PESAN NENEK TENTANG CINTA


by. Zidna Nabilah


Pagi yang gelap nan dingin, jangkrik dan katak yang masih saja bernyanyi dengan kompak, bahkan lampu redup di bilik rumah kakek yang masih tetap sama. Tanpa kusadari ia berbisik kepadaku dengan lembut "Selamat datang, terimakasih telah mengunjungiku."

Tentu perasaan dan hati ini merasa sedih, namun juga senang karena bisa datang kembali. Ingin rasanya membawa rumah ini ke tempat dimana aku tinggal bersama orang tuaku sekarang. Melihat raut wajahnya yang sudah tak muda lagi, kerutan yang sudah begitu jelas terlihat, tubuh yang tidak sekuat dulu, dan ekspresi bahagia yang selalu ia tampakkan membuatku ingin mengajaknya bersama kami. Namun apa daya, ia lebih mencintai tempat yang sejak dulu menjadi tempat naungan dirinya dan juga sang kekasih tercinta. Ya, tentu ia adalah nenek tercintaku juga.

Masih terbayang dalam ingatan, saat nenek sering menceritakanku tentang kisahnya bersama kakek. Walaupun awalnya aku mendesaknya untuk bercerita, namun ia dengan senang hati mendongengkan kisah romantisnya padaku. Kata nenek cinta itu memang terjadi tiba-tiba, namun sering tidak disadari kedatangannya. Cinta itu membodohkan, hingga membuat kita tidak bisa berfikir secara rasional dan beralih menggunakan hati juga perasaan.

“Nenekmu ini bertemu dengan kakek di jalanan kota Magelang, saat itu nenek sedang berjalan kaki. Tapi, tiba-tiba ada seorang pemuda yang melihatku dengan senyum di bibirnya.” pesan nenek dengan senyum lebarnya waktu itu. “Berarti itu hanya kebetulan nek?”, tanyaku tiba-tiba. “Bisa saja seperti itu, namun mungkin saja tidak. Karena Tuhan pasti sudah menuliskan takdir pertemuan ini jauh sebelum nenek lahir di dunia”, jawabnya dengan lembut.

“Menurut nenek, apakah waktu itu kakek terlihat sangat tampan?”, tanyaku spontan (dengan tawa kecilku). Dengan menahan tawanya nenek menjawab, “Tentu saja, apalagi ketika dia memakai seragam militernya. Siapa yang tidak akan suka padanya. Kau mungkin juga akan terpesona melihatnya.” “Benarkah nek ?”, jawabku dengan tawa yang sudah lepas kendali. “haha,, tentu sayangku. Namun, ada satu hal yang mungkin ini akan terlihat agak aneh dan lucu”. “Apa nek?”, tanyaku singkat. “Ternyata nenek lebih tinggi dari kakek, apalagi sekarang begitu jelas ketika kakek mulai bungkuk. Hahaha, tapi ini rahasia.” kata nenek mencoba menyembunyikan namun dengan tawanya yang khas. Setelah itu, aku pun tertawa terpingkal-pingkal hingga perutku keram dibuatnya.

Nenek kemudian memelukku dan mulai melanjutkan dongengnya, aku pun langsung memposisikan kepalaku diatas pangkuannya. Dengan wajah yang masih dibalut rasa penasaran, aku bertanya pada nenek, “Nek, lalu apa yang membutmu menerima kakek waktu itu? Apa karena ketampanan kakek?, atau karena kakek kaya nek?, atau karena kakek begitu baik dan sopan?, tanyaku tak sabar. “Entahlah, nenek juga tidak tahu. Namun yang jelas, ketika nenek melihatnya, terasa selalu bahagia. Nenek rasa, cinta itu tidak membutuhkan alasan. Karena tanpa sadar hatimu sudah berkata padamu, bahwa kau ingin selalu bersamanya.

Apapun yang menjadi kekurangannya, nenek selalu menganggapnya tidak ada. Dan yang spesial bagi nenek, kakek adalah orang yang humoris, bagaimanapun keadaan kami waktu itu kakek selalu bisa menghibur nenek dan membuat senyumku merekah setiap waktu. Dan kamu tau cucuku?”, setelah penjelasan nenek panjang lebar.

“Apa Nek?. Aku tidak tahu apapun” jawabku polos. “Kakek adalah sosok yang besedia berjuang, apalagi untuk anak-anaknya. Kakek tidak pernah mengeluh, walau kami saat itu masih berada pada posisi yang pas-pasan. Kakek dengan sabar selalu memberiku pemahaman, bahwa memang sudah seharusnya orang tua itu berjuang agar anak mereka bisa hidup lebih baik. Begitu sayang”, seakan memberikanku sinyal untuk mencoba menjadi dewasa. “Iya Nek, aku sangat menyayangimu”, dengan memandang senyum nenek yang hangat dan memeluknya.

“Na, ayo masuk” panggil kakek kepadaku dan membuyarkan lamunanku. “Siap kek, setelah satu tas lagi” sahutku spontan untuk menutupi rasa gugupku. “Ya, ini kasurnya sudah kakek siapkan”. “Siap kakek, terimakasih”. Seketika itu, aku menghabiskan malam dengan memandang langit berbintang melalui jendela kayu milik kakek.  Malam itu langit terasa berbeda bagiku, begitu damai namun terasa ada yang kurang. Dulu, aku selalu menemukan wajah cantik dan dermawan disampingku menjelang tidur saat pulang ke Magelang. Namun berbeda dengan hari ini, aku kehilangan sosok hangat yang selalu memelukku ketika tidur dan menasehatiku untuk segera memejamkan mata. 

Kata nenek tentang cinta benar, aku juga tidak tahu kapan cinta sejatiku akan datang. Apakah dia tampan, pintar, tinggi, atau mungkin dia berasal dari keluarga yang kaya. Anggapan bahwa aku belum benar-benar mengerti tentang cinta, kurasa itu ada benarnya. Karena jika ada yang bertanya padaku tentang cinta, mungkin aku akan malu dengan sendirinya. Karena sejatinya, aku hanya memiliki keyakinan bahwa "cinta" itu begitu indah, lebih indah dibandingkan syair-syair romansa, lagu-lagu merdu, puisi romantis, atau hanya ucapan dari seseorang. Dari apa yang diceritakan nenek, sepertinya “rasa” dari  “cinta" itu lebih dari itu semua.

Apapun yang baru saja disebutkan, hanyalah sebuah cuplikan saja. Namun "rasa" akan "cinta", tentu tidak ada satupun yang bisa menjelaskan hakikat sesungguhnya dengan benar. Jika saja ada yang mampu memberitahukan apa itu “cinta”, pastilah mereka adalah insan yang sudah menemukan “cinta sejatinya”. Jadi, kita tidak perlu risau dengan siapa cinta kita. Serahkan saja pada Sang Pembolak balik hati manusia, maka dia akan menyerahkan cintamu pada yang berhak dan terbaik versi-Nya.