HIDUP DALAM CANGKIR



Satu Introvert yang hendak mematikan diri, membisu ditengah kesunyian diatas keramaian semu, memandang kearah cakrawala dengan tatapan mata busuk, menghancurkan kehidupan dengan cara melaknat diri. Kamu adalah makhluk kecil tak bernilai, menjadikan dirimu babu di bawah segala babu. Mengerti dikala duniamu memang sempit, sesempit satu kedipan mata yang menyebabkan kematian. 

Siapa aku?, sejenak merenung “Dunia penuh sampah dari system yang tersusun rapi, mulanya individu membentuk suatu ekosistem berbasis hierarki, bermain peran sebagai karnivora terbentuk sebuah image sangar dan positive, sang herbivorapun hanya pasrah atau akan mengorbankan salah satu dari kelompoknya asal mereka selamat. 

Ekositem yang secara sengaja mempromosikan kefeodalannya, bahkan aspek terkecil sampai sel kehidupanmu, peranmu sebagai pecundang hanya akan mengotori dunia mereka, kamupun berfikir “Jiwaku bagaikan bunga yang membusuk dalam raungan sang MC,  mendapat bagian dengan peran figuran, adakah yang salah dalam alur sistem kehidupan?, sehingga tak dapat hidup di tengah keramaian, dan tak pula mati dalam kesunyian. 

Ambigu dari sang penghayal mulai menusuk jiwamu, bergerak sebagai main character yang sesungguhnya, keopinian dalam me-reset waktu, engkaupun bisa memperbaiki peranmu, sekali lagi hanya kepalsuan hayalanmu. Duniamu penuh dengan komedi yang menyesatkan dirimu, mulai merenung jauh dalam fikiranmu “Dewa Komedi memasang wajah sumringah dalam raut tubuhmu, Dewi Kesedihan memasang ranjau dalam hatimu. 

Dewa Tidur memanggilmu dengan lantunan Lacrimossa dalam mimpimu, Hidup!? Apakah aku benar adanya, seolah terkejut akan adanya dirimu di dunia ini, apakah aku pantas hidup? Seolah memasang angan pesimis dalam ritme alur dunia yang engkau tinggali, kenapa aku bisa ada dalam kumpulan sampah? Seolah menanyakan ke Dewi keadilan, kemanakah Fiat Justitia Ruat Caelum-mu ini? Bagaimana bisa aku jalani hidup dari sengkumpulan sampah yang memenuhi duniaku? Kata lain jika engkau kehilangan kepercayaan dari ekosistem berbasis sampah feodal, dan aku adalah? Kau hanya sebagian kecil kotoran yang tertimbun dalam banyaknya sampah. 

Sesuai angan abstrakmu, pecundang tak bisa hidup lagi dalam rotasi ritme kehidupan, saat sampai di satu titik dengan gumaman hati yang busuk, engkau ingin menyampaikan B******n, B*****t, J****k, K***k, K*****g, F**k, M***o, Yarrrrrriman! Kepada Dewa Agung, dan posisimu adalah? Yah, aku hanya seorang figuran, menuai keberkahan dalam bayangan, menuai kegembiraan dalam kesunyian, menuai dosa dari keramaian, menopang kehidupan dari kesepian, yang terjebak dalam lorong pesimistis pintu dunia.

Melihat cahaya-pun tak mampu, hingga suatu detik, kamu merasakan kejanggalan hati, hanya satu benang yang terlihat  dalam matamu, tanpa sadar meraba melihat ujungnya, detik yang mengungkap “Kebenaran” titik balik dunia, menopang keromantisan jagad, tak pernah kamu melihat benang yang melilit dalam jiwa yang lembut. Kasih yang membawamu pergi ke ujung perjalanan, sisi lain dari pojok dunia, keheningan adalah kebahagian, air mata adalah kegembiraan, kebisingan adalah keharmonisan, menemukan cinta adalah secercah cahaya ketenangan. 

Terkadang Dewa Romantic Comedy memberikanmu tawa dengan cara memberikan alur kebahagian dan kesedihan secara bersamaan. Alur sebuah cerita yang mengikuti arus perjalananmu, saat Dewa Pemandu memberikan sebuah kompas, tetkala kamu bertanya, apakah aku hidup? Dewa keberkahan memberimu pancaran mata yang melihat cakrawala, itu sudah cukup. 


Dibalik rindu sang kasih kamu melihat gantungan benang simpul, dunia ini penuh canda tawa karna adanya Dia, sang Dewa Agung yang memasukkannya dalam system kehidupan, J****k, That’s is Amazing B****t!” Sesaat kegelisahan untuk mengubah dunia dari masalalu terlanjur memenuhi fikiranmu, sang waktu memberikan petunjuk dalam goresan kertas cinta, kamu tak bias me-reset waktu, tapi kamu bisa me-reset keadaan. 

Ambigu bukanlah hanya sebatas ambigu, ambigu bisa berarti realitas kehidupan, sebuah makna yang tak jelas? Peranmu memang tak jelas, begitu juga jiwa-jiwa diantara-mu, begitu juga kehidupanmu, dunia ini memang tak jelas, dari ketidak jelasan engkau bisa menemukan kebebasan, tak peduli siapa figuran, siapa Main Character, kau bisa jadi MC dalam kisah figuran disaat sang MC hanya sebatas figuran dalam kisah figuran, that is your world dude!! that is your story dude!.” 

Seorang pecundang tak mempunyai story di dunia feudal? Apakah hanya sebuah titik kecil dari sekian banyak goresan? Aku ingat bahwa di berkahi tawa, tunggulah dalam sepimu, biarkan mereka saling menghancurkan, biarkan mereka saling mengutuk, sembari kamu melihat kebusukan mereka, saat langit runtuh tertawalah diatas penderitaan mereka, menginjakkan kaki dalam kesengsaraan mereka, bahwa aku adalah titik kecil yang bisa menjadi lingkaran, bahkan persegi, bahkan jajargenjang, bahkan kubus, bahkan 3 dimensi, aku berdiri diatasmu b*****t!.

Karena aku bisa jadi apa yang kuinginkan, bukan cuma goresan tanpa arah dan tanpa alur, titik yang mengerti bahwa Aku adalah Dia, Dia adalah Aku.” Ditemani jingganya sore dan ruai keheningan senja menemukan makna yang tersembunyi dari sesruput air pahit seharga Rp. 3000,00-an.