KIERKEGAARD: TIGA TAHAP KEHIDUPAN MANUSIA

ad+1


Di zaman yang serba instan ini, sebagian besar orang lebih suka menikmati kehidupan dari pada memikirkan maknanya. Hal dasar seperti ini saja jarang dipikirkan, apalagi perihal tahapan kehidupan, mungkin sekali untuk diabaikan. Bukankah yang terpenting dalam hidup adalah menjalaninya? Namun, seorang filosof satu ini begitu tertarik mengenai tahap kehidupan manusia. Ia adalah Kierkegaard.

Kierkegaard filosof asal Denmark yang lahir pada 1813. Mashur dengan nama lengkap Soren Kierkegaard, kerap disebut-sebut sebagai tokoh eksistensial. Yang mana ia lebih menekankan perlunya menampakkan keberadaan subjek dalam realitas.

Oleh karena itu, Kierkegaard mencetuskan tiga tahap dalam kehidupan manusia. Yang mana tahapan ini menekankan bahwa seseorang akan menuju pada tahap yang lebih tinggi. Tahapan ini dimulai dari tahap estetika, tahap etika, hingga sampai pada puncaknya, yaitu tahap religius.

Pertama, tahap estetika adalah tahap yang dicirikan di mana hidup hanya tentang kesempatan untuk menikmati sesuatu. Hidup dapat dikatakan baik jika memuaskan, indah, atau menyenangkan. Sedangkan, hidup yang buruk adalah hidup yang membosankan.

Dalam buku karangan Jostein Gaarder, Dunia Sophie, tahap estetika dicontohkan tentang kehidupan yang dialami pada masa Romantisme. Yang mana pada masa ini kental sekali dengan kesenian atau budaya yang lebih mementingkan perasaan semata.

Kalau di modern ini masa Romantisme bisa dilihat pada masa kanak-kanak. Karena pada masa ini, mereka hanya mau melakukan apapun yang mereka senangi, seperti membeli jajan, bermain, menggambar, dan sebagainya. Bahkan mereka akan menangis jika melakukan sesuatu yang tidak mereka senangi, seperti dipaksa untuk belajar, sekolah, makan, dan sebagainya.

Bukan hanya itu, kita juga bisa melihat tahap estetika ketika seseorang merasa egois. Jadi, yang dipikirkan hanya kesenangan atau kepuasannya. Mereka bahkan enggan untuk tahu akan batasan atau alasan dalam kesenangannya ini.

Kedua, tahap estetik adalah tahapan di mana hidup dicirikan dengan kesungguhan dan kemantapan dalam bertindak yang bermoral. Karena pada tahap ini yang paling penting adalah mempunyai pendapat mengenai apa yang baik dan buruk. Tidak lagi seperti tahap sebelumnya yang hanya tahu apakah sesuatu itu menyenangkan (baik) atau membosankan (buruk).

Hal tersebut dapat diamati pada seseorang di usia remaja menuju dewasa. Kesenangan atau keburukan bukan hanya dimengerti, tapi mereka tahu batasan dalam menikmatinya. Karena mereka tahu akan konsekuensi yang dilakukan ketika melanggarnya. Tentu saja hal ini akan bersinggungan dengan moral.

Terakhir, tahap religius adalah tahap yang digadang-gadang sebagai lompatan ke dalam jurang iman. Di mana seseorang akan lebih memilih keimanan dari pada kenikmatan dan tuntutan-tuntutan moral. Kierkegaard mengungkapkan bahwa tahapan ini adalah satu-satunya jalan menuju pengampunan.

Hal tersebut dapat diamati pada seseorang di usia dewasa menuju tua. Jangankan kesenangan dan keburukan, yang mereka inginkan hanyalah pengampunan Tuhan. Semakin tua usia, akan semakin ingat pula kehidupan di akhirat kelak. Jadi, bisa dibilang bahwa masa ini adalah masa taubat.

Berdasarkan pernyataan di atas, memang semua tidak dapat dipukul rata. Namun, sebagian besar dari mereka pasti pernah melihat fenomena seperti halnya di atas. Biasanya ini dianggap lumrah bagi masyarakat dan bahkan kerapkali tidak disadari oleh individu itu sendiri.

Selain itu, sebutan tahap kurang pas jika berkaitan dengan kehidupan. Gaarder mengungkapkan bahwa itu bukanlah tahap kehidupan melainkan bentuk kehidupan. Hal ini lebih cocok digunakan karena bisa saja orang hidup pada tahap kehidupan yang sama sepanjang hidup mereka. Sekali lagi, tahap kehidupan tidak dapat dipukul rata.

Bisa jadi pada masa dewasa menuju tua, seseorang tetap pada kesenangannya pada suatu hal, tidak melulu tentang pengampunan Tuhan.

Pada dasarnya memang penting sekali tahu tentang berbagai tahap atau bentuk kehidupan. Tapi jika terpaku pada tiga tahapan itu, individu akan terkonstruk dan jatuhnya akan stagnan. Jadi, lakukan apapun yang sekiranya cocok untuk diri. Karena hanya diri individu yang tahu akan dirinya sendiri.