KABURNYA SEJARAH KITA



Berkali-kali dalam bukunya, baik Jihad Turbani dalam “Mi’ah Udzama Ummati al Islam Ghayyaru Majra Tarikh” dan ceramah-ceramah intelektual DR Musa Syarif, disebutkan bahwa; ada pihak yang berusaha mengaburkan sejarah Umat Islam hingga runtuhlah kepercayaan diri kaum Muslimin. Sebab jika sejarah kabur, kita akan bertanya-tanya; siapa nenek moyang kita, pahlawankah dia, ksatriakah dia, penggulir sejarahkah dia?

Ya, kita dibuat lupa, akhirnya kita benar-benar lupa. Maka saya coba buktikan salah satu statement Jihad Turbani. Beliau menuturkan dalam buku sejarah madrasah-madrasah bangsa Arab, ada bab khusus yang mengisahkan kekhalifahan Utsmaniyah. Namun sayang, dengan nada sinis bab itu berjudul “Masa Penjajahan Turki atas Arab”, bukan “Masa Emas Kekhalifahan Utsmaniyah.” Kemudian menggunakan kata “ihtalla” bermakna menjajah daripada kata “hakama” yakni memimpin.

Dalam buku ‘An Nawazil fi Tarikh Al Islam’, DR Fathi Zagrut mengisahkan masa-masa sebelum bencana keruntuhan Kekhalifahan Utsmani, “Yahudi mengibas-ibaskan tiupan kebencian kepada Arab dalam dada orang Turki dalam satu sisi, sedangkan di sisi lain juga mengobarkan kebencian pada Turki dalam dada orang Arab”, hal ini menjadikan kebencian yang  mengkristal  dan diabadikan dalam buku sejarah mereka.

Akibatnya, kita melihat berpuluh negeri umat Islam berpecah, hanya karena kita salah memahami benang merah sejarah kita nan agung. Akhirnya sampai kini, banyak bangsa Arab membenci Turki, India tak sadar mereka berjaya di masa keislamannya, orang Spanyol seenaknya mengklaim kemajuan peradaban mereka karena Alfonso atau Isabella, bukan karena Abdurrahman Ad Dakhil atau Al Mutawakkil bin Aftasy dan umat Islam. 

Sejarah yang kita baca, seenaknya mencantumkan Christopher Colombus sebagai penemu Benua Amerika, padahal ia tak lebih dari pelaut kesasar yang berniat mencari India. Sedangkan Kapten Muslim kita; Piri Reis sejatinya penemu -bahkan- telah memetakan Amerika seluruhnya dengan cermat sebelum kedatangan Colombus.  Ada “keretakan” dan “benang putus” yang harus kita rangkai kembali untuk melihat sejarah kita sebagai Umat besar yang legendaris.

Engkaulah bagian dari Umat, pemilik ksatria yang tak pernah kalah bertempur, anak cucu pelaut handal yang memetakan dunia bahkan sebelum Eropa mulai berlayar. Keturunan ilmuwan besar yang mengukur diameter bumi secara tepat ketika dunia masih meyakini bumi berbentuk meja. Begitupula Indonesia kita, tidak lepas sejarahnya dari pihak yang ingin membuat kita amnesia masalalu. Sejatinya tidaklah tepat untuk memisahkan bab “Sejarah Kemerdekaan Indonesia” dan “Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia”, karena keduanya adalah kesatuan yang saling beriringan takkan terpisah.

Ini tadabbur singkat kita, mari untuk tidak menilai sejarah sebatas angka dan nama-nama usang, mari pula untuk tidak memandangnya sebagai ilmu melihat kenangan dan bias-bias masalalu yang dramatis untuk jadi bahan tangisan. Sejarah adalah satu cara bagi kita membaca hari ini, untuk kemudian memetakan masa depan. Sejarah juga membuatmu menjadi insan yang “tidak kagetan” melihat fenomena dunia, sebab kamu akan tahu bahwa sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru di bumi ini.


“Sejarah itu mengulangi dirinya sendiri” _Toynbee. 


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu untuk hari esok”, Al Hasyr ayat 18.