"MUKA" ISLAM BAGI PENGANUT AGAMA LAIN



Kenapa saya memilih judul ini? Ya, karena bagaimanapun kita mau mengatakan “Salahkan Penganutnya, Bukan Agamanya”, kenyataannya, subjektivitas adalah suatu hal yang sulit untuk disingkirkan.

Maka dari itu, saya ingin meyakinkan, bahwa kitalah “MUKA” dari Islam bagi mereka yang bukan penganutnya. Jika mereka melihat kita baik, maka mereka akan menilai Islam itu baik. Dan sebaliknya, mereka akan menilai Islam buruk, kala melihat tindak-tanduk kita tidak sesuai bagi mereka.

Bukan kuliah agama yang seringkali lebih dahulu membuat orang tertarik akan agama (dalam hal ini Islam), akan tetapi suluk penganutnya-lah yang lebih dahulu memiliki pengaruh, untuk berikutnya, lebih dalam lagi mempelajari ajaran agama Islam.

Terkisah seorang Inggris bernama Brown yang sedang mengunjungi suatu daerah di India. Saat itu, dia sedang berada di ladang. Dia kehausan. Lalu, ia melihat ada seorang petani yang membawa guci minuman. Brown pun meminta air itu kepada si petani. Si petani memberikannya, namun dengan raut muka yang sangat masam. Setelah minum, Brown berterima kasih dan pergi perlahan. Tiba-tiba …

PRAKKKK!!!

Brown menoleh karena kaget. Ternyata, guci yang tadi dia pakai untuk minum, dipecahkan si petani tadi. Namun, dia berusaha tak bergeming. Dia tetap berlalu.

Di hari yang lain, dia melewati ladang lagi, dan (lagi-lagi) kehausan. Ia melihat sesosok petani, yang lalu ia minta air untuk minum kepada si petani itu. Diberikannya guci miliknya dengan senang hati. 

Brown pun meminum air di guci itu. Dia berterima kasih, dan berjalan perlahan, sambil sesekali menoleh ke belakang. Ternyata, si petani itu membiarkan gucinya. Ia tidak memecahkannya seperti petani kemarin melakukannya.

Brown pun penasaran. Ia mencari tahu kenapa. Dan ternyata, ia menemukan jawabannya. Petani yang saban hari ia mintai minum, adalah seorang penyembah berhala, yang tidak ingin ada seorang pun selain penganut agamanya minum dari gucinya. Makanya, ketika Brown minum dari guci itu, dipecahkanlah guci itu oleh si petani.

Sedangkan petani kedua adalah seorang muslim. Dia tak pernah mempermasalahkan siapa pun yang meminta minum darinya. Dari bangsa apa pun, dan berkeyakinan apa pun. Lantas, Brown pun berpikir untuk mulai mempelajari sirah Nabi Muhammad. Merasa tak cukup, ia membaca juga Al-Qur’an dan terjemahannya, hingga akhirnya, ia memutuskan masuk Islam dan menambahkan “Abdullah” pada namanya.

Begitulah, seringkali suluk dan tindak-tanduk kita lebih mengena di hati orang lain daripada ceramah-ceramah. Dan lihat, bagaimana si petani muslim ini sukses menjadi “MUKA”-nya Islam bagi Brown, hingga akhirnya Brown pun masuk Islam.

Dan ada kisah lain dari orang muslim yang gagal menjadi “MUKA”-nya Islam, yang lantas membuat orang diluarnya yang membencinya, semakin menjadi-jadi kebenciannya. Adalah Genghis Khan, di abad ketujuh Hijriyah, membawa banyak hadiah kepada sultan penguasa Khurasan, Shah Khawarazm. Semua berlangsung baik-baik saja, hingga muncul seseorang berperangai tamak bernama Khawarazm Syam. 

Dia memiliki dua puluh ribu tentara berkuda, dan berkuasa atas Asia Tengah. Khawarazm Syam meminta izin untuk menyerang mereka dengan diam-diam. Maka, para pedagang utusan Genghis Khan ditangkap, dan harta benda mereka dirampas.

Genghis Khan yang mengetahui hal ini, marah besar. Ia pun mengirim surat untuk Shah Khawarazm, yang isinya,

“Sesungguhnya engkau telah memberikan jaminan keamanan pada para pedagang kami yang datang ke negerimu, namun engkau mengingkarinya. Padahal engkau tahu, bahwa mengingkari janji adalah tindakan yang buruk, terlebih ini dilakukan oleh seorang sultan yang beragama Islam. Jika penangkapan ini bukan atas perintahmu, serahkan pamanmu pada kami. Jika tidak, kau akan menyaksikan apa yang biasanya kami lakukan.”

Genghis Khan tak bermain-main dengan ucapannya. Kota Khurasan, Samarkand, dan sekitarnya luluh lantak oleh pasukan Tartar yang terkenal bengis dan tak tahu rasa belas kasihan. Dan pemusnahan kota ini menjadi gerbang dari hancurnya imperium Abbasiyah di Baghdad oleh penerus Genghis, Hulagu Khan.

Beginilah, betapa buruknya akhlak menjadi sebab dari kehancuran dan kebencian. Bukan hanya dibenci oleh orang di luar Islam, tapi bahkan bisa saja efeknya lebih besar; diluluh-lantakkan oleh musuh seperti Kota Samarkand dan sekitarnya.

Maka, ingatlah selalu, bahwa kita adalah dutanya Islam, di mana saja kita berada. Mari tunjukkan bahwa nilai Islam ada pada diri kita, bukan sekadar termaktub di dalam lembaran kitab-kitab, dan diajarkan di pengajian-pengajian.

Baca Juga: Buku Musalsal Qiro’ah LIPIA, dan “Sejarah Para Khalifah” karya Hepi Andi Bastoni, Lc.