MENYAPA IMPIAN SEORANG SANTRI



Apabila  berbicara  mengenai Pesantren, pasti tidak pernah lepas dari kata santri. Penyebutan kata santri di zaman sekarang selalu dilibatkan dengan pesantren, banyak interpretasi mengenai makna santri, apakah santri itu harus memakai sarung? Apakah santri harus selalu di pesantren? Apakah santri harus selalu mengikuti  Kyai? Berikut ulasan kata santri menurut saya.

Menurut saya, santri tidak hanya dipahami secara 'isim (kata benda)'. Cara pandang yang demikian seyogyanya perlu adanya dekonstruksi dari 'isim ke fi'il (kata kerja)'.

Santri dalam bahasa fi'il, tidak hanya berperan sebagai cover, akan tetapi berperan lebih aktif menuju ke arah sebagaimana mestinya berlaku dan berkepribadian. Peran santri diupayakan lebih serius dalam mengembangkan agent of change, baik secara personal maupun untuk masyarakat. Santri tidak hanya terkungkung dalam dunia pesantren, akan tetapi mengamalkan ilmu demi mewujudakan ukhuwah Islamiyah, Wathoniah, Insaniah, dan Tsaqafiah.

Santri tidak hanya mondok di Pesantren,  semua orang yang berjiwa santri dan mengamalkan nilai-nilai dari kesantrian itu sendiri, itulah santri. Seyogyanya, santri tidak hanya dipahami secara parsial, tekstual justru lebih dipahami lebih mendalam, apabila hakikat santri ialah 'khairunnas anfauhum linnas' (mampu bermanfaat bagi sesama manusia).

Peran santri tidak hanya ditamsilkan seperti ilmu padi dalam hal ketawaduan, santri juga perlu ditamsilkan seperti ilmu air untuk urusan keberfaedahan. Mengisi seluruh celah dan ruang kosong, serta adaptif terhadapnya. Lihatlah fungsi air, ia berperan dalam kehidupan,  berjasa menghilangkan dahaga, menjadi kebutuhan seluruh makhluk hidup yang keberadaannya amat bermanfaat. Meski  ia diperlakukan dengan tak wajar, sisi lembutnya pun bisa menjelma jadi monster mematikan. Meluluhlantakkan banyak hal di depannya. Santri pun seharusnya ditamsilkan seperti air. Memberi manfaat penduduk Bumi, dan mampu menyimpan kekuatan dahsyat untuk membela diri bila suatu saat diposisikan dengan tak semestinya.

Pelajaran dari ilmu padi dan air bisa mengalir dari sendi-sendi  aliran darah-ku hingga saat ini, dan bahkan (mungkin) kelak sampai mati, yaitu dorongan untuk mengaplikasikan ilmu dalam bentuk  mengabdi. Nasihat-nasihat makna kehidupan yang kerap terselip pada setiap pengajian  pagi, sore, dan malam secara eksplisit maupun sekedar tersirat, merubah mindset hidup abadi di dalam benak dan bilik memori dengan cara mendekontruksi pola pikir cara hidup.

“Santri harus memiliki peran dalam berbagai sektor kehidupan!”

Begitu kurang lebih suara yang terngiang tentang wejangan asatiz. Ungkapan kalimat simple, singkat, tapi begitu padat. Petuah itu merupakan manifestasi dan saripati dari ungkapan dalil aqli Nabi, “sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Pelajaran untuk senantiasa menata hati saat melakukannya pun secara otomatis mampu merasuk dan mengalir ditubuhku dengan baik. Implikasinya, keikhlasan mampu menjadi orietasi tiap kebaikan yang diperbuat. Memang tidak  semudah yang diucapkan, Tapi karena tingginya frekuensi pesan-pesan yang disampaikan, wajar jika jiwaku terus terdorong untuk mengupayakannya, karena hal itu sudah mengendap sejak lama di alam bawah sadar saya.

Semua hal tentang pondok pesantren membuat saya jatuh cinta. Obrolan santai bersama bapak di suatu ketika, membuat akar pohon cinta terhadap semua hal yang bersangkut paut dengan pesantren tumbuh kian kuat di dalam sanubari saya. Terlepas konten pembicaraannya sangat ringkas, ternyata ada ketulusan dan harapan besar dari perkataan bapak itu. Bapak menginginkan dari salah satu anaknya meneruskan perjuangan untuk mengamalkan nilai-nilai keislaman di kampung.

"Nak sekolaho seng duwur lan ngajio seng sregep mengko bapak bangune pesantren” yang artinya kurang lebih “Nak, sekolah yang tinggi dan ngaji yang rajin, nanti bapak akan buatkan pesantren”.

Sesederhana itu redaksinya. Tapi dampak dari kata-kata itu mampu mengobrak-abrik pertahanan jiwa saya. Hanya perasaan luluh dan sami'na wa ato'na yang muncul dibenakku atas permintaan yang disampaikan secara halus oleh bapak tersebut. Sejak saat itu, timbul satu benih impian dalam benak saya: mendirikan pesantren yang salah satu santrinya memiliki latar belakang kurang mampu dalam sektor ekonomi, namun berprestasi dan memiliki keinginan yang kuat dalam melanjutkan pendidikan (agama maupun umum).

Saat ini, saya juga belum paham dengan langkah-langkah untuk merealisasikan angan-angan yang masih melangit. Tapi saya yakin, bahwa mimpi yang masih melangit bisa bisa dibuktikan. Ikhtiar dan do'a merupakan cara yang efektif untuk mewujudkannya. Entah jalannya seperti apa. Biarlah Allah yang mengaturnya. Tugas saya terus bergerak dan menempuh jalan-jalannya.

Mengabdi di Pesantren sebagai upaya sumbangsih untuk pesantren masih saya lakukan. Dari pengalaman itu bisa tercipta peluang-peluang yang di kemudian hari bakal bermanfaat bagi terwujudnya impian mulia itu.

Beragam pelatihan dan kegiatan-kegiatan yang diikuti baik berskala lokal hingga nasional di samping berfokus pada informasi yang disampaikan pemateri, saya pun berusaha sedikit demi sedikit menyusun jaring-jaring pertemanan berkualitas. Yakin, suatu saat nanti akan bermanfaat.

Sebagai langkah konkret mewujudkan cita-cita itu, saya berisiniatif membangun sebuah kelompok mentoring berprestasi yang pesertanya terdiri adik tingkat di program studi Ilmu Pendidikan Agama Islam . Saya namai perkumpulan ini Akademi Prestasi. Tentu saja makna prestasi di sini amat luas. prestasi tidak hanya melulu soal meraih gelar juara lomba berupa hadiah uang tunai, piagam penghargaan, dan satu buah piala.

Memang hanya lima orang mahasiswa, jangkauan dampaknya amatlah kecil. Namun tidak ada kata kecil dan besar untuk mengarah kebaikan. Semuanya sangat berarti. Dengan jumlah kecil, saya optimis akan muncul sebuah iklim inovatif, produktuf,dan kontributif dengan cakupan lebih luas.

Isi forum ini berusaha melahirkan kader generasi muda yang memiliki gairah tinggi untuk mengukir banyak prestasi dan pengaruh positif bagi lingkungan di mana mereka berada. Saat ini tercatat sudah 5 kali pertemuan kami mengadakan mentoring, dari mulai pengenalan dan orientasi project, seputar Mahasiswa Berprestasi, dorongan untuk menjadi inisiator dalam beragam potensi kebaikan, mengenai semangat untuk mandiri lewat menjadi entrepreneur, dan yang terakhir materi tentang mengapa calon changes maker harus menyampaikan gagasan-gagasannya lewat aktivitas menulis.

Saya kira berangan-angan besar tanpa memulainya sedari sekarang adalah sebuah kekonyolan.

Kadang saya menyebutnya sebagai Tong kosong nyaring bunyinya. Dan untuk menghindari omong kosong, saya memilih melakukan sesuatu yang memang ditutujukan sebagai sebuah langkah nyata dalam merakit sebuah impian. Ketika mendirikan sebuah bangunan ada proses paling elementer, yakni meletakkan batu pertama. Anggaplah ini sebagai tahapan itu.

Bagi saya, sebutan santri bukan sekadar sebuah sematan tolabul ilmi yang hanya berproses di pesantren saja. Julukan santri menjadi semacam label yang menempel pada diri seseorang seumur hidupnya saat mereka memang pernah menjadi santri sebelumnya. Berbeda dengan sebutan lain seperti siswa dan mahasiswa, saya menganggap bahwa gelar santri ini tak akan pernah bertanggal, selamanya akan manunggal. Tentu dengan catatan yang bersangkutan menghendakinya. Sebab tak bisa dipungkiri, tidak semua buah pada tiap pohon tumbuh dengan sempurna. Ada saja sebagian darinya yang tidak layak konsumsi karena beragam faktor penyebab. Hal yang sama berlaku untuk alumni pesantren.

Tidak semua dari mereka konsisten dengan nilai-nilai yang telah diajarkan di pondok. Dengan berbagai dalih, mereka memilih sendiri jalan hidup berdasarkan sesuatu yang diyakininya pasca tidak lagi hidup dengan berbagai aturan di lembaga pendidikan Islam bernama pesantren. Meski terkadang keyakinan itu pada akhirnya tak selalu baik. Begitulah, pilihan hidup balik lagi ke tiap tiap-tiap individu. Sebab, mereka punya pertimbangan sendiri-sendiri berdasarkan perkara yang membuat mereka mengambil keputusan.

Kehidupan santri di pesantren mengondisikan mereka hidup dalam sistem yang mendekati ideal.

Sudah tentu standar itu menurut masing-masing penyelenggara sistem yang ada di pesantren. Sehari semalam pesantren memberikan kesempatan ibadah yang amat tak terbatas pada penghuninya. Santri terutama. Waktu rehat juga barangkali diisi dengan konten-konten kebaikan yang adakalanya tidak mengarah pada penambahan dan penguatan ilmu, akan tetapi bisa ke peluang-peluang menuju kebaikan. Entah membantu sesama kawan yang juga senasib sepenanggungan jauh dari keluarga hingga memberikan kontribusi positif terhadap pesantren tercinta lewat berbagai wujud: waktu, tenaga, dan pemikiran-pemikiran konstruktif.

Apabila setiap alumnus pesantren menyadari tentang tahap sebenarnya, menjadi santri adalah saat mereka sudah tidak lagi mondok, harusnya pembiasaan-pembiasaan yang telah dilakukan di lembaga itu tidak akan mudah ditinggalkan. Saya jadi berpikir bagaimana jadinya jika mereka membayangkan terus menjadi santri di pesantren walau kenyataannya sudah tidak lagi. Meskipun tidak ada lagi seksi keamanan yang mengontrol aktivitas para santri, mereka akan merasa terus diawasi hingga dalam pembiasaan kesekian akan menjadi sebuah karakter yang secara otomatis dengan mudahnya bisa dilakukan.

Untuk itu, Saya memberikan sebuah tawaran untuk mengajak kaum santri (baca: alumni) berimajinasi menerapkan peraturan-peraturan pondok yang detail dengan disiplin tinggi. Saya yakin semangat untuk beramal dengan giat akan terkondisikan secara maksimal. Sebelum mengajak orang lain pastilah saya mengajak diri sendiri terlebih dahulu. Itu sudah pasti. Sebab mengatakan sesuatu yang tidak diperbuat merupakan sebuah perbuatan yang dibenci oleh-Nya bukan?