MENGENALI SOSOK INEM DAN IDE GILANYA


by. Zidna Nabilah

Kenapa harus dengan nama Inem?, tanya seseorang padanya.”Karena Inem itu mengandung arti “pelayan”. Dan saya adalah pelayan bagi masyakarat Yogyakarta”, katanya dengan santai.


Sosok Inem dengan nama asli Made Diah Agustina, menjadi salah satu orang yang mengakui dirinya menjadi “Orang gila, yang pekerjaannya jalan-jalan keliling Yogyakarta”. Sosok Made ini sebenarnya adalah tokoh seniman yang sudah lama menggeluti dunia seni tari sejak kecil. Namun dengan apa yang dilakukannya ini membuat banyak orang mungkin tidak percaya, bahwa sosok Inem ini telah menyelesaikan studinya hingga S2 dalam bidang Managemen Pertunjukan, dan menjadi lanjutan dari studi S1 dalam bidang Pendidikan Seni Tari.

Wanita yang berkepribadian ramah dan humoris ini adalah salah satu malaikat tanpa sayap yang ada di Yogyakarta. Dia adalah sosok wanita hebat yang berani berdandan seperti badut, menari, dan kemudian berkeliling Yogyakarta hanya untuk berbagi banyak hal pada masyarakat. Menyapa para pedagang di jalanan, berbagi nasi bungkus, memberikan keceriaan dan hiburan, berbagi sembako, hingga mendengar keluh kesah mereka. Walaupun latar belakangnya yang berasal dari keluarga yang kekurangan, namun tak menghentikan langkahnya untuk menjadi bermanfaat untuk yang lain. Orang tuanya bekerja sebagai penjual balon udara keliling, namun didikan mereka terhadap sosok Inem ini telah menjadikannya besar hati.

Pada awalnya, wanita dengan nama asli Made ini melakukan aksi jalan-jalannya seorang diri. Namun, lambat laun ia ditemani oleh kedua anak didiknya dari sanggar tari yang dikelolanya. Mereka adalah Pinkan Palefiningtyas dan Nurma Mitzuhu Nurika. Kedua anak ini juga menjadi bukti kedermawanan dan kecintaan seorang Made kepada seorang anak sekaligus muridnya. Made memberikan beasiswa dan juga mengajak mereka untuk Nginem di jalanan kota Yogyakarta. Pinkan dan Nurma yang masih berusia belasan tahun dengan tegas menceritakan, bahwa mungkin banyak orang yang enggan melakukan hal bodoh seperti ini, menari dengan wajah seperti badut, kemudian berjalan-jalan menelusuri jalan untuk menghibur setiap orang, tentu tidak sembarang orang mau melakukannya.

Apalagi jika ia adalah seseorang yang berpendidikan dan sudah mapan dengan pekerjaannya, seperti halnya Made. Semua berawal ketika Made merasa bahwa menjadi dosen selama empat tahun itu, ternyata telah menyita banyak waktunya sehingga urusan rumah dan anak-anak kurang diperhatikannya. Dengan alasan itu, muncullah ide gila “Inem” di kepalanya. Saat pertama kali, Made mengaku bahwa ia belum menyampaikan keinginannya itu kepada orang tua. Pada akhirnya, ia berangkat menuju Malioboro dan melakukan aksi jalan-jalannya dengan berbekal nekat. Sesaat setelahnya, fotonya menjadi viral dan membuat ayahnya terkejut mengetahui tentang aksi uniknya tersebut, yang pada akhirnya membuat Made harus menjelaskan secara lengkap pada orang tuanya.

Tidak kapok dengan hal itu, ternyata ia melakukan hal yang sama kepada suami tercintanya, ia juga tak katakan secara jelas apa yang akan ia lakukan saat berpamitan. Dia hanya berkata, bahwa ia memiliki tugas yang harus dilakukannya. Beberapa hari setelahnya, Made pun akhirnya menceritakan secara panjang lebar pada suaminya, dan membuat suami tercintanya berpesan “aku tak masalah dengan apapun pilihanmu, yang terpenting jangan jadikan ini sebagai ladang bisnis dan mencari profit saja. Melainkan benar-benar untuk memberi manfaat pada yang lain”. Setelah perasaan lega didapat oleh Made, ia pun berhenti menjadi dosen dan melanjutkan ide gilanya menjadi “Inem”.

Lambat laun, ia semakin dikenal dan kecaman sudah tidak sesering ketika awal ia memulai aksinya. Saat itu, mulai banyak orang yang mengirimkan inbox dan memberitahukan informasi mengenai orang-orang yang pantas mendapatkan uluran bantuan. Awalnya, Made berniat untuk tidak menerima bantuan apapun untuk berbagi. Namun apa boleh buat, dengan semakin banyaknya masyarakat yang ia jangkau, tentu tidak bisa hanya mengandalkan dirinya.

Pada akhirnya, ia bekerjasama dengan pihak kitabisa.com menyalurkan dana bantuan. Tidak hanya itu, sosok Inem ini juga tidak segan untuk menjual kaos yang dipesannya di penjahit sederhana untuk dijual. Keuntungan yang didapatkan, tentu digunakannya untuk berbagi dengan masyarakat Yogyakarta sekaligus untuk memberikan rezeki pada sang penjahit.

Sosok “Inem si Gila” ini, harusnya mampu menyadarkan kita bahwa untuk berbuat baik tentu ada banyak cara melakukannya. Tidak perlu menunggu orang lain berbuat baik pada kita, namun kitalah yang sebaiknya menjadi pelopor kebaikan itu. Karena sejatinya, Allah berfirman dalam Q.S. Al An’am, yang artinya “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya”.

Bahkan mudahnya Allah swt. memberikan jalan bagi hambanya yang ingin mendapatkan kebaikan dan pahala disisi-Nya. Lalu, untuk apa menunda untuk menjadi baik. Berbuat baik itu tak perlu membayar apapun, baik juga tak perlu menunngu kita menjadi baik lebih dulu, dan baik bukan hanya bagi mereka yang saleh saja. Namun setiap manusia diberikan kesempatan yang sama untuk berbuat baik, dan Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik.