SANTRI MILENIAL BERDAKWAH DENGAN MEDIA SOSIAL


by. Novi De

Perkembangan teknologi dari masa ke masa seharusnya membawa dampak positif bagi penggunanya. Media sosial salah satunya, bukan sebuah pemandangan yang baru lagi jika dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat dipisahkan dengan yang namanya media sosial. Anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orang tua semuanya mengenal yang namanya FacebookWhastApp dan Instagram.

Bukan masalah kesenjangan sosial, melainkan memang kemajuan zaman mengakibatkan penyebaran teknologi dan informasi berkembang sangat pesat. Hal ini dapat digunakan para santri sebagai ladang untuk menanam kebaikan.

Sudah saatnya santri mengambil peran sebagai aktor kreatif dalam menyebarkan agama islam. Bukan hanya di lingkungan pesantren tetapi juga menyeluruh ke pelosok negeri, karena santri adalah penjaga gawang NKRI. Santri milenial bukan hanya yang tawadhu’ memelajari kitab kuning, taat pada kyai  melainkan juga harus memiliki inovasi baru dalam merealisasikan pemikirannya dan tetap berpedoman pada karakter yang sesuai dengan jiwa seorang santri.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan We Are Social perusahaan media asal Inggris yang bekerja sama dengan Hootsuite menyatakan bahwa rata-rata orang Indonesia menggunakan waktunya 3 jam 23 menit dalam sehari untuk mengakses media sosial. Sebanyak 41 persen mereka mengaku menggunakan Youtube, 40 persen menggunakan Facebook, 40 persen menggunakan WhatsApp, dan 38 persen menggunakan Instagram.

Data tersebut secara tidak langsunhg menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi media sosial baik sebagai bahan referensi, bermain game online, mencari hiburan, maupun belajar agama dan sejenisnya. Ketika minat masyarakat besar terhadap media sosial bahkan sudah menjadikannya sebagai kebutuhan, maka peluang santri juga besar untuk memanfaatkan media sosial sebagai media dakwah secara kekinian. Ilmu yang diperoleh para santri di pesantren itu ibarat bawang.

Derajad ilmu seseorang tergantung pada seberapa banyak bawang yang ia punya dan seberapa lihai ia memasak bawang itu menjadi makanan yang lezat dan siap dihidangkan.

Santri yang berhasil adalah ia yang mampu mengamalkan ilmunya dan bisa beradaptasi dengan keadaan di tengah masyarakat. Salah satu cara mengamalkan ilmunya yaitu dengan berdakwah. Dakwah yang kreatif, inovatif, dan mengena di hati masyarakat luas. Untuk itu media sosial bisa dijadikan langkah awal para santri untuk menjalankan misinya yaitu menyebarkan kebaikan.

Berdakwah menggunakan media sosial dapat dilakukan melalui berbagai cara. Bagi para santri yang tertarik dalam dunia literasi dapat membuat blog yang di dalamnya berisi seputar pengalaman menjadi santri, bisa juga memposting tulisan yang bermuatan materi-materi kitab kuning yang sudah diajarkan oleh para kyai lalu disampaikan lagi ke khalayak umum menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Dengan begitu selain menebar kebaikan dan mengamalkan ilmu yang ditekuni, santri juga sudah berpartisipasi dalam menggerakkan semangat literasi pada semua masyarakat.

Saat ini muncul puluhan bahkan ratusan youtuber di Indonesia, bahkan beberapa Universitas memberikan kesempatan masuk universitas tersebut tanpa tes dengan syarat memiliki chanel youtube dan mempunyai subscriber yang sudah memenuhi persyaratan.

Dengan banyaknya youtuber di Indonesia, sayang sekali masih banyak konten yang berisi sesuatu yang kurang bermanfaat dan masih belum digunakan secara maksimal. Konten-konten yang tersebar kebanyakan tentang fashion remaja, kegiatan pemilik akun sehari-hari, dan tutorial make up. Para santri milenial bisa menjadikan youtube sebagai strategi dakwah dengan memasukkan konten-konten yang bertemakan islami di dalamnya.

Dalam penyampaian dakwah melalui media sosial alangkah baiknya dikemas dengan bahasa yang sederhana agar maksud yang ingin dicapai dapat tersampaikan secara utuh dan bisa dipahami oleh pengguna media sosial. Santri juga harus pandai memilah dan memilih dengan cermat informasi yang akan dijadikan bahan dakwahnya, karena banyak beberapa informasi di media sosial yang simpang-siur dan harus diluruskan kebenarannya.

Santri masa kini harus rajin mengaji juga pandai berkreasi, menyampaikan opini yang selaras dengan qur’ani, cakap dalam berpendapat tanpa mengurangi rasa hormat, mampu berinovasi dan memiliki pemikiran yang luas tanpa melupakan jiwa santri yang berkarakter baik dan ideal.