RUANG TANDUS



Geliat Kredo Diri


Tidak ada yang rela dengan apa yang pudar,

tidak ada yang rela dengan apa yang hilang,

tidak ada yang rela dengan apa yang lenyap,

karena rasa tidaklah cair yang mudah mengalir.


Apalagi jika bahagia pernah bersemanyam dalam jiwa,

mengalun menyibak surga dunia tanpa siksa berani mendera.

Kini, siapa sudi melepaskan mutiara?

Dengan tiba-tiba goncangan bumi merenggut tetapnya.


Sukma dewi semakin meronta-ronta, melihat mutiara hilang tak bertapa

Sosok hitam memitamkan pancaran mutiara

Menggeliat, menyingsing, dan semakin asing

Tersungkur dewi terhujani perasaan ini


Seakan tubuhnya semakin tak terkendali

Meraung-raung mengiringi jiwa yang berkabung

Menagis tragis maratapi detik hidup yang sadis

Dahulu pernah ada janji


Dahulu waktu pernah ada tuk bersaksi

Dahulu pernah saling memastikan diri

Namun, ternyata janji tak bersaksi untuk memastikan diri.

Remuk sudah sukma dewi


Bersua pun, tidak akan mengembalikan kredo diri

Kini, suka atau pun duka

Kredo diri sulit untuk kembali



Gelandang Haus Berkundang


Malam menyapa, menanggalkan mentari dengan kehangatannya

Di pojok kamar, diri terus melontarkan bualan

Menembus angin-angin yang tidak berperasaan

Di antara keliling bintang-bintang kubertahan dalam kesendirian

Gundah gulana, lara wirang tiada kiranya


Tepisan nafas semakin tersirkulasi kenangan yang tak tergantikan

Atas dalamnya sebuah kesalahan yang terbungkus oleh senyuman

Saat kerapuhan tak dapat kukuatkan dengan genggaman

Saat tangisan tak dapat kuseka dengan usapan


Saat ringkih belasan hanya dapat kubalas dengan langkah tergesa dan senyuman

Saat miris ocehan tak kusimak dengan perasaan

Melihat sang titipan tergerus mandiri oleh takdir yang didapatkan

Kala itu, mentari memancar keteduhan


Membakar kulit-kulit yang terbuka tanpa halangan

Hiruk pikuk manusia saling mengontaminasi kesunyian

Hilir mudik langkah kaki datang dan meninggalkan

Ada yang sebentar menyapa, sekedar membagi,


tapi banyak juga yang tak peduli bahkan segera menghempaskan diri

Sepertiku, saat hati belum mengilhami perbuatan suci

Di antara bintang-bintang kusaksikan alam yang tenang

Namun, di lubuk hati masih terpingkal-pingkal riuh penyesalan


Teringat ocehan yang sempat kuabaikan

Bahkan hanya senyum terbiaskan,

melihat sang titipan berselimutkan tipis dari tulang-tulang

dan semakin haus mesra rangkulan


Terisak pelan desakan nurani

Teringat sang titipan lunglai terabai

Mataku semakin tak malu tuk berlinang, terkenang kesalahan yang tak dapat kursi pemaafan

Andai aku lebih bijak menentukan,


tidak melulu terbelenggu jadwal yang mengungkung kebebasan

Meluangkan diri tuk melayangkan perbuatan suci

Menyisihkan sebentar dari sengatan mentari

Menggeser duka yang selalu menyelimuti hati


Andai kasurku dapat kubagi

Membagi atap yang selalu memenuhi mimpi

Mengundang kau menyelam nafas surgawi

Sedikit menyumbang kotak tawa diantara sepi


Semua tersusun dalam pengandaian ketika kita dapat berjumpa lagi

Pintaku pada malam yang mengacuhkanku, tapi selalu mengabaikanmu

Juga pada dewa yang sudi membantu doa suciku

Untukmu, semoga lekas kau temukan 

"Pinang pulang ke tampuk kebahagiaan"


__Pinggiran Blitar
Senin, 25 November 2019




Penulis:
Penulis dan Sastrawan