan yang ditawarkan-nya sangatlah rasional, karena unsur paling penting dalam diri manusia adalah kerohanian. Apabila unsur kerohanian kendor, tentu akan berpengaruh pada unsur jasmaninya. Sebelum kemerdekaan jasmani, langkah awal yang harus dilakukannya ialah memerdekakan unsur kerohanian.

Selain pendekatan tasawuf, cara yang strategis dalam menghadapi rezim kolonial ialah dengan menciptakan karya berbasis Aksara Pegon. Ditengah kekuasaan dan otoriterisme rezim kolonial, salah satu cara untuk mendangkalkan pemahaman masyarakat pribumi tentang Islam, mereka melarang penerjemahan kitab kuning dalam bentuk bahasa latin.

Hal ini disebabkan atas trauma politik yang dialami pihak kolonial dalam menghadapi serangan Pangeran Diponegoro. Perang yang menyebabkan pihak kolonial kocar-kacir, dan sempat dipukul mundur olehnya. Dengan demikaian, bentuk kehati-hatian terhadap kejadian yang menimpanya, kaum kolonial memberikan pertimbangan dan kebijakan politik, ekonomi, dan keagamaan se-intensif mungkin terhadap penduduk pribumi.

Akibat intervensi kolonial penjajah ke dalam ranah Agama yang cenderung keterlaluan, KH.Sholeh Darat langsung mengubah mindset penduduk pribumi untuk mempelajari karya-karya Islami dalam bentuk Aksara Pegon.

Strategi KH. Sholeh Darat dalam menumpas rezim kolonial, yaitu melahirkan karya-karya berbentuk Aksara Pegon, salah satu karya diantaranya ialah Majmu’at al-Sariat al-Kafiyah li al-Awam. Kitab ini secara implisit mengajarkan tentang ketaatan kepada pemerintah sepanjang tidak bertentangan dengan Agama. Sebaliknya, apabila peraturan pemerintah bertentangan dengan agama tidak perlu diikuti (usuluddin) (Abi Malikus: 2012). ”

Melalui pendekatannya, secara tidak langsung berusaha untuk mengubah ideologi rezim kolonial dengan melakukan perlawanan tanpa kekerasan. Singkatnya, perlawanan yang diwujudkanya melalui pendekatan simbolis. Aksara pegon merupakan media yang efektif untuk memasukkan nilai-nilai nasionalisme dalam bentuk idiom-idiom basis keagamaan. Bentuk dogma keagamaan yang didengungkan kepada penduduk pribumi ialah pengharaman menyerupai kaum kolonial.

Bentuk pengharaman terhadap penyerupaan kaum penjajah merupakan upaya mempertahankan tradisi dan budaya di Nusantara. Rezim kolonial telah menguasai sektor politik dan ekonomi, bahkan mulai merombak tradisi dan budaya di Nusantara. KH. Sholeh Darat tidak tinggal diam, jangan sampai tradisi dan budaya juga dikuasai oleh rezim kolonial, apabila tradisi dan budaya sampai dirombak olehnya, masyarakat pribumi akan mudah terombang-ambing. Untuk mengantisipasi hal demikian, mempertahankan tradisi dan budaya merupakan bentuk pencegahan budaya asing menerobos dan menguasai wilayah Nusantara.

Apabila ditinjau pada konteks abad-19, fatwa haram dalam bingkai agama merupakan strategi politik identitas. Artinya, ini merupakan upaya untuk menolak tradisi kaum kolonial yang mulai merambah di Nusantara. Politik identitas tidak hanya persoalan masalah tradisi dan budaya, melainkan kepentingan politik untuk mempengaruhi masyarakat pribumi agar membenci rezim kolonial. Apabila masyarakat sudah terpengaruh dengan politik identitas, maka pembangkangan untuk tunduk dan patuh kepada rezim kolonial semakin mengakar dalam jiwa mereka.

Strategi yang ditawarkan oleh KH. Sholeh Darat berhasil, ia sukses mentransformasikan Islam dengan budaya lokal. Dengan menciptakan sumber-sumber ajaran Islam dalam bentuk Aksara Pegon, masyarakat Pribumi terdogma, dan mencerna nilai-nilai Islam yang terkandung didalamnya. Dengan pendekatan keagamaan dalam basis Aksara Pegon, pihak kolonial tidak akan curiga terhadap santri dan kalangan masyarakat pribumi yang mempelajarinya. Sebab, Kebijakan pihak kolonial hanya tertuju pada pelarangan penerjemahan kitab kuning dalam bahasa latin. Sehingga, KH. Sholeh Darat dengan leluasa menggembleng mereka untuk memahami Islam melalui Aksara Pegon.

Dengan jasa yang ditawarkan oleh-nya, Islam bisa tersebar luas di seluruh pelosok penduduk Pribumi, terutama bagi kalangan pesantren. Strategi KH. Sholeh Darat dalam menghadapi kekangan rezim kolonial mendapatkan hasil yang maksimal. Dakwah yang diterapkan tidak hanya bil hal (berupa praktik dan tindakan), akan tetapi juga bil kitabah (dakwah yang dilakukan dalam bentuk karya tulis).

KH. Sholeh Darat paham betul atas situasi dan kondisi pada saat itu. Tanpa Dakwah bil hal dan kitabah, otoriterisme kolonial penjajah akan leluasa menghabisi jasmani dan rohani penduduk pribumi. Bahkan, ada yang mengatakan jika tanpa hadirnya KH. Sholeh Darat, penduduk pribumi akan sulit memahami ajaran Islam, bahkan tradisi ritual-ritual ajaran Islam akan sulit untuk dijalankan.

KH. Sholeh Darat memilki peran yang sangat penting terhadap kebangkitan penduduk pribumi. Walaupun tidak melakukan perlawanan secara vis a vis terhadap kolonial penjajah, kontribusinya membangun pola pikir, baik dari segi jasmani dan rohani mampu mengubah peradaban pemikiran yang mampu mendobrak aksi anarkis para rezim kolonial penjajah. Darinya, kita bisa belajar membangun strategi dakwah dengan basis penguatan budaya dalam bingkai Aksara Pegon. Kita juga bisa belajar bagaimana mentransformasikan nilai-nilai ajaran agama dalam bingkai tradisi dan budaya. []