MEMAKNAI KEBERAGAMAN DI PONDOK PESANTREN ASWAJA NUSANTARA YOGYAKARTA




Secara historis keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia, pesantren jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang lainnya merupakan sistem pendidikan tertua yang dianggap sebagai produk budaya indonesia yang indigenous.

Pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di nusantara sekitar abad ke-13. Sebagian literatur menyebutkan perkembangan pesantren khususnya dijawa, sudah lama dikenal masyarakat lebih dari 500 tahun silam.

Ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim memperkenalkan pondok pesantren di daerah Gresik. Namun demikian keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan belum banyak diketahui secara mendalam, meskipun kini telah tumbuh besar ditengah-tengah masyarakat indonesia. Beberapa abad kemudian, penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian (panggon ngaji).

Pengertian Pesantren menurut Dhofier berkaitan dengan santri yang mendapat awalan Pe dan An, yang berarti tempat tinggal santri, sedangkan kata santri sendiri menurut C.C Berg berasal dari kata Shastri yang diambil dari bahasa India yang bermakna  orang-orang yang mengetahui kitab-kitab suci agama hindu atau seseorang sarjana ahli kitab-kitab suci Hindu.

Dalam arti sempit santri bermakna, seorang pelajar sekolah agama yang bermukim disuatu tempat yang disebut pondok pesantren. Sedang dalam arti yang lebih luas dan lebih umum kata santri mengacu identitas seseorang  sebagi bagian dari varian komunitas penduduk jawa yang menganut Islam secara konsekuen, yang sembahyang dan pergi ke masjid hari jumat dan ibadah ritual lainnya.

Perspektif historis menempatkan pesantren pada posisi yang cukup istimewa dalam khazanah perkembangan sosial budaya masyarakat indonesia. Abdurahman Wahid (Gus Dur) menempatkan pesantren sebagai subkultur tersendiri dalam masyarakat indonesia. menurutnya, terdapat kurang lebih lima ribu pondok pesantren yang tersebar di 68.000 (Enam Puluh Delapan Ribu) Desa merupakan bukti tersendiri untuk menyatakan sebagai sebuah subkultur.

Bertolak dari pandangan Gus Dur tersebut, tidak terlalu berlebihan jika pesantren diposisikan sebagai satu elemen determinan dalam struktur piramida sosial masyarakat Indonesia. Adanya posisi penting yang disandang pesantren menuntutnya untuk memainkan peran penting dalam setiap proses-proses pembangunan sosial, baik melalui potensi pendidikan maupun potensi pengembangan masyarakat yang dimilikinya.

Seperti dimaklumi, pesantren yang selama ini dikenal dengan fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang memiliki misi untuk membebaskan peserta didiknya (santri) dari belenggu kebodohan yang selama ini menjadi musuh dari dunia pendidikan secara umum. Pada tataran berikutnya, keberdayaan para santri dalam menguasai ilmu pengetahuan dan keagamaan akan menjadi bekal meraka dalam berperan serta dalam proses pembangunan yang pada intinya tiada lain adalah perubahan sosial menuju terciptanya tatanan masyarakat yang lebih sempurna.

Beberapa peneliti barat telah menyinggung masalah pesantren seperti Geertz (1963) melihat pesantren sebagai bagian dari proses modernisasi masyarakat Islam.

Penelitian Geertz (160,1981) lebih mengamati tentang pesantren sebagai sumber terbentuknya varian santri dengan segala nilai-nilainya didalam masyarakat jawa. Adapun Adapun ciri utama pesantren sebagai lembaga yang bertujuan mencetak kader-kader muslim agar supaya menguasai ilmu agama (tafaqquh fi al-din) secara mendalam, mampu menghayati dan mengamalkan ilmunya semata-mata karena Allah SWT dan dilakukan dengan penuh keiklasan.

Keindentikan pesantren yang padat dengan kegiatan ngaji, dan telaah ilmu-ilmu agama membuat kesan pesantren yang ekslusif terhadap persoalan hidup.

Seolah ingin mendobrak gaya santri klasik, Pondok Pesantren Aswaja Nusantra yang di pimpin oleh Kiai Mustahfid, tidak hanya menanamkan nilai-nilai religius, tapi keterbukaan pondok dengan komunitas lain juga ditanamkan sejak dini. Maraknya faham radikalisme yang meracuni anak muda telah menjadi fokus tersendiri bagi pesantren ini dalam memahami keberagaman.

Krisis moral yang melanda umat beragama di Indonesia akhir-akhir ini memberikan isyarat bahwa menurunnya kualitas pemahaman tentang agama dan memahami agama yang terkesan  tekstual tanpa memahami kultur ke Indonesiaan yang plural. Pesantren aswaja nusantra berusaha mengakomodir kebaharuan zaman dengan membekali santri melalui berbagai pelatihan yang menunjang shof skill. Selain dibekali dengan berbagai pelatihan seluruh santri juga digembleng dan diharuskan melek  dengan wawasan kekinian, budaya membaca, diskusi secara akademik dan tetep mempertahankan budaya klasik ngaji bandongan dengan makno utawi iki iku tentu hal ini yang membuat berbeda dari pondok-pondok lainya.

Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik seperti Demokrasi, Pluralisme, HAM, Gender dan segala macam keilmuan yang lain. Karena membangun peradaban yang besar dipondok pesantren tidak bisa dilakukan secara instan.

Maraknya tawaran dan diskusi seputar pengembangan pesantren dalam rangka mengembangkan kualitas sumber daya manusia (human resources) merupakan isu aktual dalam arus perbincangan kepesantrenan saat ini. Tentu hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari realitas empirik keberadaan pesantren yang terkesan ndeso, kolot serta kurang mampu mengoptimalisasikan potensi yang dimilikinya.

Menurut (Saefudin Zuhri yang dikutip Marzuki Wahid) setidaknya terdapat dua potensi besar yang dimiliki pesantren yaitu potensi pendidikan dan potensi pengembangan masyarakat.

Dalam rangka menjawab pernyataan di atas, sistem pesantren asuhan Kyai Mustafid ini terus mengoptimalkan potensi santri dengan berbagai kegiatan yang terus mengasah jiwa kemandirian serta mampu beradabtasi dengan keadaan jaman, pada kesempatan ngaji subuh penulis ingat betul pesan beliau,

“Santri itu jangan hanya pinter ngaji saja shof skill yang lain harus juga dikembangkan, era milenial menuntut setiap individu untuk kreatif, inovatif  tangguh dan berjiwa pemimpin jika masih bertahan dengan gaya lama yang serba santai pasti akan lenyap dan terpinggirkan”.

Seperti yang telah disinggung di atas, Pondok Pesantren Aswaja Nusantra memahami toleransi bukan hanya membiarkan keyakinan agama lain untuk hidup melainkan juga bersikap akomodatif terhadap aspek kultural. Dengan demikian, keberadaan pesantren mampu diterima oleh masyarakat sekitar karna mampu membuka ruang-ruang dialog dengan kebudayaan masyarakat lokal. Akulturasi dan asimilasi terhadap budaya lokal sangat diprioritaskan oleh pesantren demi terjaganya keutuhan tradisi tanpa menghilangkan semangat dari nilai-nilai ke-Islaman. Keberadaan Pondok Pesantren Aswaja Nusantara adalah bukti kelanggengan Islam nusantara sebagai karakter tersendiri perkembangan Islam diindonesia.

Menurut Azumardi Azra yang dikutip dari penelitan Zainal Arifin dan Yu’timaalahuyatazaka, Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigensasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di indonesia.

Masih dalam penelitian Zainal Arifin dan Yu’timaalahuyatazaka Pesantren Aswaja memandang pluralisme bukanlah pluralisme yang dimaknai secara teologis-metafisik, melainkan pluralisme yang dimaknai secara sosiologis, yakni dengan mengakui keberadaan agama lain di luar agamanya sendiri. Namun, sekali lagi Pesantren Aswaja masih tetap kokoh dengan memegang teguh prinsip bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang paling benar.

Dengan demikian bahwa Pesantren Aswaja Nusantara tetap eksis dengan semangat pluralisme dan menjaga kerukunan antar pemeluk agama lain sebagai gambaran bahwa keberagaman diindonesia adalah hal yang patut untuk dijaga demi terbentuknya tatanan baldatul toyyibatub warobbun ghofur.